Kebijaksanaan Jadi Kunci Kebahagiaan Sejati

Kebijaksanaan Jadi Kunci Kebahagiaan Sejati

Jakarta, Arina.id — Akademisi Islam Fahrudin Faiz mengulas kembali pemikiran klasik Socrates tentang makna kebahagiaan. Ia menegaskan bahwa cara pandang manusia terhadap kebahagiaan pada dasarnya terbagi dalam beberapa kategori, yakni kesenangan (pleasure), kehormatan (honor), dan kebijaksanaan (wisdom).

Dalam pemaparannya, Faiz menjelaskan bahwa sebagian orang memahami kebahagiaan sebagai kesenangan. Namun, kebahagiaan jenis ini cenderung bersifat sementara karena hanya berlandaskan pada kenikmatan sesaat.

“Kesenangan itu rasa berbunga-bunga yang sifatnya sementara. Orang yang mengejar ini biasanya dikendalikan oleh nafsu,” ujarnya dalam tayangan video Mengaji Hening diakses Sabtu (11/4/2026).

Ia menambahkan, dalam tradisi filsafat Islam, kondisi tersebut kerap disebut sebagai jiwa bahimiyah, yakni jiwa yang cenderung mengikuti dorongan dasar layaknya makhluk hidup yang hanya berorientasi pada kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan fisik.

Selain itu, ada pula kelompok yang memandang kehormatan atau pengakuan sosial sebagai sumber kebahagiaan. Menurut Faiz, tipe ini sangat dipengaruhi oleh penilaian orang lain dan memiliki kecenderungan ambisius untuk menjadi yang terbaik.

“Mereka ingin unggul, ingin diakui, bahkan terkadang menjadikan orang lain sebagai pembanding yang harus dikalahkan,” jelasnya.

Dalam perspektif filsafat Islam, orientasi ini dikenal sebagai jiwa sabu’iyah, yang diibaratkan seperti karakter binatang buas: agresif dan kompetitif.

Meski demikian, Faiz menegaskan bahwa mengejar kesenangan maupun kehormatan bukanlah hal yang sepenuhnya salah. Keduanya merupakan bagian dari kehidupan manusia, selama tetap berada dalam batas yang wajar.

“Masalahnya, jika seseorang hanya fokus pada kesenangan atau pengakuan, banyak dimensi kehidupan lain yang justru terabaikan. Padahal, di situlah juga terdapat sumber kebahagiaan,” katanya.

Lebih lanjut, Faiz menggarisbawahi bahwa kebahagiaan yang lebih hakiki justru terletak pada kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan, seseorang mampu mengelola keinginan, memahami batas, serta menempatkan ambisi secara proporsional.

Menurutnya, kebijaksanaan memungkinkan seseorang meraih kesenangan tanpa terjebak, sekaligus mengejar kehormatan tanpa kehilangan arah. “Ambisi boleh, kesenangan juga boleh, tapi harus tahu batasnya. Untuk mengetahui batas itu, seseorang membutuhkan kebijaksanaan,” tegasnya.

Ia pun menegaskan bahwa dalam kerangka pemikiran Socrates, kebahagiaan yang paling utuh adalah kebahagiaan yang bertumpu pada wisdom. Sebab, dengan kebijaksanaan, manusia tidak hanya meraih kesenangan dan kehormatan, tetapi juga mampu menjalani hidup secara seimbang dan bermakna.

Fahrudin Faiz menyimpulkan bahwa kebijaksanaan merupakan fondasi utama dalam mencapai kebahagiaan sejati, karena mampu mengintegrasikan berbagai aspek kehidupan secara harmonis.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo