Arina.id ~ Membayangkan masa depan adalah tugas manusia di masa kini. Filsuf Jerman Martin Heidegger mengatakan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang dilengkapi dengan kemampuan untuk membayangkan dan merancang masa depan. Namun, sejatinya tujuan dari membayangkan masa depan itu sendiri adalah memaknai masa kini.
Guru Besar bidang Filsafat dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta, Fransisco Budi Hardiman dalam perhelatan Muktamar Pemikiran NU yang mengusung tema “Imagining Future Society” mengatakan, masa depan datang layaknya pencuri.
“Ini adalah ironi, yaitu manusia dewasa ini menjadi lebih mirip mesin, sementara mesin lebih mirip manusia,” ucapnya di Asrama Haji Pondok Gede, Sabtu (2/12/2023).
Ia menyampaikan, manusia-manusia zaman sekarang dengan segala profesi yang mereka geluti, menimpakan peran-peran sosialnya ke dalam smartphone mereka. Perangkat telpon pintar itu bekerja melalui satu proses sistem birokratis. Hal ini dikarenakan sistem digital pada dasarnya adalah satu sistem organisasi yang berdasarkan pada statistik dan algoritma.
“Artinya, perilaku kita semakin dikendalikan oleh mesin,” ujar Franky, sapaan akrabnya.
Penulis buku Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital ini juga menyebutkan ironi lain di zaman sekarang, yakni fakta bahwa hewan (peliharaan) semakin dimanusiakan. Sementara di sisi lain, manusia justru semakin bertingkah layaknya hewan, di mana libidinalisasi masyarakat, genosida, human trafficking kian masif
“Pet (hewan peliharaan) ada akta kelahirannya, orang merasa lebih sayang ke binatang peliharaan. Gerakan childfree itu, misalnya. Kalau anak manusia dirasa berisik, mengganggu kebebasan, tapi mereka tetap punya anjing, punya pet. Nah, hewan menjadi mirip manusia, dan manusia menjadi lebih mirip hewan. Kenapa? Karena ada sadisme, free sex, ada kelaparan,” jelasnya.
Perubahan-perubahan itu, kata Franky, merupakan transisi modes of being masyarakat zaman sekarang yang meliputi komunikasi, persepsi, realitas sosial, kebenaran, dan kebebasan. Menurutnya, transisi itu sedikitnya akan membawa pada dua kemungkinan, yakni sentralisme digital dan desentralisme digital.
Sentralisme digital berkaitan dengan konektivitas global birokrasi, pasar, dan masyarakat yang dikendalikan teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai substitusi manusia, di mana kemungkinan ini merupakan akhir demokrasi dan awal teknokratisme. Sementara desentralisme digital berkaitan dengan desentralisasi sistem-sistem komunikasi digital dengan teknologi Alsebagai suplemen manusia (cerdas menggunakan kecerdasan manusia, di mana hal ini melanjutkan memperdalam demokrasi pluralistis).
Franky juga mengungkapkan, dalam ilmu filsafat, masyarakat di masa depan dibayangkan sebagai masyarakat pasca-human. “Inti tesisnya adalah manusia itu mempunyai kelemahan-kelemahan, ada kelemahan tubuh misalnya buta, tapi juga punya kelemahan genetik, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan mungkin ada kelemahan dalam berpikir, dan seterusnya. Nah manusia-manusia itu mengidamkan manusia sempurna, tapi untuk mencapai kesempurnaan, manusia ini harus dipompa secara teknologis dengan suplemen, yaitu teknologi AI, robot, dan seterusnya,” katanya.
“Ini tidak selalu negatif. Masa depan semacam itu agak mengerikan ke saya, tapi kita sudah mengarah ke situ,” imbuhnya.
Dalam menghadapi kompleksitas masa depan, Franky menyatakan bahwa manusia masih memerlukan agama. Walaupun teknologi sudah begitu maju dan menghadirkan banyak kemudahan, agama tetap memiliki peran-peran stategis, diantaranya: Memberi 'jangkar metafisis' bagi masyarakat digital yang cenderung pragmatis, materialistis, fungsionalistis, dan instrumentalistis untuk mengingatkan bahwa "realitas lain" di seberang dunia ini adalah hal yang mungkin; Merawat makna kehidupan ketika saintifikasi, teknologisasi, dan digitalisasi menanduskan makna kehidupan; Menjaga misteri di tengah-tengah peradaban ilmiah yang cenderung mengobservasi segalanya dan merakit segalanya secara artifisial. Kebenaran yang berbeda masih mungkin dalam agama; Menjadi horizon solidaritas sosial berbagai komunitas riil dan digital.
Muktamar Pemikiran NU digelar Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU bekerja sama dengan Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama. Acara ini sudah berlangsung sejak Jumat hingga Minggu (3/12/2023). Selain Fransisco Budi Hardiman, pada panel diskusi ini juga hadir Ismail Fajrie Alatas dan redaktur ahli Arina.id Gus Ulil Abshar Abdallah.
Editor:


