Arina.id – Sehari setelah kemenangan telak Partai Demokrat Liberal (LDP) yang menjadi kendaraan politik Sanae Takaichi dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Jepang, China segera merespons. Beijing memperingatkan bahwa segala tindakan gegabah yang dilakukan Jepang bakal direspons secara tegas.
Peringatan tersebut disampaikan Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, pada 9 Februari 2026, atau tepat sehari setelah Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi memenangi pemilu yang digelar Minggu 8 Februari 2026.
Sebelumnya, pada November 2025 lalu China dan Jepang telah terlibat dalam perselisihan terkait komentar Takaichi, bahwa Tokyo dapat melakukan intervensi militer ketika terjadi serangan apa pun terhadap Taiwan yang berdaulat. China kemudian menegaskan klaim bahwa Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak mengesampingkan kemungkinan penggunaan kekuatan untuk mencaploknya.
"Jika kekuatan sayap kanan di Jepang salah menilai situasi dan bertindak sembrono, mereka pasti akan menghadapi perlawanan dari rakyat Jepang dan tanggapan tegas dari komunitas internasional," kata Lin Jian, seperti dikutip dari straits times, Senin 9 Februari 2026.
"Kami sekali lagi mendesak pihak Jepang untuk menarik kembali pernyataan keliru yang dibuat oleh Takaichi mengenai Taiwan dan menunjukkan ketulusan dasar dalam menjaga fondasi politik hubungan Tiongkok-Jepang, melalui tindakan nyata," katanya.
Menyusul komentar Ibu Takaichi pada November 2025, China telah melarang warganya bepergian ke Jepang, dengan alasan memburuknya keamanan publik dan tindakan kriminal terhadap warga negara China di negara tersebut.
Dalam eskalasi terbaru perselisihan pada Desember 2025, pesawat militer China mengunci radar kepada jet Jepang, yang mendorong Tokyo memanggil duta besarnya di Beijing.
Beijing juga dilaporkan memutus ekspor produk logam tanah jarang ke Jepang yang sangat penting untuk pembuatan berbagai produk, mulai dari mobil listrik hingga rudal.
Janji-janji Sanae Takaichi
Sementara itu Takaichi, PM Jepang perempuan berusia 64 tahun itu, setelah kemenangannya dalam pemilu mengatakan akan berupaya mengubah konstitusi yang menolak perang. Di bidang ekonomi, ia menyatakan Jepang juga perlu meninggalkan kebijakan penghematan fiskal yang berlebihan.
Dikutip dari Kyodo News, perdana menteri itu juga meminta dukungan partai oposisi, karena LDP masih menjadi minoritas di majelis tinggi parlemen.
Kendati begitu ia mengatakan bahwa pembahasan anggaran menjadi prioritas dalam masa jabatannya yang baru. Takaichi juga berjanji melanjutkan diskusi parlemen terkait pemotongan pajak konsumsi selama dua tahun untuk produk makanan.
Sebagai politikus konservatif, Takaichi telah berupaya merevisi tiga dokumen Jepang mengenai keamanan dan pertahanan.
Dengan kekuatan LDP yang meraih mayoritas dua pertiga kursi DPR atau setara 315 kursi, partai ini akan mendapat dukungan total 351 anggota parlemen bersama mitra koalisinya, Partai Inovasi Jepang.
Kemenangan telak tersebut memungkinkan LDP meloloskan RUU di parlemen meski oposisi menentang di majelis tinggi.
Takaichi terpilih sebagai PM pada Oktober lalu, setelah menjadi wanita pertama yang menjabat Presiden LDP, dan memutuskan menggelar pemilu mendadak bulan lalu, memanfaatkan popularitas pribadinya di tengah politik Jepang yang masih didominasi laki-laki.
Editor:


