7 Penyebab Seseorang yang Semula Baik Tiba-tiba Jadi Buruk

7 Penyebab Seseorang yang Semula Baik Tiba-tiba Jadi Buruk

Kita sering dibuat terkejut ketika menyaksikan seseorang yang selama ini kita anggap sebagai orang baik tiba-tiba melakukan hal yang buruk. Rasanya seluruh pandangan kita terhadap orang seperti itu hancur. Kita mungkin mulai bertanya-tanya: "Apakah yang menjadikannya berubah?"

Namun, penting untuk diingat bahwa melakukan kesalahan atau perbuatan buruk tidak otomatis menjadikan seseorang itu “orang jahat.” Tidak semua tindakan buruk muncul dari niat jahat, tipu daya, atau keinginan untuk menyakiti. Sering kali, tindakan itu justru menjadi isyarat bahwa orang tersebut sedang mengalami tekanan atau pergolakan batin yang tak terlihat.

Psikiater anak dan remaja yang bekerja di Bay of Plenty, Selandia Baru, dr David Tan menjelaskan manusia adalah makhluk yang rumit. Kita semua bisa saja melakukan kesalahan—kadang untuk alasan yang kita anggap benar. Sebaliknya, tak jarang juga kita melakukan hal yang benar, tetapi dengan niat atau alasan yang keliru.

"Saya tidak percaya ada orang yang sepenuhnya jahat. Tapi, memang benar bahwa siapa pun bisa saja bertindak buruk," ujarnya.

Label “baik” atau “buruk” sering kali muncul dari cara orang lain menilai pola perilaku dan kepribadian kita dalam jangka waktu panjang. Jika seseorang biasanya bertindak dengan kebaikan, rasa kasih, dan pertimbangan yang adil, ia akan cenderung dipandang sebagai “orang baik.”

Namun, menjadi “orang baik” bukan berarti seseorang tidak bisa atau tidak akan melakukan hal-hal yang buruk. Dengan memahami alasan mengapa orang baik pun bisa melakukan tindakan buruk, kita justru sedang menumbuhkan kualitas kebaikan dalam diri sendiri—seperti empati, pengertian, dan belas kasih.

Dikutip dari laman psychcentral.com, berikut ini 7 alasan mengapa seseorang berubah perilakunya yang awalnya baik kemudian bertindak kurang baik

1. Trauma Masa Lalu dan Peristiwa Hidup yang Sulit
Masa lalu memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap bagaimana seseorang bertindak di masa kini—bahkan ketika mereka sendiri tidak menyadarinya.

Dr. Rod Mitchell, pakar psikologi dari Calgary, Alberta, menjelaskan bahwa orang baik bisa saja bertindak menyakiti orang lain ketika dipicu oleh trauma yang belum terselesaikan. Seperti bayang-bayang dari masa lalu. “Trauma tersebut dapat sesaat menutupi kebaikan hati mereka yang sejatinya ada,” katanya.

Trauma dan peristiwa hidup yang sulit memengaruhi setiap orang secara berbeda. Pada sebagian orang, dampak dari pengalaman tersebut bisa membuat mereka mengambil keputusan buruk. Misalnya, trauma masa kecil dapat menyebabkan pola hubungan yang tidak aman (insecure attachment) di masa dewasa. Pola ini bisa mendorong seseorang mencari validasi berlebihan, yang kemudian berkembang menjadi perilaku buruk.

2. Mode Bertahan Hidup (Survival Mode)
Suvival mode atau cara bertahan hidup, yaitu ketika seseorang merasa terpojok atau tidak punya jalan keluar, juga menjadi salah satu alasan mengapa orang baik bisa melakukan hal buruk.

Contohnya, jika seseorang kehilangan pekerjaannya dan menghadapi kesulitan finansial besar, seperti ancaman membayar cicilan, rasa putus asa, stres yang luar biasa, serta tekanan untuk tetap menghidupi keluarga bisa mendorongnya mempertimbangkan pilihan-pilihan yang tidak etis, seperti melakukan penipuan atau pencurian.

3. Kebutuhan untuk Merasa Diterima
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, yang sejak dahulu kala bertahan hidup melalui kerja sama dan kebersamaan dalam kelompok. Keinginan untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok adalah hal yang wajar.

"Salah satu alasan mengapa orang baik terkadang melakukan hal buruk adalah karena tekanan atau pengaruh sosial," kata Lindsey Tong, seorang pekerja sosial klinis berlisensi dari Woodland Hills, California. “Keinginan alami untuk diterima dan merasa menjadi bagian dari kelompok dapat membuat seseorang bertindak bertentangan dengan penilaian moralnya sendiri."

Ia mencontohkan situasi di mana seseorang ikut terlibat dalam gosip yang merugikan rekan kerja, meskipun sebenarnya tahu bahwa hal tersebut tidak benar.

"Perilaku ini tidak serta-merta menjadikan mereka orang yang buruk secara hakiki, melainkan menunjukkan bagaimana pengaruh eksternal bisa menggoyahkan bahkan orang yang sebenarnya berniat baik,” ujarnya.

5. Kurangnya Kesadaran Diri
Kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri dan memahami posisi diri di tengah lingkungan sekitar secara langsung pada saat itu juga. Menurut Lindsey Tong, kurangnya kesadaran diri sering kali menjadi alasan mengapa orang baik terkadang melakukan hal buruk.

"Ketika seseorang tidak selaras dengan emosi atau nilai-nilainya sendiri, mereka bisa saja secara tidak sengaja bertindak bertentangan dengan keyakinannya,” jelasnya. “Hal ini bisa terjadi ketika seseorang sedang stres atau kewalahan, lalu tidak meluangkan waktu untuk merenungkan tindakannya.”

Tong mencontohkan, misalnya seseorang mengucapkan kata-kata yang menyakitkan saat bertengkar karena terlalu larut dalam rasa sakit hati dan frustrasi. Alih-alih menyadari dan mengakui perasaan tersebut, orang itu justru melampiaskan luka batinnya kepada orang lain.

5. Demi Kepentingan yang Lebih Besar
Ungkapan “tujuan menghalalkan cara” berasal dari filsuf Italia, Niccolò Machiavelli. Ungkapan ini mengandung makna bahwa hasil yang dianggap positif bisa membenarkan segala tindakan negatif yang ditempuh untuk mencapainya.

Perasaan bahwa seseorang sedang “mengendalikan situasi”, menurut Dr. Mitchell, juga menjadi salah satu alasan mengapa orang baik bisa melakukan hal buruk.

"Terkadang, orang baik mengambil tindakan yang mereka yakini demi ‘kepentingan yang lebih besar’, tanpa menyadari dampak buruk yang mungkin terjadi,” ujarnya. “Kesalahan penilaian ini biasanya muncul karena mereka terlalu percaya diri dalam memperkirakan atau mengendalikan hasil dari tindakan tersebut.”

Contohnya adalah saat seseorang melakukan aksi pembangkangan sipil secara ekstrem, seperti merusak properti, demi menarik perhatian pada isu-isu penting, seperti krisis ekonomi.

6. Merasa Tidak Mendapat Keadilan
Ketika seseorang merasa telah diperlakukan tidak adil, membalas dengan tindakan negatif yang setara bisa terasa seolah-olah benar dan pantas. Rasanya wajar, karena Anda tidak memulai masalah itu—Anda hanya “membalas” dengan cara yang sama, bukan?

“Kita bisa saja melakukan hal-hal buruk ketika kita meyakini tindakan tersebut sebagai hal yang benar, padahal motivasinya keliru atau menyimpang—misalnya saat seseorang memutuskan untuk membalas dendam atas perlakuan yang dianggap sebagai penghinaan atau pelanggaran,” jelas Dr. David Tan.

Contohnya adalah berselingkuh dari pasangan sebagai balasan setelah mengetahui bahwa pasangan tersebut telah berselingkuh lebih dulu.

7. Gangguan Kesehatan Mental
Hidup dengan gangguan kesehatan mental tertentu bisa memengaruhi cara seseorang memandang dunia dan berinteraksi dengan orang lain. Beberapa kondisi, seperti narcissistic personality disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik, secara alami berkaitan dengan rendahnya empati—kemampuan untuk memahami perasaan dan pikiran orang lain.

“Ada beberapa orang dengan jenis gangguan kepribadian tertentu yang memang cenderung lebih mudah berpikir atau bertindak seperti ini, tetapi itu tidak serta-merta membuat mereka ‘orang jahat’,” jelas David Tan.

Selain itu, gangguan lain seperti gangguan depresi dan gangguan kecemasan juga dapat memicu perubahan perilaku yang mungkin dianggap negatif oleh orang lain. Misalnya, tidur berlebihan hingga melalaikan tanggung jawab pada penderita gangguan depresi mayor (major depressive disorder/MDD) bisa saja dilihat sebagai perilaku buruk oleh lingkungan, padahal itu sebenarnya merupakan bagian dari gejala penyakitnya.


Editor:
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo