Kehidupan terus berjalan, pengalaman hidup mengajarkan kita ada kekeliruan yang mungkin tak sengaja kita lakukan, sehingga mengakibatkan salah satunya terlalu mudah dimanfaatkan.
Cole Matheson, dalam tulisannya di laman Geediting.dom mengisahkan pengalamannya sebagai seseorang yang selama bertahun-tahun terlalu mudah dimanfaatkan oleh orang lain.
Menurutnya, pada sebagian besar usia dua puluhan, ia dikenal sebagai pribadi yang selalu berkata “ya” demi menyenangkan orang lain. Ia kerap menggantikan jadwal kerja rekan, menjadi tempat curhat tanpa batas, hingga menerima kesalahan yang bukan tanggung jawabnya.
Namun, titik balik terjadi ketika ia menginjak usia 30 tahun. Menurut Cole Matheson, sikap “terlalu baik” yang ia pelihara justru membuat orang lain tidak menghormatinya. Hal itu semakin terasa saat ia kembali gagal mendapatkan promosi, meskipun kinerjanya lebih unggul dibandingkan rekan-rekannya.
Saat itulah ia menyadari bahwa kurangnya penghormatan dari orang lain berakar pada ketidakmampuannya menghargai diri sendiri.
Cole menegaskan bahwa perubahan tersebut tidak terjadi secara instan. Ia harus melakukan penyesuaian yang disengaja, meski sering kali terasa tidak nyaman. Namun, hasilnya sangat signifikan. Cara orang lain memperlakukannya berubah drastis.
Berikut 6 perubahan utama yang menurut Cole Matheson mengubah cara orang memandang dan menghormatinya.
1. Berhenti meminta maaf secara berlebihan
Menurut Cole Matheson, ia dulu terbiasa meminta maaf hampir untuk segala hal: bertanya, berbeda pendapat, bahkan sekadar berbicara. Kebiasaan ini membuatnya seolah-olah merasa tidak pantas hadir dalam sebuah percakapan.
Ia kemudian mulai menghilangkan kata “maaf” yang tidak perlu dan menggantinya dengan pernyataan langsung. Perubahan kecil ini, menurutnya, memberi sinyal bahwa ia memiliki kontribusi dan nilai. Cole menambahkan bahwa terlalu sering meminta maaf justru dapat menurunkan kredibilitas seseorang di mata orang lain.
2. Membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum menjawab
Cole Matheson menjelaskan bahwa ia tidak lagi langsung menyetujui setiap permintaan. Ia mulai memberi jeda dengan mengatakan akan mengecek jadwal atau mempertimbangkannya terlebih dahulu.
Menurutnya, jeda singkat ini bukan hanya membantunya membuat keputusan yang lebih rasional, tetapi juga menunjukkan bahwa waktunya berharga. Ia mengaku sempat merasa bersalah di awal, namun justru mendapati orang lain lebih menghormati batas yang ia tetapkan.
3. Menetapkan batas tanpa penjelasan panjang
Dulu, Cole merasa perlu memberikan alasan panjang lebar setiap kali menolak permintaan. Kini, ia memilih pernyataan singkat dan tegas tanpa pembenaran berlebihan.
Menurut Cole Matheson, belajar mengatakan “tidak” tanpa rasa bersalah sangat berpengaruh pada kesehatan mentalnya. Ia juga menekankan bahwa menetapkan batas bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain.
4. Tidak lagi berusaha disukai semua orang
Cole Matheson mengisahkan bahwa setelah keluar dari pekerjaan lamanya, banyak hubungan kerja yang memudar. Dari situ, ia menyadari bahwa tidak semua relasi bersifat tulus; sebagian hanya bersifat transaksional.
Menurutnya, berusaha menyenangkan semua orang justru membuat seseorang kehilangan jati diri. Cole menyimpulkan bahwa orang cenderung lebih menghormati mereka yang berani tidak disukai dibandingkan mereka yang selalu mencari persetujuan.
5. Menerapkan ketersediaan yang terbatas
Cole juga mulai mengubah kebiasaan selalu tersedia setiap saat. Ia menetapkan waktu-waktu tertentu untuk tidak dapat dihubungi dan menghentikan kebiasaan merespons pesan kerja di luar jam wajar.
Menurut Cole Matheson, sikap terlalu mudah diakses justru mengundang ketidak-hormatan. Ia menilai bahwa menjaga batas ketersediaan membuat seseorang dipandang lebih profesional dan kompeten.
6. Berani menyampaikan perbedaan pendapat secara sopan
Cole Matheson mengakui bahwa dulu ia selalu mengiyakan pendapat orang lain demi menjaga suasana. Kini, ia memilih menyampaikan perbedaan pandangan secara tenang dan langsung.
Menurutnya, keberanian untuk tidak selalu setuju justru membuat orang lain lebih menghargai pandangannya. Ia menyadari bahwa selalu sepakat bukanlah bentuk kontribusi, melainkan membuat seseorang tidak terlihat.
Cole Matheson menegaskan bahwa perubahan dari pribadi yang mudah dimanfaatkan menjadi sosok yang dihormati bukan berarti menjadi keras atau tidak peduli. Intinya adalah menyadari bahwa kebutuhan, waktu, dan pendapat diri sendiri sama pentingnya dengan orang lain.
Menurut Cole, orang tidak menghormati mereka yang tidak menghargai diri sendiri. Setelah memahami prinsip tersebut, relasi yang tersisa justru menjadi lebih sehat dan bermakna, karena hanya orang-orang yang benar-benar menghargai dirinya yang tetap bertahan.
Editor:


