Arina.id- Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin mengajarkan bahwa hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membersihkan jiwa dari nafsu duniawi. Puasa seharusnya menjadi latihan spiritual untuk mengendalikan diri dari sifat rakus dan berlebihan. Namun, di era modern, esensi ini kerap dilupakan. Ramadan justru berubah menjadi bulan konsumtif, sebab banyak orang lebih sibuk memikirkan menu berbuka daripada meningkatkan kualitas ibadah dan refleksi diri.
Realitas yang kita saksikan menunjukkan kontradiksi antara makna puasa yang diajarkan para ulama dan praktik yang terjadi di masyarakat. Pasar dan pusat perbelanjaan penuh sesak menjelang berbuka, menampilkan fenomena "lapar mata" yang membuat orang membeli lebih dari yang dibutuhkan. “Pasar Takjil”, demikian orang-orang menyebutnya. “War Takjil”, demikian mereka menjuluki momen berburu makanan itu.
Buka puasa bukan lagi sekadar mengembalikan energi untuk beribadah di malam hari, tetapi sering kali berubah menjadi ajang konsumsi berlebihan. Akibatnya, banyak makanan terbuang sia-sia, sementara esensi menahan diri dari hawa nafsu justru diabaikan. Alih-alih menjadi momentum pengendalian diri, Ramadan bagi sebagian orang justru menjadi ajang memuaskan keinginan duniawi, menjauhkan mereka dari makna spiritual yang sesungguhnya.
Dalam Ihya ‘Ulumiddin, Al-Ghazali menyampaikan:
أَنْ لَا يَسْتَكْثِرَ مِنَ الطعام الحلال وقت الإفطار بحيث يمتلىء جوفه فَمَا مِنْ وِعَاءٍ أَبْغَضُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وجل من بطن مليء مِنْ حَلَالٍ. وَكَيْفَ يُسْتَفَادُ مِنَ الصَّوْمِ قَهْرُ عَدُوِّ اللَّهِ وَكَسْرُ الشَّهْوَةِ إِذَا تَدَارَكَ الصَّائِمُ عِنْدَ فِطْرِهِ مَا فَاتَهُ ضَحْوَةَ نَهَارِهِ وَرُبَّمَا يَزِيدُ عَلَيْهِ فِي أَلْوَانِ الطَّعَامِ حَتَّى اسْتَمَرَّتِ العادات بأن تدخر جميع الأطعمة لرمضان فيؤكل من الأطعمة فِيهِ مَا لَا يُؤْكَلُ فِي عِدَّةِ أَشْهُرٍ.
Artinya, “Jangan berlebihan dalam makan saat berbuka puasa, meskipun makanan tersebut halal, hingga perut penuh. Sebab, tidak ada wadah yang lebih dibenci oleh Allah daripada perut yang dipenuhi makanan halal. Bagaimana mungkin puasa dapat menekan musuh Allah (setan) dan mengendalikan nafsu jika seseorang justru mengganti semua makanan yang terlewat di siang hari saat berbuka, bahkan mungkin melebihinya dengan berbagai jenis makanan?
“Kebiasaan pun berkembang hingga banyak orang menimbun makanan khusus untuk Ramadan, sehingga dalam bulan ini mereka makan lebih banyak dibandingkan bulan-bulan lainnya.” (Al-Ghazali, tanpa tahun: juz 1, h. 235)
Al-Ghazali menekankan bahwa kesederhanaan dalam makan saat berbuka merupakan bagian dari proses penyucian jiwa. Kekenyangan yang berlebihan justru dapat menghilangkan nilai puasa itu sendiri. Selama berpuasa, kita dilatih untuk mengendalikan diri. Dalam kondisi perut kosong, gejolak nafsu dalam diri manusia melemah, sehingga ia lebih mudah menghindari dorongan untuk berbuat maksiat.
Namun, ketika perut diisi penuh saat berbuka, bahkan hingga kekenyangan, kita justru membangkitkan kembali nafsu yang telah melemah sepanjang hari. Alih-alih mempertahankan kendali diri yang telah dilatih selama berpuasa, kita malah memberi ruang bagi hawa nafsu untuk kembali menguasai diri. Akibatnya, dorongan untuk berbuat maksiat pun muncul kembali, mengurangi nilai spiritual yang seharusnya diperoleh dari ibadah puasa.
Al-Ghazali menegaskan:
وَمَعْلُومٌ أَنَّ مَقْصُودَ الصَّوْمِ الْخَوَاءُ وَكَسْرُ الْهَوَى لِتَقْوَى النَّفْسُ عَلَى التَّقْوَى وَإِذَا دُفِعَتِ الْمَعِدَةُ مِنْ ضَحْوَةِ نَهَارٍ إِلَى الْعِشَاءِ حَتَّى هَاجَتْ شَهْوَتُهَا وَقَوِيَتْ رَغْبَتُهَا ثُمَّ أُطْعِمَتْ مِنَ اللَّذَّاتِ وَأُشْبِعَتْ زَادَتْ لَذَّتُهَا وَتَضَاعَفَتْ قُوَّتُهَا وَانْبَعَثَ مِنَ الشَّهَوَاتِ مَا عَسَاهَا كَانَتْ رَاكِدَةً لَوْ تُرِكَتْ عَلَى عَادَتِهَا.
Artinya, “Padahal, tujuan utama puasa adalah mengosongkan perut dan melemahkan hawa nafsu agar jiwa lebih kuat dalam ketakwaan. Jika sejak pagi hingga petang perut dibiarkan kosong lalu saat berbuka diberi makanan lezat dalam jumlah besar hingga kenyang, maka nafsu justru semakin kuat, kenikmatan berlipat ganda, dan syahwat yang sebelumnya tenang bisa kembali bangkit.” (Al-Ghazali, tanpa tahun: juz 1, h. 235)
Pesan Al-Ghazali ini senada dengan sabda Nabi Muhammad berikut:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ، فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوعِ وَالصَّوْمِ.
Artinya, "Sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak Adam sebagaimana darah mengalir. Maka, persempitlah jalannya dengan lapar dan puasa." (HR Anas bin Malik)
Pesan Al-Ghazali ini semakin relevan ketika kita menyadari bahwa mengonsumsi makanan halal secara berlebihan, terutama saat berbuka puasa, dapat meredupkan spiritualitas dan melemahkan semangat ibadah. Imam Asy-Syafi’i pernah menyampaikan:
الشَّبْعُ يُثْقِلُ الْبَدَنَ، وَيُقْسِي الْقَلْبَ، وَيُزِيْلُ الْفِطْنَةَ، وَيُجْلِبُ النَّوْمَ، وَيُضْعِفُ صَاحِبَهُ عَنِ الْعِبَادَةِ..
Artinya, “Makan terlalu kenyang membuat tubuh berat, menjadikan hati keras, menghilangkan kecerdasan, menyebabkan kantuk, dan melemahkan semangat beribadah.” (Abu Nu’aim al-Ashfihani, Ḥilyatul Auliyā, 1988: juz, h. 127).
Pernyataan Imam Asy-Syafi’i ini menegaskan bahwa kekenyangan memiliki banyak mudarat, salah satunya adalah melemahkan semangat ibadah. Bayangkan, di bulan Ramadan yang penuh dengan anjuran ibadah, kita justru bisa kehilangan kesempatan meraih keutamaan karena terlalu larut dalam kenikmatan berbuka. Perut yang selalu berlebihan saat berbuka dapat membuat kita malas beribadah, mengantuk saat Tarawih, dan kehilangan fokus dalam bermunajat. Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini bisa memadamkan semangat ibadah yang seharusnya semakin menyala di bulan suci ini.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk kembali memahami esensi puasa sebagaimana seyogyanya. Ramadan adalah bulan pengendalian diri, bukan bulan konsumsi. Dengan mengurangi perilaku konsumtif dan menggantinya dengan peningkatan ibadah serta kepedulian sosial, kita dapat lebih mendekatkan diri pada makna puasa yang sejati. Menjadikan Ramadan sebagai bulan pembelajaran spiritual akan menjadikan kita pribadi yang lebih disiplin, bersyukur, dan semakin dekat dengan Allah.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor:


