Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِينِ، عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُمْ وَسَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيرِ، الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Menjadi kewajiban bagi kita untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga kita menjadi hamba yang senantiasa bersyukur, rendah hati, dan memiliki akhlak mulia.
Pada kesempatan ini, khatib mengajak seluruh jamaah untuk meneladani Nabi Muhammad SAW dalam menyikapi takdir kehidupan yakni dari siapa kita dilahirkan dan nasab orang tua mana yang kita miliki.
Perlu kita sadari bahwa nasab adalah pemberian Allah, bukan prestasi pribadi yang pantas dijadikan alasan untuk menyombongkan diri. Sikap terbaik adalah menerima dan mensyukurinya dengan penuh kerelaan atau qana'ah.
Allah tidak melihat dari nasab mana kita berasal namun melihat kualitas dari ketakwaan kita. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti." (QS Al-Hujurat: 13).
Dalam Tafsirul Imami asy-Syafi’I juz III, halaman 1281dijelaskan:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ: أي اِنَّ أَرْفَعَكُمْ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ، وَفِي هَذِهِ الْأَيَةِ نَهْيٌ عَنِ التَّفَاخُرِ بِالنَّسَبِ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa (QS Al-Hujurat, [49]: 13). Maksudnya, bahwa yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dari kalian. Dan dalam ayat ini juga merupakan larangan untuk berbangga-bangga dengan keturunan.”
Dalam pepatah Arab juga disebutkan:
لَا تَقُلْ هَذَا أَبِي، وَلَكِنْ قُلْ هَذَا أَنَا
Artinya: "Jangan katakan, inilah bapak saya. Tetapi katakanlah, inilah diri saya."
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Rasulullah SAW merupakan teladan terbaik dalam persoalan ini. Beliau adalah manusia paling mulia, memiliki nasab terhormat, tetapi tidak pernah mengajarkan keluarganya untuk mengandalkan kemuliaan keturunan.
Bahkan, Rasulullah memberikan peringatan khusus kepada putri tercintanya, Sayyidah Fatimah az-Zahra. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ
Wahai orang-orang Quraisy, selamatkanlah diri kalian sendiri,
لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا،
karena aku tidak dapat memberikan pertolongan sedikit pun di hadapan Allah.
يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا،
Wahai Bani Abdi Manaf, aku tidak dapat memberikan pertolongan sedikit pun di hadapan Allah.
يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا،
Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, aku tidak dapat memberikan pertolongan sedikit pun di hadapan Allah.
يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا،
Wahai Shafiyah, bibi Rasulullah, aku tidak dapat memberikan pertolongan sedikit pun di hadapan Allah.
يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah kepadaku apa saja yang engkau kehendaki dari hartaku, tetapi aku tidak dapat memberikan pertolongan sedikit pun di hadapan Allah." (HR Bukhari).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dari hadits ini kita diingatkan bahwa menjadi anak seorang nabi tidak otomatis menjamin keselamatan di akhirat. Menjadi cucu seorang wali tidak otomatis menjadikan seseorang bertakwa. Menjadi keturunan ulama tidak otomatis menjadikan seseorang ahli ibadah.
Nasab tidak bisa menggantikan amal. Keturunan tidak bisa menggantikan ketakwaan.
Rasulullah SAW juga memberi peringatan pada orang-orang yang membanggakan leluhurnya dengan kesombongan. Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi, beliau bersabda:
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمْ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْمُ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنَ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءَ بِأَنْفِهِ
Artinya: "Hendaklah suatu kaum berhenti membanggakan nenek moyang mereka yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya mereka hanyalah arang neraka Jahanam, atau mereka akan lebih hina di sisi Allah daripada kumbang yang mendorong kotoran dengan hidungnya." (HR at-Tirmidzi).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dari penjelasan ini, setidaknya ada 3 pelajaran penting yang harus kita pegang.
Pertama, jangan pernah merasa rendah diri karena nasab. Terimalah takdir Allah dengan penuh rasa syukur. Tidak perlu malu menjadi anak petani, pedagang, buruh, ataupun orang biasa. Sebab Allah tidak menilai manusia dari pekerjaan orang tuanya, tetapi dari iman dan ketakwaannya.
Kedua, jangan pernah sombong karena nasab. Jika kita dilahirkan dari keluarga baik dan terpandang, maka bersyukurlah. Namun, jangan menjadikannya alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Ketiga, jadikan nasab sebagai motivasi memperbaiki diri. Jika leluhur kita orang saleh, jadilah keturunan yang saleh. Jika leluhur kita berilmu, jadilah keturunan yang mencintai ilmu. Jangan hanya bangga dengan siapa leluhur kita, tetapi berusahalah menjadi pribadi yang bermanfaat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah. Gelar, jabatan, kekayaan, dan kebanggaan terhadap nasab tidak menjadi jaminan keselamatan. Yang akan kita pertanggungjawabkan adalah iman, amal saleh, dan ketakwaan.
Jangan sibuk mencari kemuliaan dari nama besar leluhur, tetapi sibuklah membangun kemuliaan melalui amal perbuatan.
Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat sombong, ujub, merasa paling mulia, dan merendahkan sesama manusia. Semoga kita menjadi keturunan yang mampu menjaga kehormatan keluarga, meneladani kebaikan leluhur, serta mewariskan amal saleh kepada generasi berikutnya. Amin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً، وَعَنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung
Editor:


