Idulfitri Menyapa Nyepi: Pelajaran Sunyi tentang Toleransi

Idulfitri Menyapa Nyepi: Pelajaran Sunyi tentang Toleransi

Pada suatu pagi di pekan akhir di bulan Maret, ketika gema takbir Idulfitri masih menggantung di langit Nusantara, sebagian wilayah negeri ini justru tenggelam dalam keheningan Nyepi. Dua perayaan besar ini hadir hampir bersamaan. Keriaan pertama penuh dengan pelukan dan silaturahmi, pada bagian lain mengajarkan diam dan perenungan. Perjumpaan dua suasana ini menyimpan pesan yang dalam: toleransi bukan sekadar slogan, melainkan laku hidup. Di negeri yang berlapis keyakinan seperti Indonesia, Idulfitri dan Nyepi seakan dua aliran sungai berbeda namun bermuara pada nilai yang sama yaitu kedamaian dan kesadaran diri.

Pagi itu saya teringat sebuah pengalaman beberapa tahun silam ketika berada di Bali menjelang Nyepi. Seorang sahabat Muslim yang bekerja di Denpasar bercerita bahwa setiap tahun ia dan keluarganya menyiapkan Idulfitri dengan sederhana. Tak ada suara petasan, tak ada pengeras suara yang riuh, karena mereka menghormati tetangga Hindu yang sedang menjalani catur brata penyepian, empat pantangan utama Nyepi: tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak bersenang-senang.

Saat mereka diam, kami belajar menahan diri, katanya. Saat kami merayakan Idulfitri, mereka pun memberi ruang dengan penuh hormat. Pengalaman sederhana itu terasa lebih kuat daripada pidato panjang tentang toleransi. Ia adalah pelajaran hidup yang nyata, bahwa menghormati keyakinan orang lain sering kali dimulai dari hal kecil: menurunkan volume suara, menahan ego, dan menyadari bahwa kita hidup bersama.

Dalam perspektif keislaman, sikap semacam itu bukanlah hal baru. Al-Qur’an menegaskan prinsip kebebasan beragama dalam firman Allah: Lakum dînukum wa liyadîn, bagimu agamamu dan bagiku agamaku (QS. Al-Kafirun: 6). Prinsip ini menjadi fondasi etika sosial umat Islam dalam masyarakat majemuk.

Kementerian Agama RI melalui konsep moderasi beragama juga menekankan pentingnya sikap tawazun (seimbang) dan tasamuh (toleran) dalam kehidupan berbangsa. Moderasi bukan berarti mencairkan keyakinan, tetapi menempatkan agama sebagai sumber kedamaian, bukan pertentangan. Maka ketika Idulfitri bertemu Nyepi, kita sebenarnya sedang menyaksikan sebuah harmoni sosial yang jarang dimiliki bangsa lain. Yang satu mengajarkan kemenangan setelah menahan diri selama Ramadan, yang lain mengajarkan pembersihan diri melalui keheningan total. Dua jalan spiritual berbeda, namun keduanya menuju tujuan yang sama: memurnikan manusia dari kesombongan.

Moderasi Beragama: Dari Wacana ke Pengalaman Hidup

Namun di tengah keindahan itu, kita tidak boleh menutup mata terhadap realitas lain. Di era media sosial, intoleransi sering muncul bukan dari perjumpaan langsung, melainkan dari jarak digital. Sebuah komentar tajam, potongan video yang disalahpahami, atau ujaran kebencian dapat dengan cepat memantik emosi publik.

Inilah problem kontekstual yang kita hadapi hari ini: toleransi sering dipuji dalam kata-kata, tetapi diuji dalam praktik sehari-hari. Saya teringat sebuah peristiwa kecil di kampung halaman beberapa waktu lalu. Saat Ramadhan hampir usai, seorang tetangga non-Muslim membantu memasang lampu hias di halaman masjid. Ia tersenyum sambil berkata, Saya tidak ikut berpuasa, tapi saya ikut bergembira melihat kalian menyambut hari raya. Kalimat itu sederhana, tetapi menyentuh. Ia menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya tugas minoritas atau mayoritas; ia adalah tanggung jawab bersama.

Dalam tradisi Islam sendiri, Nabi Muhammad SAW telah memberikan teladan kuat tentang hidup berdampingan. Piagam Madinah yang disusun Rasulullah pada abad ke-7 sering disebut sebagai salah satu contoh awal kontrak sosial pluralistik. Dalam dokumen tersebut, umat Muslim, Yahudi, dan berbagai kabilah lain di Madinah hidup dalam satu komunitas politik yang saling melindungi. Sejarawan Karen Armstrong bahkan menyebut Piagam Madinah sebagai bentuk awal masyarakat multikultural yang diatur oleh prinsip keadilan dan saling menghormati.

Di Indonesia, semangat itu tercermin dalam falsafah Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Ketika Nyepi membuat jalanan sunyi dan Idulfitri menghidupkan rumah-rumah dengan kunjungan keluarga, keduanya sebenarnya sedang merawat nilai yang sama: kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian.

Moderasi beragama pada akhirnya bukanlah konsep akademik semata. Ia adalah praktik harian yang lahir dari empati. Ia tumbuh ketika kita mampu menempatkan diri pada posisi orang lain, merasakan sunyi mereka, menghormati ibadah mereka, dan merayakan kebahagiaan mereka tanpa rasa curiga.

Maka perjumpaan Idulfitri dan Nyepi seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua. Di tengah dunia yang sering gaduh oleh konflik identitas, Indonesia masih memiliki cerita indah tentang kebersamaan.

Seperti dua nada yang berbeda dalam satu harmoni, takbir dan keheningan Nyepi mengajarkan satu hal yang sama: kedamaian tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kesediaan untuk saling memahami. Dan mungkin, di situlah letak kebijaksanaan Nusantara, bahwa terkadang pelajaran terbesar tentang persaudaraan justru lahir dari sebuah sunyi.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Prof Hepni
Rektor UIN KH. Achmad Siddiq Jember


Editor:
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo