Ruangan itu kecil dan juga sesak. Tapi, di sanalah mereka mendapatkan kembali hidupnya. Bocah laki-laki berusia 12 tahun itu misalnya. Di balik headset virtual reality (VR) dia mendapatkan kembali kaki-kakinya yang terampas oleh bom pasukan Israel.
Di sebuah dunia di balik headset itu, dia bisa menendang bola, melompat, bahkan berlari. Keriangan di wajahnya pun tidak lantas hilang, meski headset itu sudah dilepasnya.
Teknologi realitas virtual, yang umum digunakan dalam permainan game, menjadi terobosan dalam mengusir pengalaman traumatis yang dialami bocah-bocah Gaza, Palestina, yang kehilangan anggota tubuhnya.
Proses amputasi teramat berat bagi mereka. Bagaimana pun kehilangan anggota tubuh meninggalkan trauma yang berat. Untuk pulih, mereka perlu waktu lama. Menyembuhkan luka hati merupakan yang tersulit.
Sham, seorang gadis berusia enam tahun misalnya. Dia kehilangan tangannya yang putus akibat serangan Israel, begitu terpukul. Dalam sehari dia hanya mengucapkan satu kata. Bahkan sering terjadi, dia sama sekali tak bersuara.
Skala trauma di Gaza memang sangat berat. Menurut Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), sejak Oktober 2023, lebih dari 4.000 orang menjalani proses amputasi. Hal ini menimbulkan trauma berat, tidak hanya pada anak-anak tapi juga orang dewasa.
“Fase pertama biasanya adalah mereka masih bisa menerima kenyataan yang terjadi dengan tubuhnya. Hal itu yang membuat prosesnya berlangsung lama, bahkan bisa berbulan-bulan,” kata Mosab Ali kepada Middle East Monitor.
Mosab, 29 tahun, fasih menjelaskan soal itu karena dia mengalaminya sendiri. Anak laki-lakinya, Amin – yang berusia 7 tahun, mengalami cedera kaki akibat bom dalam serangan udara pasukan Israel.
Peristiwa yang terjadi pada Maret 2024 itu membuatnya harus naik meja operasi. Pasca tindakan itu, Amin harus bergulat dengan trauma akibat cedera dan lingkungan rumah sakit yang mengerikan. Seperti korban lainnya, anaknya itu pun hanya bisa murung. Tak ada lagi, semangat.
Mosab sedih tentu saja. Namun, dia menemukan jalan. Sarjana lulusan studi elektronik dan industri Palestine Technical College mendapat ide untuk mengajak Amin berpetualang dalam dunia lain, yakni realitas virtual.
Pilihan Mosab -- yang pernah mengikuti kompetisi game global, tidaklah keliru. Setelah dibujuk berkali-kali, dengan headsetnya Amin menjelajahi lanskap hijau yang dipenuhi hewan.
Dunia yang tampak di sana layaknya sebuah galaksi yang jauh dari kehancuran di sekitarnya menggugah sang anak. "Melihatnya tersenyum lagi mengubah segalanya," kenang Mosab.
Realitas virtual inilah yang kemudian menjadi upayanya untuk penyembuhan luka perang. Dia terdorong untuk menolong anak-anak lainnya, yang senasib. Mosab membangun sebuah dunia baru untuk menyembuhkan trauma anak-anak yang malang itu.
“Saya mengambil ide dari game dan menghubungkannya dengan kesehatan mental. Saya berpikir, kita harus melakukan semua yang ada untuk memberi manfaat bagi mereka," kata Mosab.
Dia mendirikan tenda kecil di luar Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa untuk menawarkan bantuan yang sama kepada anak-anak lain yang terluka. Terapi ini dikemas dengan nama TechMed.
Namun tidaklah mudah. Pengeboman yang tiada henti – salah satunya ikut menghancurkan kantornya, tak lantas menghentikan niat baiknya itu. Mosab membangun inisiatifnya di dalam ruangan dengan dukungan rumah sakit.
Langkah ini pun mendapatkan banyak dukungan. Salah satunya dari psikoterapis terkenal di Gaza, Ismail Aburukbe. Bersama-sama, mereka menggunakan VR untuk membantu anak-anak dan orang dewasa, menyesuaikan pengalaman dengan kebutuhan masing-masing.
Ahmad Dweik, 10 tahun, yang kehilangan lengannya dalam sebuah pengeboman mengalami trauma yang berat. Dia menolak berbicara, bermain, atau mengakui amputasinya.
Namun pelan-pelan, melalui berbagai sesi VR, ia mulai terhubung kembali dengan dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Pada sesi keempatnya, ia berinteraksi dengan orang lain, membaca ayat-ayat Al-Quran, dan bahkan mengatasi traumanya . Sebuah transformasi yang tidak pernah terpikirkan oleh keluarganya.
Terapi ini juga menjangkau orang dewasa. Abdel Rahim, 20 tahun, yang menjalani proses amputasi pada kakinya mengalami trauma berat. “Selama enam bulan ia menolak membicarakan cederanya. Dia juga tak mau melihat kakinya dan menjadi sangat frustrasi,” jelas Mosab.
Setelah diperkenalkan dengan terapi VR, Abdel Rahim mengalami terobosan. Awalnya ragu-ragu, ia menemukan kegembiraan yang tak terduga dalam menjelajahi lingkungan virtual. Selama lima sesi, ia mulai terbuka, berbicara tentang insiden itu dan bahkan menghadapi tempat terjadinya. Sekarang, ia dapat melihat kakinya yang diamputasi tanpa merasa tertekan.
Kerja Mosab belum usai. Gaza pun masih mencekam. “Blokade, kelaparan, pengeboman terus-menerus terjadi,” jelas Mosab.
Dengan peralatan yang seadanya, hanya ada empat headset VR, Mosab bermimpi untuk terus bekerja menyelamatkan mereka dari trauma. Baginya, langkah yang dilakukannya adalah revolusi diam-diam membangkitkan semangat mereka akibat serangan pasukan Israel.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor:


