Banyak yang berpandangan bahwa Massive Open Online Course (MOOC) Pintar hanyalah aplikasi yang muncul karena adanya project, sekadar dibuat, lalu karena tidak dipelihara (maintenance) dengan baik, akhirnya hilang, atau tidak beroperasi secara multifungsi.
Anggapan itu mulanya tidak salah karena persepsi publik sudah sedemikian tebal lantaran aplikasi-aplikasi di Kementerian/Lembaga Negara wujudnya sedemikian sama: kurang berguna.
Persepsi mayor ini bukan hanya dari orang di luar Pemerintahan. Tentu kita pernah diingatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani, 2022 lalu. Di side event G20 bertajuk Festival Ekonomi Keuangan Digital, ia mengutarakan kritik bernada sebal karena mendapati 24.000 aplikasi di lingkungan K/L tidak beroperasi dengan benar. Aplikasi-aplikasi tersebut dinilai tidak interoperable (dapat dioperasikan), sehingga tidak efisien dan menyebabkan kas negara boncos.
MOOC Pintar Membangun Ekosistem
Meskipun MOOC Pintar telah menyuguhkan beragam fakta, namun secara keseluruhan belum mampu mengubah anggapan umum tentang munculnya sebuah aplikasi. Masih banyak yang menilai, aplikasi hanyalah proyek, aplikasi adalah jalan pintas agar pembuatnya dianggap sukses.
Secara obyektif, munculnya MOOC Pintar telah mengubah siklus keikutsertaan dalam pelatihan. Pusdiklat Kementerian Agama dulunya setiap tahun hanya mampu menjangkau empat ribu peserta. Berbanding jauh data di tahun 2024, karena ada sekitar 1,8 juta peserta terambil. Dulu, untuk bisa mengikuti pelatihan harus menunggu 30 tahun, kini mereka bisa mengikuti pelatihan kapan pun mereka mau, dan di mana pun mereka berada.
Hitungan lainnya, sepanjang 2023 Kementerian Agama mampu mengefisienkan anggaran Kediklatan hingga mencapai Rp1,6 triliun. Nilai sebesar ini digambarkan dengan perhitungan sederhana. Jika 284 ribu peserta itu dilakukan secara klasikal tatap muka, di mana setiap kelasnya hanya diisi 30 orang dan rata-rata menghabiskan anggaran Rp170 juta, jumlah 284 ribu itu setara dengan 9.468 kelas. Jika dikalikan dengan Rp170 juta akan menghasilkan angka Rp1,6 triliun. Itulah efisiensinya MOOC Pintar.
MOOC Pintar yang mulai dikembangkan di tahun 2022, dan di tahun pertamanya berhasil mencetak 30.168 peserta akhirnya mengantarkan Pusdiklat Teknis (sekarang menjadi Pusat Pengembangan Kompetensi SDM Pendidikan dan Keagamaan) menjadi salah satu dari lima lembaga pelatihan terbaik pada tahun 2024 versi Lembaga Administrasi Negara (LAN).
Apresiasi terbesar di samping datang dari LAN, sebagai induk lembaga pengembangan kompetensi di negeri ini, tapi yang lebih besar datang dari SDM di lingkungan Kementerian Agama. Berdasarkan survei kinerja yang diadakan oleh Badan Litbang dan Diklat kepada ASN Kementerian Agama pada Oktober 2024, popularitas MOOC Pintar mencapai 77,8 persen, dan menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan dan diakses. Popularitas MOOC Pintar hanya kalah dari Pusaka SuperApp, aplikasi induk dari keseluruhan layanan digital Kemenag.
MOOC Pintar menjadi penanda munculnya kesadaran tentang belajar secara mandiri di lingkungan SDM Kementerian Agama, yaitu munculnya kesadaran untuk terus menerus mengasah pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kompetensi yang ingin dikembangkannya.
Tak hanya itu, MOOC Pintar juga telah menciptakan cara belajar baru, yaitu metode belajar yang bertumpu pada kualitas dan kedalaman materi yang tersaji dalam bentuk audio visual. Materi dikemas secara sinematik, mendalam, dan to the point. Tidak ada materi basa-basi dan tidak penting.
Cara belajar inilah yang kemudian memunculkan ekosistem belajar, proses belajar yang kait-mengait antara pembelajar, yaitu manusia sebagai biotik, dan teknologi atau penyedia konten sebagai abiotik. Mesin menyediakan materi secara tuntas, dari informasi umum pembelajaran, isi, hingga evaluasi, pembelajar (manusia) belajar secara runut berdasarkan urutan yang sudah dibuat secara sistemik.
Ekosistem belajar yang saling kait-mengait ini lalu memunculkan kesadaran secara sistematis, terjadwal, tanpa komando. Jika jadwal belajar sudah ditetapkan, di waktu itulah proses belajar berlangsung. Teknologi di-setting, materi disiapkan, evaluasi dibuat, semua tinggal belajar.
Untuk menguji coba apakah ekosistem belajar di lingkungan SDM Kemeneterian Agama sudah terbentuk apa belum, pernah dilakukan pelatihan tanpa memberitahukan jadwal pelaksanaannya secara terbuka. Tidak ada informasi yang disampaikan, baik dalam flyer maupun pemberitaan. Tim hanya memasang materi di mesin di MOOC Pintar dan menempel tanggal pelaksanaannya. Dan ternyata, jumlah pesertanya hampir sama dengan jumlah peserta jika pelaksanaan pelatihan diumumkan, atau diinformasikan secara terbuka dan massif.
Terciptanya ekosistem belajar inilah yang patut disyukuri. Ada kesadaran, ada keinginan, ada harapan, dan ada cita-cita untuk bertumbuh.
Mungkin ini belum layak disebut prestasi, tapi ini bisa menjadi penanda bahwa kita telah memiliki modal jika ingin mengembangkan layanan secara lebih baik. Sebanyak 3,1 juta SDM di Kementerian Agama yang harus dilayani adalah jumlah yang sangat banyak. Dan ekosistem belajar di MOOC Pintar hanya tinggal dikembangkan. Diperbanyak jumlah kontennya, diperdalam isinya, diperbaiki kualitas evaluasinya, ditingkatkan kualitas pengisinya, dan diperkaya jenis tampilan sinematografinya.
Terciptanya ekosistem belajar adalah anugerah. Kesadaran mau belajar, dan kemauan belajar yang adaptif dengan tekonologi hanya butuh dikuatkan, ditingkatkan intensitas, serta kualitasnya saja.
Opini ini bisa jadi dianggap apologetik dan sangat subyektif, tapi itulah fakta yang ada. Saat ini, lebih dari 53.9 persen SDM di Kementerian Agama sangat familiar dengan MOOC Pintar ini. Mereka mengaku sering menggunakannya. Jadi untuk membuat Kementerian Agama dengan kualitas SDM unggul, kita hanya perlu bergerak sedikit maju saja.
Muhtadin AR
Kabag TU Pusbangkom SDM Kemenag RI
Editor:


