Kisah 2 Bersaudara yang Niat Bertobat dan Berbuat Maksiat

Kisah 2 Bersaudara yang Niat Bertobat dan Berbuat Maksiat

Dalam ajaran Islam, niat mempunyai peran penting sebagai inti dari setiap amal ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim. Tidak hanya itu, niat juga bisa membawa dampak terhadap amal yang dilakukan. Walaupun amal itu terkesan bersifat duniawi, tetapi ketika diniati sebagai ibadah maka akan bernilai pahala. Sebaliknya, ketika melakukan ibadah namun diniati untuk mencari sanjungan dan pujian misalnya, maka ibadah tersebut akan menjadi hampa dan tanpa pahala. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوُلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

Artinya: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju. (HR Bukhari dan Muslim)

Berkaitan dengan niat, ada kisah menarik yang disampaikan oleh Syekh Ahmad ibnu Hijazi Al-Fasyani dalam kitab Al-Majalisus Saniyyah (Semarang, Karya Thoha Putra: t.t) halaman 6. 

Dikisahkan, pada zaman dahulu hiduplah dua orang bersaudara dengan perilaku yang sangat berbeda. Saudara pertama hidup dalam ketaatan dan rajin beribadah, sementara saudara kedua tenggelam dalam kemaksiatan dan gelimang dosa. Keduanya hidup dalam satu rumah, saudara pertama tinggal di lantai atas, sementara saudara kedua menempati lantai bawah.

Suatu hari, saudara yang taat mendapat bisikan yang mempertanyakan cara hidupnya. Bisikan itu menanamkan pemikiran bahwa hidupnya terlalu kaku dan normatif karena terus beribadah, padahal dalam beribadah dan menahan hawa nafsu itu cukup melelahkan. 

Seharusnya, kata bisikan itu, di usia muda ia bisa membebaskan hawa nafsu dan menghiraukan belenggu aturan agama agar bisa menikmati berbagai kesenangan dunia. Ketika sudah tua nanti, barulah bertobat dan Allah pasti akan mengampuninya karena Allah Maha Pengampun.

Rupanya bisikan itu berhasil memengaruhi pemikirannya, dia pun berniat mengikuti perilaku saudaranya yang hidup dengan kenikmatan yang dibingkai kemaksiatan.

 “Baiklah, aku akan turun menemui saudaraku dan menemaninya menikmati aneka kesenangan dunia,” kata saudara pertama dalam hatinya sambil melangkahkan kaki untuk turun menemui dan mengikuti saudaranya yang seorang pemabuk.

Di lantai bawah, saudaranya yang sering bermaksiat itu rupanya tersadar dari mabuknya dan menemukan dirinya dalam keadaan hina. Dalam hatinya, ia berkata:

“Sungguh, aku telah menyia-nyiakan hidupku dalam kemaksiatan, sementara saudaraku selalu mendekatkan diri pada Allah dan bermunajat kepada-Nya. Dia akan masuk surga karena ketaatannya kepada Allah, sedangkan aku akan masuk neraka karena dosa-dosaku,” bisiknya dalam hati.

Setelah itu, pemabuk ini pun akhirnya bertobat dan berniat memperbaiki diri dengan beribadah. Ia lalu melangkahkan kaki untuk naik ke lantai atas agar bisa bergabung bersama saudaranya dalam beribadah. Saat itu, si pemabuk ini melangkah dengan niat ketaatan, sementara saudaranya yang taat justru turun dengan niat bermaksiat. 

Saat keduanya berjalan, kaki saudara yang turun itu tergelincir, lalu ia jatuh menimpa saudaranya yang akan naik ke lantai atas. Tak disangka, dua bersaudara itu pun terjatuh dan terjadi benturan yang mengakibatkan keduanya meninggal dunia. Atas insiden ini, orang yang ahli ibadah akhirnya dikumpulkan berdasarkan niat maksiatnya, sementara orang yang ahli maksiat dikumpulkan berdasarkan niat tobat dan ibadahnya. 

Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah niat bagi seorang muslim. Untuk itu, ketika terbersit sebuah niat maksiat, hendaknya segera beristighfar dan membuang jauh-jauh niat maksiat tersebut karena umur seseorang tidak ada yang tahu. Hal yang sangat dikhawatirkan adalah ketika berniat melakukan suatu kemaksiatan, ajal datang menjemput sebagaimana yang tejadi dalam kisah di atas.

Kisah ini juga menunjukkan betapa pentingnya sebuah istiqamah dalam beribadah. Sebagaimana diketahui, menjalankan ketaatan dan ibadah sering dipenuhi kesulitan dan tantangan. Tanpa sikap istiqamah, seseorang akan mudah tergoda oleh kenikmatan maksiat yang tampak lebih ringan dan menyenangkan. Selain itu, sifat alami manusia adalah mudah merasa jenuh dan bosan saat melakukan hal yang sama dalam waktu lama. Jika ketaatan tidak diiringi dengan istiqamah, seseorang bisa saja tergelincir dan terbawa oleh arus rasa bosan tersebut. Wallahu a‘lam.


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo