Jakarta, Arina.id — Pesawat-pesawat tempur Israel melancarkan serangkaian serangan udara di Damaskus pada Rabu, dengan sasaran gedung Staf Umum, Kementerian Pertahanan, dan sekitar istana kepresidenan.
Serangan ini menyusul peringatan Israel terkait kerusuhan di perkampungan Druze di Sweida di selatan Suriah. Sedikitnya tiga orang meninggal dan melukai 34 lainnya, menurut laporan Kementerian Kesehatan Suriah.
"Serangan tersebut meruntuhkan empat lantai kementerian dan merusak fasadnya, dan menimbulkan korban” kata pejabat Suriah, seperti dikutip AFP, Kamis (17/7/2025).
Ini adalah pertama kalinya Israel menargetkan Damaskus sejak Mei dan hari ketiga berturut-turut Israel melancarkan serangan udara terhadap militer Suriah.
Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant menyatakan bahwa serangan tersebut sebagai peringatan terhadap keberadaan pasukan Suriah di kota Sweida, wilayah yang mayoritas penduduknya merupakan komunitas Druze. Ia menegaskan, tentara Israel akan terus melakukan serangan hingga pasukan rezim Suriah menarik diri.
“Pasukan kami akan terus menyerang hingga rezim memahami pesan ini. Jika tidak, kami terus beroperasi secara intensif di Suwayda,” tegas Gallant dilansir Al-jazeera.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Suriah mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari kebijakan sistematis Israel untuk menciptakan kekacauan dan merusak stabilitas di wilayah Suriah.
Merespons eskalasi tersebut, Amerika Serikat mendesak kedua pihak untuk menahan diri dan menarik pasukan dari wilayah selatan Suriah.
"Kami ingin melihat kekerasan ini segera dihentikan dan pasukan kedua belah pihak ditarik dari wilayah tersebut,” ujar Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce.
Kementerian Dalam Negeri Suriah dan pemimpin Druze, Sheikh Yousef Jarbou mengonfirmasi pada hari Rabu mereka telah mencapai gencatan senjata. Namun, kesepakatan baru tersebut ditolak oleh Sheikh Hikmat al-Hajari, pemimpin Druze lainnya, yang berjanji akan terus berjuang hingga Sweida dibebaskan sepenuhnya.
Editor:


