Arina.id - Sejumlah negara koalisi Arab Saudi marah dan mengecam keras upaya serangan drone ke Kota Suci Mekkah. Pakistan, Malaysia, dan Turki membuat mengutuk serangan yang disebut-sebut dilakukan oleh kelompok pejuang Houthi di Yaman.
Turki, pada Rabu 16 September 2026, mengecam keras serangan drone Houthi yang menargetkan kota suci Makkah di Arab Saudi serta menegaskan kembali dukungannya terhadap keamanan kerajaan tersebut. "Kami mengecam keras serangan drone Houthi yang menargetkan kota suci Makkah," kata Kementerian Luar Negeri Turki.
"Kami kembali menyerukan agar serangan-serangan yang juga mengancam stabilitas dan keamanan kawasan ini segera dihentikan serta semua tindakan yang dapat semakin meningkatkan ketegangan dihindari," kata pernyataan tersebut, seperti dikutip dari Anadolu.
Sementara itu Pemimpin kelompok Houthi Yaman, Abdul-Malik al-Houthi, menepis tuduhan bahwa kelompoknya berupaya menyerang Kota Makkah, seraya menyebut tuduhan tersebut sebagai "rekayasa dan disinformasi" di tengah memanasnya ketegangan dengan Arab Saudi.
Dalam pidato yang disiarkan oleh Al-Masirah TV yang dikelola Houthi, al-Houthi mengatakan klaim bahwa pasukan Houthi menargetkan Makkah merupakan "kebohongan".
Dia menyebut tuduhan tersebut digunakan untuk menggalang dukungan yang lebih luas terhadap apa yang disebutnya sebagai "langkah-langkah militer yang diberlakukan terhadap Yaman." Al-Houthi juga menuduh Arab Saudi gagal mendorong penyelesaian politik selama periode relatif tenang sebelum eskalasi terbaru.
Sebaliknya, dia mengatakan pembatasan terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman telah diperketat, dengan pembatasan operasional bandara dan impor tetap menjadi sejumlah persoalan utama yang belum terselesaikan.
Al-Houthi menyerukan kepada para pendukungnya di seluruh Yaman untuk menggelar demonstrasi massal pada Jumat, 18 September 2026, guna menolak apa yang disebutnya sebagai "fabrikasi dan fitnah" Arab Saudi. Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Arab Saudi secara terbuka menuduh Houthi meluncurkan sebuah drone ke arah Makkah.
Koalisi pimpinan Arab Saudi pada Rabu, 16 September 2026, mengatakan Pasukan Pertahanan Udara Kerajaan Arab Saudi mencegat dan menghancurkan drone tersebut di sebelah selatan Makkah pada Selasa malam, 15 September 2026, sebelum drone itu memasuki wilayah udara terbatas di kota suci tersebut.
Juru bicara koalisi, Turki al-Malki, menyebut keamanan dua tempat paling suci dalam Islam serta para jemaah sebagai "garis merah" dan mengatakan langkah-langkah yang diperlukan akan diambil sebagai tanggapan.
Dia mengatakan insiden ini merupakan upaya kedua yang diduga dilakukan Houthi untuk menargetkan Makkah, menyusul apa yang disebut koalisi tersebut sebagai serangan rudal balistik pada 27 Juli 2017.
Saling tuding tersebut terjadi di tengah meluasnya konfrontasi, dengan Houthi meraih kemajuan besar di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman dan di sekitar Selat Bab al-Mandab yang strategis sejak 3 September 2026, seraya meningkatkan serangan rudal dan drone terhadap fasilitas militer dan minyak Arab Saudi.
Pakistan, Bangladesh dan Malaysia ikut mengecam
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga mengecam keras upaya serangan drone di dekat kota suci Mekkah serta menyerukan semua pihak menahan diri dan mengedepankan dialog untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
"Saya mengecam dengan sekeras-kerasnya upaya serangan drone yang keji dan tercela terhadap tempat suci Mekkah Al-Mukarramah," kata Sharif melalui platform media sosial AS, X.
Sharif kembali menyerukan "semua pihak" untuk menahan diri semaksimal mungkin dan menghindari langkah yang dapat membawa kawasan ke arah eskalasi lebih lanjut. "Kawasan kita sudah terlalu banyak menderita akibat konflik. Dialog dan diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalan berkelanjutan menuju perdamaian," katanya.
Sharif juga memuji angkatan bersenjata Arab Saudi atas "kewaspadaan, keberanian, dan profesionalisme yang luar biasa", serta tindakan mereka yang disebutnya "cepat dan heroik."
"Pakistan berdiri teguh, bahu-membahu dengan Kerajaan Arab Saudi yang bersaudara, dalam mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayahnya, serta keamanan dan kesucian Haramain Sharifain (Mekkah dan Madinah), sebuah tanggung jawab yang sangat dekat di hati setiap warga Pakistan," tambahnya.
Pakistan dan Arab Saudi tahun lalu menandatangani perjanjian pertahanan bersama, yang kemudian diikuti pakta pertahanan trilateral Mekkah bersama Turki pada Agustus tahun ini.
Adapun Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga menyerukan semua pihak menahan diri dan mengedepankan dialog setelah sebuah drone dicegat di dekat Mekkah, Arab Saudi, serta memperingatkan agar insiden tersebut tidak memicu eskalasi lebih lanjut di kawasan.
"Saya memandang dengan keprihatinan mendalam laporan mengenai sebuah drone yang dicegat di dekat Mekkah al-Mukarramah," kata Anwar dalam pernyataan yang diunggah di platform media sosial AS, X.
"Setiap upaya untuk mengancam keamanan dan kesucian kota paling suci dalam Islam sama sekali tidak dapat diterima," ujarnya. Anwar menyampaikan "apresiasi mendalam" Malaysia atas tindakan cepat Arab Saudi dalam melindungi warga dan jemaah di Mekkah.
Dia mengatakan insiden tersebut menunjukkan pentingnya mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan dan menyerukan penghentian segera serangan terhadap lokasi sipil serta tindakan yang dapat membahayakan tempat-tempat suci. "Kami mendesak pihak-pihak terkait untuk menahan diri dan segera mengupayakan penyelesaian damai melalui dialog," tambah Anwar.
Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Bangladesh juga mengecam serangan tersebut dan menyerukan agar tempat-tempat suci dihormati dan dilindungi.
"Bangladesh menegaskan kembali penghormatan mendalamnya terhadap kesucian Mekkah Al-Mukarramah dan tempat-tempat suci lainnya di Kerajaan Arab Saudi, serta menyatakan solidaritas dengan Kerajaan Arab Saudi dan rakyatnya dalam melindungi tempat-tempat tersebut," kata kementerian.
"Bangladesh menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan tempat-tempat suci harus sepenuhnya dihormati dan dilindungi setiap saat," tambahnya.
Editor:


