Tafsir Surat Al-Isra Ayat 1: Makna dan Hikmah Perjalanan Isra Nabi Muhammad

Tafsir Surat Al-Isra Ayat 1: Makna dan Hikmah Perjalanan Isra Nabi Muhammad

Isra Mi’raj adalah peristiwa agung yang mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha. Berbicara soal Isra Mi’raj, maka tidak lepas dari Surat Al-Isra ayat 1. Ayat Al-Qur’an inilah yang menjelaskan peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١

Artinya, “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: [17] 1)

Menurut para ulama ahli tafsir, asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) Surat Al-Isra ayat 1 ini berkaitan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang dialami oleh Rasulullah SAW. Pada awalnya, sebagian besar kaum Quraisy meragukan dan bahkan mendustakan kisah tersebut setelah Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya. 

Mereka tidak dapat menerima pernyataan bahwa Rasulullah dapat melakukan perjalanan dalam semalam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, kemudian naik ke langit untuk berjumpa dengan Allah. Bagi mereka, perjalanan semacam itu dianggap mustahil dan bertentangan dengan logika manusia.

Sebagai reaksi terhadap keraguan tersebut, ayat Al-Isra ayat 1 turun dengan menyebutkan bahwa perjalanan ini dilakukan oleh Allah dengan hamba-Nya (Rasulullah SAW) pada malam hari. Dengan turunnya ayat ini, Allah mengonfirmasi bahwa peristiwa Isra adalah sebuah kebenaran dan bukti atas kekuasaan-Nya yang tak terbatas. 

Dalam konteks ini, Al-Isra ayat 1 tidak hanya menjelaskan kejadian luar biasa tersebut, tetapi juga membantah tuduhan kaum Quraisy yang menganggap Rasulullah telah menyebar hoaks. Sehingga, bagi umat Islam ayat ini menjadi penguat keyakinan bahwa mukjizat Isra’ dan Mi’raj adalah kenyataan yang sahih dan harus diterima sebagai bagian dari keimanan. 

Hubungan dengan Ayat Sebelumnya

Surat Al-Isra ayat 1 ini memiliki hubungan (munasabah) dengan ayat sebelumnya, yaitu dengan An-Nahl ayat 127. Hubungan yang dimaksud adalah hubungan historis, sebab antara An-Nahl ayat 127 dan Al-Isra ayat 1 memiliki rangkaian peristiwa sejarah yang saling berkaitan. Hal ini juga dikonfirmasi oleh Syaikh Muhammad bin Yusuf asy-Syami dalam Subulul Huda war Rasyad. 

An-Nahl ayat 127 menjelaskan tentang dorongan bersabar kepada Nabi Muhammad atas cobaan dakwahnya selama di Makkah, ditambah pada tahun tersebut wafat pula dua orang yang sangat dicintainya, yaitu Siti Khadijah dan Abu Thalib. Peristiwa ini dikenal dengan ‘Amul Huzni (tahun kesedihan), terjadi pada tahun 10 kenabian. Sebagaimana diketahui, perstiwa Isra Mi’raj terjadi pada tahun tersebut, tepat setelah Nabi melepas kepergian dua orang yang sangat disayanginya. 

Peristiwa Isra Mi'raj yang terjadi tepat setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib menjadi pelipur lara bagi Nabi Muhammad. Ketika dukungan moral dan fisik dari keduanya tidak ada lagi, Rasulullah menghadapi tantangan berat, baik dalam dakwah maupun kehidupan pribadi. Selain itu, penolakan dan penghinaan saat berdakwah ke Thaif semakin menambah beban psikologis beliau. Dalam situasi seperti itu, Allah memperjalankan Nabi dalam perjalanan Isra Mi'raj sebagai bentuk hiburan ilahi sekaligus penguatan spiritual. Allah berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 127:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلَّا بِاللّٰهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ ۝١٢٧

Artinya, “Bersabarlah (Nabi Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan (pertolongan) Allah, janganlah bersedih terhadap (kekufuran) mereka, dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.” (QS. An-Nahl: [16]: 127)

Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Jarir at-Tabari dalam tafsirnya menjelaskan, Allah SWT menegaskan kepada Nabi Muhammad untuk tetap sabar menghadapi segala cobaan yang datang dari orang-orang Makkah. Perintah ini mengingatkan bahwa kesabaran Nabi hanya dapat terwujud dengan bantuan dan pertolongan Allah. Meskipun banyak penderitaan yang dihadapi, Allah akan memberikan kekuatan kepada beliau untuk terus bertahan dalam perjuangan dakwah.

Selanjutnya, Allah memerintahkan Nabi untuk tidak bersedih atas penolakan dan pengingkaran yang datang dari kaum musyrikin. Mereka yang menuduh Nabi sebagai pembohong, penyihir, atau peramal tidak perlu dihiraukan. Ayat ini menekankan agar Nabi tidak merasakan kesedihan berlarut karena kebodohan orang-orang yang menentang kebenaran. (At-Thabari, 2001: juz 14, h. 407)

Dimulai dengan Tasbih

Salah satu yang menarik dan banyak dibahas oleh para ulama berkaitan dengan Al-Isra ayat 1 adalah lafaz tasbih yang menjadi awal ayat. Penyematan tasbih pada awal ayat ini memiliki hikmah yang luar biasa. Ibnul Jauzi dalam Zadul Masir sebagaimana dikutip Asy-Syami dalam Subulul Huda war Rasyad, menjelaskan sebagaimana berikut:

الحكمة في الاتيان به هنا وجهان: أحدهما: أن العرب تسبح عند الامر العجيب، فكأن الله تعالى عجب خلقه بما أسدى إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم من الاسراء به. الثاني: أن يكون خرج مخرج الرد عليهم، لأنه صلى الله عليه وسلم لما حدثهم عن الاسراء به كذبوه، فيكون المعنى تنزه الله تعالى أن يتخذ رسولا كذابا. 

Artinya, “Hikmah di balik penyebutan ini ada dua: Pertama, orang Arab biasa mengucapkan "Subhanallah" ketika melihat sesuatu yang menakjubkan, sehingga seolah-olah Allah membuat makhluk-Nya kagum dengan apa yang telah diberikan-Nya kepada Rasulullah SAW berupa peristiwa Isra’.” 

“Kedua, hal ini bisa juga dimaksudkan sebagai tanggapan terhadap mereka yang mengingkari peristiwa Isra’ tersebut. Ketika Rasulullah SAW menceritakan tentang Isra’ kepada mereka, sebagian dari mereka mendustakan. Maka, makna yang terkandung adalah bahwa Allah Maha Suci dan tidak mungkin memilih seorang rasul yang berbohong.” (Asy-Syami, tanpa tahun: juz 3, h. 3)

Dari pernyataan ini dipahami bahwa pembukaan ayat Al-Isra ayat 1 dengan kalimat tasbih memiliki dua hikmah utama yang saling melengkapi. Pertama, penggunaan tasbih (subhanallah) merupakan ekspresi orang Arab saat menghadapi sesuatu yang luar biasa dan menakjubkan. Allah SWT seolah-olah ingin mengingatkan manusia akan keagungan-Nya dengan menghadirkan mukjizat Isra bagi Rasulullah, sebuah perjalanan yang melampaui akal manusia. Hal ini menggambarkan kekuasaan Allah yang tidak terbatas, sehingga menciptakan rasa kagum yang mendalam bagi orang-orang yang beriman.

Kedua, tasbih juga menjadi jawaban tegas atas tuduhan orang Quraisy yang tidak mempercayai Isra. Ketika sebagian kaum Quraisy mengingkari peristiwa tersebut dan menuduh Rasulullah berbohong, ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Suci dan mustahil memilih seorang rasul yang berdusta. Dengan demikian, tasbih bukan hanya seruan keagungan, tetapi juga pernyataan kebenaran yang membantah keraguan dan menguatkan posisi Rasulullah sebagai utusan Allah yang terpercaya.

Penggunaan Kata ‘Abdun (Hamba)

Dalam Al-Isra ayat 1, Allah SWT menyebut Nabi Muhammad dengan frasa bi ‘abdihi yang berarti hamba-Nya. Menariknya, Allah tidak menggunakan lafaz nabiyyihi (nabi-Nya) atau rasulihi (rasul-Nya), dua kata yang memiliki arti lebih spesifik. Artinya, kata hamba bersifat umum dan merupakan identitas bagi hamba Allah secara umum, akan tetapi kata nabi atau rasul hanya terbatas pada nabi atau utusan Allah. Mengapa demikian? 

Alasannya adalah karena hamba atau kehambaan ('ubudiyah) merupakan level tertinggi di sisi Allah. Ketika seseorang menyadari dirinya seorang hamba, maka ia juga menyadari dirinya sebagi seorang makhluk yang memiliki kewajiban untuk menghamba atau menyembah kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, para ulama sering menyebut bahwa maqam (kedudukan) tertinggi bagi seorang manusia adalah ketika ia sadar sepenuhnya sebagai hamba Allah dan menjalani kewajiban sebagaimana semestinya seorang hamba sejati. 

Kemudian, kata ‘abdun' dalam Al-Isra ayat 1 menjadi semakin istimewa karena disandarkan kepada Allah (dalam bentuk dhomir). Syekh Azakariya dalam Fathur Rahman mengungkapkan:

قال تعالى : «بعبده» دون نبيه أو حبيبه لئلا تضل أمته أو لأن وصفه بالعبودية المضافة إلى الله تعالى أشرف المقامات.

Artinya, “Allah berfirman, [dengan hamba-Nya], tidak disebutkan ‘dengan Nabi-Nya’ atau ‘dengan kekasih-Nya, agar umatnya tidak tersesat atau karena sebutan ‘hamba’ yang dikaitkan dengan Allah adalah kedudukan yang paling mulia”. (Asy-Syami, tanpa tahun: juz 3, h. 9)

Dari ungkapan ini dapat dipahami bahwa kata ‘abdun’ dilekatkan langsung kepada Allah SWT (dalam bentuk dhomir hi) menggambarkan posisi Nabi sebagai sosok paling mulia di sisi-Nya. Kata ‘abdun’, yang sudah mengandung makna penghambaan, menjadi semakin istimewa karena disandarkan pada lafaz Allah.

Sebagaimana Ka’bah disebut “Baitullah”, berasal dari kata “Bait” yang disandarkan pada kata “Allah”, menunjukkan bahwa Ka’bah merupakan tempat sangat mulia. Demikian juga bulan Rajab disebut “Syahrullah”, dari kata “Syahrun” yang disandarkan pada kata “Allah”, menunjukkan bahwa Rajab merupakan bulan yang dimuliakan dalam Islam.

Dari sederet keterangan menarik berkaitan dengan Al-Isra ayat 1 ini menunjukkan bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan momen spiritual yang sarat makna dan pelajaran penting. Dengan mengetahui fakta-fakta tersebut, semoga kecintaan kita kapada Baginda Nabi Muhammad semakin kuat, dan keimanan kita kapada Allah SWT selalu meningkat. Amin.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo