Arina.id -- Tatap matanya kosong. Dia hanya memberi lambaian tangan pada Abdullah, 10 tahun, sang anak yang berada dalam ambulans. Seketika, mobil itu bergerak kesedihan Abeer pun pecah. Air matanya menggenang.
Perasaan Abeer Abu Yosef, perempuan 40 tahun, benar-benar campur aduk. Di satu sisi, dia senang karena Abdullah – anaknya yang mengalami gagal ginjal selama sepuluh tahun terakhir akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berobat ke Uni Emirat Arab. "Anakku sakit," katanya. "Ia memerlukan hemodialisis tiga hingga empat hari seminggu."
Kepergiannya itu tentu bisa membuatnya mendapatkan perawatan yang lebih baik dibandingkan di tanah kelahiran, Khan Younis, Gaza. Dalam setahun serbuan Israel, termasuk terhadap rumah sakit di Jalur Gaza membuatnya kesulitan dalam mengakses perawatan dialisis, yang menyebabkan kondisi kesehatannya semakin memburuk.
Tapi kegembiraan itu seketika juga melemparkannya pada ketiadaan. Setelah menjalani pemeriksaan keamanan, meskipun tidak terlibat dalam kegiatan politik atau militer apa pun, Israel – yang mengontrol penyeberangan Kerem Shalom, tidak mengizinkan Abeer untuk pergi menemani sang anak.
Tangis Abeer pun pecah. “Seolah-olah jiwa saya telah direnggut dari tubuh saya, dan saya dibiarkan mati selamanya," katanya sambil terisak.
Walau berat, tak ada yang bisa dilakukannya selain melepas Abdullah pergi. Akhirnya dia mengirim kakak Abdullah, seorang anak perempuannya berusia 13 tahun untuk menemaninya berobat ke luar negeri.
"Putri saya juga masih kecil dan tidak tahu apa yang dibutuhkan saudaranya, dan saya merasa kasihan padanya karena ia harus bertanggung jawab atas saudaranya, tetapi kami tidak punya pilihan. Saya khawatir pada mereka. Saya hanya bisa berharap ada orang yang mau merawat mereka," katanya pada Xinhua.
Tahun baru yang selalu melahirkan harapan baru bagi Abeer dan keluarga dari 45 pasien yang berangkat tepat pada pergantian lalu itu, juga berarti derita baru. Meski diizinkan meninggalkan Gaza, mereka pergi tanpa didampingi orang tuanya.
Serangan Israel sejak Oktober tahun 2023, menyasar rumah sakit dengan dalih tempat tersebut digunakan oleh pejuang Hamas sebagai tameng dan tempat persembunyian senjata. Akibatnya, serangan itu telah menghancurkan sistem perawatan kesehatan di wilayah tersebut dan memaksa sebagian besar rumah sakitnya tutup. Rumah sakit yang masih buka hanya berfungsi sebagian.
Tentu saja hal ini menjadi malapetaka. Bukan saja karena penanganan terhadap warga sipil yang terjebak dalam baku tembak dilakukan dengan pasokan medis yang terbatas. Tapi juga mereka seperti Abdullah, yang memerlukan proses cuci darah secara rutin.
Menurut Kementerian Kesehatan, orang yang bernasib seperti Abdullah tidaklah sedikit. Kementeriun menyebutkan jumlahnya mencapai ribuan orang. Mereka -- warga Palestina di Gaza memerlukan perawatan medis di luar negeri. Namun hal itu sulit dilakukan karena Israel telah mengendalikan semua titik masuk dan keluar sejak merebut kota selatan Rafah pada bulan Mei.
Setelah melalui berbagai proses, di antaranya juga masyarakat internasional, akhir pertengahan tahun lalu, pihak Israel membuka perbatasan bagi mereka yang pergi untuk mendapatkan penanganan sebagai akibat fasilitas medis yang terbatas di Gaza.
Tentu patut disyukuri, mereka – para pasien itu bisa pergi. Meski begitu, mereka harus mendapatkan pemeriksaan yang ketat. Walhasil, banyak orang tua yang kembali dirundung sedih harus berpisah dengan anak-anak yang harusnya mereka dampingi.
Kala pertama kalinya, pintu berobat k eluar negeri dibuka pada Juni tahun lalu, keadaannya tak berbeda. Mereka, pasien yang sakit tidak bisa didampingi orang tuanya. Naglaa Abu Kwaik, sang nenek yang menemani Fayez, 5 tahun, yang mengidap tumor di kelenjar getah beningnya.
Di luar Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, Kamla Abu Kwaik sang ibu hanya bisa menangis saat melambaikan tangan kepada putranya yang berada dalam bus yang melintasi perbatasan untuk berobat di Mesir.
"Saya sangat sedih meninggalkannya, dia sakit," kata Kamla pada CBC. "Dia menangis dan saya tidak bisa berbuat apa-apa untuknya."
Kamla dan Abeer, hanyalah satu dari sekian banyak ibu yang harus berpisah dengan anak-anaknya akibat kebijakan Israel. “Saya hanya bisa menghitung hari menunggunya kembali ke pelukan saya."
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor:


