Bukan Pernyataan ‘Neraka’ Trump, Perubahan Iklim dan Ulah Manusia Pemicu Kebakaran Dahsyat di California Amerika

Bukan Pernyataan ‘Neraka’ Trump, Perubahan Iklim dan Ulah Manusia Pemicu Kebakaran Dahsyat di California Amerika

Arina.id — Setelah beredar video kebakaran mengerikan di California, Amerika Serikat, pada Rabu (8/1/2025), tak sedikit publik yang mengaitkan dengan pernyataan Presiden AS terpilih, Donald Trump yang mengancam akan “menerakakan” Timur Tengah seandainya pasukan Hamas di Gaza, Palestina, tidak membebaskan tawanannya sebelum ia dilantik sebagai presiden Amerika.

Pernyataan Trump memang berlangsung sebelum kebakaran. Sementara itu, setelah terjadi peristiwa mengenaskan di California sejumlah media Iran ramai-ramai menggambarkan kebakaran Los Angeles sebagai tindakan murka Tuhan dan hukuman atas dukungan AS kepada Israel yang menghancurkan Jalur Gaza.

Sebenarnya, kebakaran hutan semakin sering mengancam kota-kota besar di dunia. Kebakaran dahsyat yang melanda Los Angeles, California Selatan, Amerika  Serikat, yang meliputi wilayah Pasific Palisades, Altadena, dan Hollywood Hills, bukan kali pertama meskipun dalam laporan dari Badan Layanan Cuaca atau National Weather Service menyebut kebakaran yang terjadi di kota terbesar kedua Amerika itu sebagai kebakaran terburuk dalam sejarah California. 

Si jago merah memang dengan cepat menghanguskan ribuan bangunan, menewaskan 11 orang dan hampir 180.000 penduduk dievakuasi. Kerugian diperkirakan mencapai lebih dari 8 miliar dollar AS atau setara 130 triliun rupiah karena tingginya nilai properti di jalur kebakaran.

Meskipun ribuan petugas pemadam kebakaran telah berupaya keras, kobaran api masih belum dapat dipadamkan lantaran kondisi cuaca dan dampak dari perubahan iklim yang diperkirakan akan terus mengipasi api selama beberapa hari ke depan. 

National Weather Service mengungkapkan, penyebab utama penyebaran api yang begitu masif disebabkan karena embusan kencang angin tahunan Santa Ana. Angin Santa Ana bersifat sangat kering dan tak jarang angin ini turut membawa partikel pasir maupun debu karena tiupanya berasal dari pegunungan menuju pesisir dengan kisaran kecepatan mencapai 64 sampai 96 km/jam. 

Santa Ana terbentuk di Gurun Lembah Besar yang berada di sebelah Sierra (Pegunungan) Nevada. Angin Santa Ana mengalir dari timur ke barat melalui pegunungan California selatan. Angin ini juga menyebabkan skala kerusakan yang terjadi setelahnya. Bertiup melintasi gurun lebih jauh ke pedalaman, angin menciptakan kondisi di mana kelembapan menurun, yang mengeringkan vegatasi.

Laporan dariWashington Pos, angin ini bertiup melintasi hamparan lahan kering apalagi di musim dingin 2024 hingga 2025 hujan tak datang di California sehinga muncul percikan api di sejumlah titik di antara pesisir. 

Kencangnya tiupan angin kerap menimbulkan gesekan dengan permukaan tanah yang dipenuhi tumbuhan kering sehingga turut menciptakan percikan api. Percikan itu yang membakar pesisir California bagian wilayah selatan yang dilahap api. Los Angeles juga terdapat enam titik api sementara dua yang terbesar adalah di Pasifix Palisades dan Ethon.

Beberapa wilayah di California mengalami periode terkering selama lebih dari 150 tahun. Perubahan iklim menciptakan resikio kebakaran sekitar 25 persen di California. 

Krisis iklim akibat ulah manusia juga meningkatkan area kebakaran sebesar 172 persen di wilayah tersebut. Perubahan iklim membuat angin Santa Ana di musim gugur cenderung memburuk. 

Perubahan iklim ulah manusia 

Ilmuwan geografi dari Universiy of Maryland Alexandra Tyukavina mengatakan kota-kota di wilayah dengan iklim subtropis kering, seperti California dan Mediterania, sangat rentan terhadap kebakaran hutan.

"Daerah-daerah ini sangat rentan karena sering mengalami kekeringan dalam beberapa tahun terakhir. Secara historis, tempat yang lebih kering memang lebih rentan terhadap kebakaran, terutama dengan adanya perubahan iklim," kata Tyukavina.

Pinggiran kota yang luas di wilayah seperti AS juga sangat rentan terhadap penyebaran api, kata Tyukavina. Berbeda dengan Jepang, misalnya, yang memiliki perencanaan kota lebih padat sehingga area alami cenderung terpisah dari kawasan perkotaan. 

"Di sana, lebih sedikit area antarmuka antara alam liar dan perkotaan," jelasnya.

Data terbaru dari World Resources Institute menunjukkan bahwa kebakaran hutan saat ini membakar dua kali lipat tutupan pohon dibandingkan dua dekade lalu. Pertumbuhan kota di seluruh dunia turut meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran.

"Kota-kota yang terus berkembang, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan vegetasi liar, meningkatkan risiko kebakaran yang memengaruhi penduduk dan rumah mereka," ujar Julie Berckmans, ahli penilaian risiko iklim dari European Environment Agency.

Secara global, area yang dikenal sebagai wild urban interface (WUI), yakni tempat bangunan bertemu dengan vegetasi hutan, terus meluas, dan meningkatkan risiko kebakaran.

Studi pada 2024 dari National Center for Atmospheric Research AS menunjukkan bahwa WUI meningkat 24 persen antara tahun 2001–2020, dengan ekspansi terbesar terjadi di Afrika. Hal ini memperkirakan peningkatan jumlah kebakaran hutan di zona ini sebesar 23 persen dan luas area terbakar sebesar 35 persen. Dua pertiga orang yang terpapar kebakaran hutan di seluruh dunia tinggal di zona ini, tempat kota dan wilayah liar bertemu.

Alexander Held dari European Forest Institute mengatakan cuplikan kebakaran di Athena pada musim panas lalu menunjukkan betapa mudahnya api menyebar di area ini.

"Di area antarmuka ini, semak belukar sering tumbuh hingga ke taman, yang kemudian memiliki banyak bahan mudah terbakar. Hal ini membuat api dengan cepat mencapai rumah," ujar Held.

Abandonment (pengabaian) lahan pedesaan, terutama di wilayah Mediterania, turut memperburuk risiko kebakaran hutan, tambah Held. 

"Semakin banyak lahan yang tidak digarap dan tidak terjaga, sehingga kebakaran yang sebelumnya bisa dikendalikan dengan cepat kini semakin mendekati kota-kota," imbuhnya.

Apa yang bisa dilakukan kota-kota untuk melindungi diri?

Held mengatakan diperlukan lebih banyak pendanaan untuk sistem peringatan dini, panduan pengelolaan hutan, serta peningkatan kesadaran masyarakat, mengingat sebagian besar kebakaran hutan disebabkan oleh aktivitas manusia.

Pengalaman dari kebakaran Athena pada 2024 hampir 700 petugas pemadam kebakaran, dua pesawat pemadam kebakaran, dan dua helikopter dikerahkan dari seluruh Uni Eropa untuk membantu memadamkan kebakaran. 

Held menekankan perlunya sumber daya lebih besar untuk pencegahan kebakaran. Langkah ini mencakup mendorong perilaku bijak terhadap api, seperti menghindari menanam spesies tanaman yang mudah terbakar di taman, membersihkan talang atap, dan memastikan tidak ada bahan bakar seperti sampah kebun yang dapat memicu api.

"Kadang-kadang, Anda melihat foto desa atau kota kecil yang habis dilalap api, tetapi ada beberapa rumah yang selamat di tengah-tengahnya, dengan taman hijau di sekelilingnya. Ini adalah bukti bahwa perilaku bijak terhadap kebakaran memang berhasil," ujar Held.
 
Kota-kota juga harus memastikan ruang hijau bebas dari puing-puing di tanah dan memiliki pohon besar yang memberikan keteduhan, menjaga tanah tetap lembab, dan mengurangi angin.

"Langkah pencegahan lainnya adalah perencanaan tata ruang untuk mengurangi penyebaran urban," jelasnya.

Sebagai contoh, beberapa kota mempekerjakan penggembala dengan domba dan kambing untuk menciptakan zona penyangga yang digembalakan, di mana hewan-hewan ini memakan bahan bakar mudah terbakar seperti ranting dan rumput, tetapi tetap meninggalkan pohon-pohon besar.
 


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo