Messi Ungkap Kekecewaan dan Sakit Hatinya yang Dalam Setelah Kalah di Final Piala Dunia

Messi Ungkap Kekecewaan dan Sakit Hatinya yang Dalam Setelah Kalah di Final Piala Dunia

Arina.id-Kompetisi sepak bola akbar sejagat, Piala Dunia 2026 di Amerika dan Kanada, selesai sudah. Pertandingan puncak final mempertemukan dua negara dengan tradisi sepakbola jempolan: Spanyol vs Argentina. Hasilnya, La Furia Roja (Spanyol) mengalahkan La Albiceleste (Argentina) dengan sekor 0-1 dalam drama perpanjangan waktu setelah 90 menit bermain tanpa gol pada Minggu, 19 Juli 2026.

Dua hari setelah kekalahan di MetLife Stadion New York Amerika itu, Lionel Messi, kapten Tim Tango, rupanya masih belum bisa move on. Ia mengungkapkan kekecewaan setelah timnya gagal mempertahankan juara setelah dikalahkan Tim Matador--julukan lain Spanyol. Melalui akun Insagramnya (IG) @leomessi, ia curhat tentang sakit hati mendalam yang butuh waktu untuk sembuh setelah kekalahan tersebut.

"Rasa sakitnya sangat dalam, dan luka ini membutuhkan waktu untuk sembuh. Tetapi saya juga berpegang teguh pada semua hal baik... Pertandingan-pertandingan yang kami menangkan dengan memberikan yang terbaik—momen-momen yang akan tetap terukir dalam ingatan kami selamanya—dan dukungan dari seluruh negeri yang, dikombinasikan dengan kerja keras dan upaya tim ini, membawa kami kembali ke jajaran elite dunia sekali lagi. Sulit untuk sepenuhnya menghargai pencapaian kami saat ini, tetapi tim ini mencapai dua final Piala Dunia berturut-turut."

"Terima kasih dari lubuk hati saya atas setiap ucapan dan pesan. Sekali lagi, kami berhasil bersatu sebagai sebuah negara dan berdiri bersama, berbagi kebanggaan yang luar biasa sebagai orang Argentina. Saya juga ingin mengucapkan selamat kepada Spanyol atas kemenangan kejuaraan."

Lionel Messi memang gagal membawa timnya mempertahankan gelar juara piala dunia, setelah terakhir kali mengangkat trofi pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Meskipun begitu, capaian Tango harus diacungi jempol, dengan perjalanan yang diwarnai catatan historis menakjubkan sekaligus anti-klimaks. 

Mereka melaju ke partai final dengan predikat tim paling produktif dan rekor selalu mencetak dua gol atau lebih dalam 13 pertandingan beruntun. Namun, di laga pamungkas, mereka harus puas menjadi runner-up setelah kalah dramatis 0-1 dari Spanyol. Sebelum mencapai babak final, La Albiceleste juga tampil begitu eksplosif di fase grup hingga semifinal:

Argentina juga bisa dibilang menjadi tim tertajam dengan total 19 gol dalam perjalanan mereka hingga partai puncak. Persentase kemenangan Messi dan kawan-kawan berhasil menyapu bersih 7 pertandingan (5 di waktu normal, 2 lewat perpanjangan waktu) untuk menyamai rekor kemenangan terbanyak dalam satu edisi turnamen.

Akan tetapi laga final melawan Spanyol menjadi anomali terbesar dalam perjalanan taktik tim asuhan Lionel Scaloni itu. Mereka bermain bertahan setelah ditekan habis-habisan dengan hanya mencatatkan 35% penguasaan bola. Selama 90 menit waktu normal, untuk pertama kalinya dalam sejarah final piala dunia, tim itu gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran (tembakan tepat sasaran).


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo