Arina.id - Perjalanan haji bukan sekadar perpindahan fisik menuju Tanah Suci, melainkan juga momentum penyucian diri secara menyeluruh. Oleh karena itu, menjaga adab selama perjalanan menjadi bagian penting dalam rangka memperoleh haji yang mabrur. Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami wa Adilatuhu (Darul Fikr, 1985: juz 3, h. 350-353) menjelaskan, ada 5 adab utama yang dianjurkan calon jemaah agar perjalanan hajinya berlangsung lancar, aman, dan diberkahi.
1. Menjaga Akhlak Selama Perjalanan
Menjaga akhlak selama perjalanan haji merupakan bagian dari ibadah itu sendiri. Seorang musafir dianjurkan untuk hidup sederhana, menghindari berlebih-lebihan dalam makan, penampilan, dan kenyamanan. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi berikut:
قَامَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَنِ ٱلْحَاجُّ؟ قَالَ: ٱلشَّعِثُ ٱلتَّفِلُ
Artinya, “Seorang laki-laki berdiri dan bertanya kepada Nabi ﷺ : “Siapakah orang yang berhaji itu?” Beliau menjawab, “Yaitu yang rambutnya kusut dan tubuhnya berdebu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Mājah).
Selain itu, penting bagi jamaah untuk memperlakukan sesama dengan lemah lembut dan menjaga etika sosial. Dianjurkan agar tidak bertengkar, tidak menyakiti orang lain, serta menghindari berdesakan di jalan atau tempat umum. Lisan pun harus dijaga dari ucapan buruk seperti mencela, mengumpat, atau melaknat. Rasulullah pernah menegasakan bahwa orang yang berhaji tanpa berkata kotor dan berbuat dosa akan kembali seperti bayi yang baru lahir.
2. Membaca Takbir dan Tasbih
Selama perjalanan, seorang jamaah juga dianjurkan memperbanyak dzikir, salah satunya adalah mengucapkan takbir (Allahu Akbar) dan tasbih (subhanallah). Bacaan takbir disunnahkan untuk dibaca saat kendaraan melintasi medan tinggi, sementara bacaan tasbih disunnahkan saat melewati medan di dataran rendah atau curam. Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan:
ٱلتَّكْبِيرُ وَٱلتَّسْبِيحُ: ٱلسُّنَّةُ ٱلتَّكْبِيرُ عِندَ ٱلْعُلُوِّ، وَٱلتَّسْبِيحُ عِندَ ٱلْهُبُوطِ فِي وَادٍ وَنَحْوِهِ، بِدُونِ رَفْعِ ٱلصَّوْتِ
Artinya, “Takbir dan tasbih: Disunnahkan mengucapkan takbir saat naik ke tempat tinggi, dan mengucapkan tasbih saat turun ke lembah atau tempat rendah, tanpa mengeraskan suara.”
3. Berdoa saat Melintasi Daerah Tertentu
Saat hendak melintasi daerah tertentu, terlebih ketika sudah melihat Madinah atau Makkah, seorang jamaah dianjurkan membaca sebuah doa agar diberi keselamatan dan dijauhkan dari segala keburukan ketika masuk ke wilayah tersebut. Berikut adalah doa yang direkomendasikan oleh Wahbah Az-Zuhaili:
ٱللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا
Allahumma innī asʾaluka khayrahā wa khayra ahlihā wa khayra mā fīhā, wa aʿūdhu bika min sharrihā wa sharri ahlihā wa sharri mā fīhā.
Artinya, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan tempat ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan yang ada di dalamnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan tempat ini, keburukan penduduknya, dan keburukan yang ada di dalamnya.”
4. Berdoa saat Malam Hari
Ketika memasuki waktu malam dalam perjalanan, seorang jamaah dianjurkan membaca doa agar diberi keselamatan dan terhindar dari segala mara bahaya. Berikut adalah doa yang direkomendasikan oleh Wahbah Az-Zuhaili, mengutip hadits Nabi riwayat Abu Dawud:
يَا أَرْضُ، رَبِّي وَرَبُّكِ ٱللَّهُ، أَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنْ شَرِّكِ وَشَرِّ مَا فِيكِ وَشَرِّ مَا خُلِقَ فِيكِ، وَشَرِّ مَا يَدِبُّ عَلَيْكِ، أَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنْ أَسَدٍ وَأُسْدٍ، وَٱلْحَيَّةِ وَٱلْعَقْرَبِ، وَمِنْ سَاكِنِ ٱلْبَلَدِ، وَمِنْ وَالِدٍ وَمَا وَلَدَ.
Yā arḍu, rabbī wa rabbuki Allāh, aʿūdhu billāhi min syarriki wa syarri mā fīki wa sharri mā khuliqa fīki, wa sharri mā yadibbu ʿalayki, aʿūdhu billāhi min asadin wa usūd, wal ḥayyati wal ʿaqrab, wa min sākini al-balad, wa min wālidin wa mā walad.
Artinya, “Wahai bumi, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. Aku berlindung kepada Allah dari keburukanmu, keburukan yang ada di dalammu, keburukan yang diciptakan di dalammu, dan keburukan makhluk yang merayap di atasmu. Aku berlindung kepada Allah dari singa dan sekutunya, dari ular dan kalajengking, dari para penghuni negeri ini, serta dari yang melahirkan dan apa yang dilahirkannya.”
5. Doa saat Takut dan Sulit
Dalam perjalanan, segala kemungkinan bisa terjadi. Oleh karena itu, selain penanggung jawab kendaraan memastikan kenyamanan dan keamanan secara teknis, kita sebagai jamaah pun dianjurkan membaca doa-doa tertentu demi keselamatan di jalan. Dalam hal ini, Rasulullah menganjurkan kita untuk membaca sebuah doa ketika bertemu sesuatu yang menimbulkan rasa takut. Berikut doanya:
ٱللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ
Allāhumma innā najʿaluk fī nuḥūrihim, wa naʿūdhu bika min syurūrihim
Artinya, “Ya Allah, kami menjadikan Engkau di hadapan mereka, dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.”
Ketika mendapat kendala atau kesulitan tertentu di perjalanan, seorang jamaah dianjurkan membaca doa yang dianjurkan Rasulullah berikut:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ٱلْعَظِيمُ ٱلْحَلِيمُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ رَبُّ ٱلسَّمَاوَاتِ وَرَبُّ ٱلْأَرْضِ، وَرَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْكَرِيمِ
Lā ilāha illallāhal ʿaẓīmuul ḥalīm, lā ilāha illallāh rabbal ʿarsyil ʿaẓīm, lā ilāha illallāh rabbas samāwāti rabbal arḍ, wa rabbal ʿarsyil karīm
Artinya, “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Pemilik ‘Arsy yang agung. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan langit, Tuhan bumi, dan Tuhan Pemilik ‘Arsy yang mulia.”
Menjalankan ibadah haji dengan penuh adab adalah cerminan keikhlasan dan kesungguhan hati dalam beribadah. Lima adab yang telah dibahas di atas bukan sekadar tuntunan teknis, melainkan bagian dari penyempurna ibadah itu sendiri. Semoga setiap langkah jamaah selama perjalanan dihiasi dengan akhlak mulia, doa yang tulus, dan perlindungan dari Allah hingga kembali ke tanah air dengan selamat dan penuh keberkahan.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor:


