Jakarta, Arina.id- Munculnya berbagai fenomena sosial, seperti isu hoaks halal, lalu viralnya konten negatif, hingga maraknya produk impor murah menunjukkan bahwa literasi ekonomi syariah masyarakat Indonesia masih belum merata. Padahal, potensi ekonomi halal di Tanah Air sangat besar, baik secara nasional maupun global.
Peningkatan literasi masyarakat bisa menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam industri halal dunia. Seperti disampaikan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Siti Rochmawati, yang mengatakan literasi masyarakat terhadap konsep halal dan ekonomi syariah masih rendah.
Hal ini terlihat dari berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat serta data literasi ekonomi syariah nasional yang belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Viralnya Baso A Fung Bali misalnya, seorang influencer menyebarkan konten yang menimbulkan persepsi negatif di masyarakat, termasuk isu tentang proses penyajian dan kebersihan yang tidak sesuai fakta. Konten ini memicu kehebohan dan merugikan pelaku usaha padahal telah bersertifikat halal.
"Fenomena ini menunjukkan masih adanya ketidaktahuan masyarakat mengenai standar halal serta betapa mudahnya opini publik terpengaruh oleh konten yang tidak akurat," kata Rochmawati dalam kegiatan Training of Trainer Eksyar Jurnalisme di Jakarta, Sabtu (15/11/2025).
Data Sosial Media 2024 menunjukkan bahwa 67% penduduk Indonesia aktif di media sosial, atau lebih dari 60% populasi. Besarnya akses ini menyebabkan informasi—termasuk hoaks—menyebar dengan cepat. Tercatat hoaks terkait isu halal mengalami peningkatan hingga 57%.
"Kondisi ini dapat menjadi peluang bagi kita untuk memberikan edukasi dan informasi positif mengenai hal-hal yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat," jelasnya.
Fenomena berikutnya adalah polemik mengenai pariwisata halal. Pemerintah dan pelaku industri pariwisata berupaya mengembangkan wisata halal untuk menarik wisatawan Muslim mancanegara.
Namun, imbuh Rochma, sebagian masyarakat menolak karena salah memahami konsepnya. Mereka mengira bahwa pariwisata halal akan membuat semua wisata menjadi serba terbatas.
"Akibatnya muncul penolakan dan narasi negatif, padahal tujuan utamanya adalah meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai destinasi ramah Muslim," ungkapnya.
Ia membandingkan dengan produk kosmetik murah dari luar negeri yang semakin menjamur di pasar lokal. Meski banyak diminati anak muda, tidak semuanya memiliki sertifikasi halal.
"Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih belum sepenuhnya memahami pentingnya memilih produk yang sesuai standar halal dan aman," jelasnya.
Berdasarkan laporan SGIE (State of the Global Islamic Economy), Indonesia berada di peringkat ke-9 sebagai eksportir produk halal, jauh di bawah negara-negara seperti Cina, India, Brazil, dan Turki padahal Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.
Di dalam negeri, literasi ekonomi syariah masih menjadi tantangan besar. Pada 2022 angkanya baru 23,3% dan meningkat menjadi 42,85% pada 2024. Artinya, dari 10 orang Indonesia, hanya sekitar 4–5 orang yang memahami konsep dasar seperti zakat, wakaf, dan aturan-aturan ekonomi syariah lainnya. Padahal pertanyaan yang digunakan dalam survei masih bersifat mendasar.
Berdasarkan usia dan gender, perempuan memiliki tingkat literasi lebih tinggi dibanding laki-laki. Sementara kelompok usia muda merupakan segmen yang paling potensial untuk ditingkatkan literasinya. "Hal ini menjadi tugas bersama agar literasi ekonomi syariah dapat merata di seluruh Indonesia," katanya.
Pemerintah telah berupaya membuat berbagai program seperti ISEF (Indonesia Sharia Economic Festival) dan FESyar (Festival Ekonomi Syariah) terus digencarkan oleh pemerintah dan BUMN untuk meningkatkan pemahaman masyarakat.
"Namun pencapaiannya masih harus ditingkatkan agar literasi dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat," tandasnya.
Editor:


