Arina.id -- Rangkaian serangan bom yang dilancarkan militer Israel ke wilayah Gaza pada 2 pekan terakhir, diperkirakan sudah memaksa hingga 280.000 warga Palestina kembali mengungsi. Mereka kembali memenuhi lokasi penampungan yang sangat tidak layak.
Informasi tersebut diungkapkan oleh Kantor PBB bidang Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA), pada Kamis (3/4/2025) lalu.
PBB menyebut bahwa militer Israel kian sering melakukan serangan bom serta perintah kepada warga untuk mengungsi meninggalkan rumah-rumah mereka.
"Semakin banyak warga yang pindah ke tempat penampungan yang tersisa, yang sudah penuh sesak. Gigitan kutu dan tungau dilaporkan menyebabkan ruam kulit serta masalah kesehatan lainnya," terang pihak OCHA, dikutip dari Antaranews.
Menurut badan kemanusiaan PBB tersebut, kondisi para pengungsi kian bertambah buruk mengingat adanya blokade yang juga dilakukan oleh pasukan Israel.
Mereka menjelaskan bahwa PBB dan para mitra kemanusiaan terus memasok kebutuhan besar para warga di Gaza, selama kondisi memungkinkan.
Akan tetapi blokade selama hamper sebulan terakhir membuat bantuan kemanusiaan kian sulit masuk ke Gaza. Sementara persediaan di wilayah tersebut kian menipis.
Namun demikian OCHA menjelaskan para mitra organisasi kemanusiaan setidaknya mampu menyalurkan hingga 900 ribu porsi makanan tiap hari.
Disebutkan bahwa sampai saat ini rakyat Palestina yang menjadi korban pembantaian pasukan Israel sejak 7 Oktober 2023 lalu, sudah menyentuh lebih dari 50 ribu orang dan 115 ribu luka-luka.
Sejatinya jumlah tersebut diprediksi masih lebih besar lagi, mengingat banyak korban yang belum diketahui keberadaannya. Jasad korban yang masih tertimbun dalam reruntuhan bangunan diperkirakan banyak yang belum terdata.
Sementara itu Ahmed Aboul Gheit selaku Sekretaris Jenderal Liga Arab mengecam Tindakan Israel yang dianggap sudah banyak melanggar aturan internasional.
Pasukan Israel masih terus melakukan pengeboman di wilayah Gaza, Lebanon, serta menduduki Sebagian Suriah.
Pasukan Israel sudah terang-terangan melakukan invasi terhadap wilayah negara berdaulat, namun tidak mendapat tanggapan tegas dari dunia internasional.
"Tampaknya mesin perang Israel tidak mau berhenti, selagi para pemimpin penjajah bersikeras menghadapi krisis internal mereka, dengan mengekspornya ke luar negeri, dan situasi ini menjadi jelas bagi semua orang," kata Aboul Gheit.
Editor:


