100 Tahun AA Navis (1924-2024): Iman dan Pangan

100 Tahun AA Navis (1924-2024): Iman dan Pangan

Pada 1920, Semaoen sudah mencantumkan masalah-masalah “revolusi” dalam Hikajat Kadiroen. Ia mengisahkan nasib para petani dan sawah. Nasib ditentukan oleh pemerintah kolonial, kaum modal, dan bumiputra serakah (mata duitan). Gubahan sastra dimaksudkan berseru perubahan-perubahan revolusioner agar nasib petani tak selalu miskin dan sengsara. Sawah-sawah sebagai penghasil padi justru dalam cengkeraman kaum modal.

Semaoen turut cerewet menjelaskan agenda-agenda perubahan bertema pangan, politik, agraria, perburuhan, dan keluarga. Warisan dari masa 1920-an itu terbukti memberi halaman-halaman serius untuk pengisahan petani dan sawah dalam zaman “kemadjoean”. Kaum tani “ditakdirkan” kalah. Sawah-sawah bukan rujukan kemakmuran dan kebahagiaan.

Pesan hampir sama terbaca dalam Perawan Desa (1929) gubahan WR Soepratman. Ia memunculkan tokoh-tokoh bercangkul atau petani mengalami sulit dan dilema dalam pertanian. Kemiskinan milik mereka. Keminderan dan kebodohan melanda keluarga petani di hadapan keluarga-keluarga modern telah menghasilkan anak-anak terpelajar hasil pengajaran di sekolah. Sawah tak menjamin kebutuhan pangan terpenuhi. Hasil dari sawah mudah habis untuk menutup utang dan beragam kebutuhan harian. Keluarga petani masih mustahil mendapatkan nafkah demi membawa anak-anak ke sekolah.

Dua novel itu menampilkan kaum petani rajin bekerja tapi nasib belum beruntung. Mereka kepanasan dan berkeringat, tak lupa berdoa dan mengakrabi alam. Tata dunia sudah berubah mengakibatkan mereka sering di kubu kalah. Pada masa kolonial, sawah itu alamat penting dalam usaha perbaikan nasib tapi lumrah dihajar oleh kolonialisme, feodalisme, dan kapitalisme.

Pada masa berbeda, Ali Akbar Navis (17 November 1924-22 Maret 2003) mengisahkan lagi sawah dalam novel berjudul Kemarau. Ia tak melakukan pengulangan dari gubahan-gubahan sastra silam. Navis malah berani membuat kritik besar bersinggungan iman dan revolusi sedang berlangsung di Indonesia setelah 1945.

Kita membuat peringatan 100 tahun AA Navis (1924-2024) dengan mengurusi iman dan pangan. Kemarau menjadi rujukan penting mumpung rezim Prabowo-Gibran memiliki mimpi muluk swasembada pangan. Navis memberi gambaran agraris: "Penduduk di kampung itu adalah bangsa yang suka merantau. Tanahnya sempit karena terletak antara bukit dan danau yang vulkanis. Bidang-bidang tanah yang melandai telah dijadikan sawah atau ladang-ladang kelapa atau tanah perumahan… Dan hasil sawah yang ada tidak pula mencukupi bagi isi perut petaninya sendiri.” Kita sudah membaca ironi di kampung. Para petani mengerti Indonesia sedang berlakon revolusi dan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Situasi politik tak memberi janji keselamatan dan kemakmuran bagi orang-orang berlumpuh di sawah dan terpanggang sinar matahari. Pertanian mengandung ironi: lapar dan miskin.

 Novel tak cuma cerita. Navis sengaja mengajukan persoalan berat mengenai iman dan pangan. Di situ, ada tokoh bernama Sutan Duano mengubah diri setelah bobrok dalam hidup. Ia tak mau terus terpuruk dan miskin. Pada usia menua, ia memilih berada di surau. Orang-orang mengira ia bakal meningkatkan iman dan takwa dengan cara rajin shalat, zikir, dan membaca kitab suci. Sutan Duano justru tampil sebagai sosok suka bekerja dan berkeringat. Ia tetap beribadah tapi “pertarungan” keseharian adalah bekerja.

Ia mementingkan sawah untuk nafkah dan ketersediaan pangan. “Di waktu itulah Sutan Duano memulai kehidupan baru. Beberapa bidang sawah yang terlantar diminta izin pada yang punya untuk dikerjakannya,” tulis Navis. Hari-hari dimengerti dengan bekerja di sawah selain ibadah. Ia bertani berpijak iman. Tahun-tahun berlalu, ia perlahan kecukupan dan dihormati para penduduk.

Di mata orang-orang biasa terlena impian dan dilanda malas, Sutan Duano itu beruntung meski diawali dengan kegilaan. Pada saat bersawah, ia tak memaki matahari dan meratapi kemarau berakibat susah air. Ia tetap menggerakkan raga dan akal agar sawah-sawah mendapat air. Sutan Duano jarang meragu dalam urusan bekerja. Ia seperti mengerti jika iman itu memberi petunjuk dan seruan tanpa keraguan.

Pada suatu hari, Sutan Duano mendengarkan omongan wali negeri penuh pesimis dan ejekan: “Sawah kita di sini sangat tidak berarti. Tidak mencukupi untuk memberi makan semua penduduk kampung kita ini, malah untuk keperluan hidup petani itu sendiri pun tidak bisa. Dan lagi, aku sangsi apakah semua penduduk akan mau bergotong royong untuk mengairi sawah-sawah itu.” Sutan Duano tak mau ketularan malas dan putus asa. Ia memilih beriman, bekerja, dan mendapat pangan.

Kita mengandaikan novel berjudul Kemarau cetak ulang dalam ;peringatan 100 tahun AA Navis terbaca oleh Prabowo, Gibran, menteri, gubernur, bupati, dan lain-lain. Mereka mungkin tercengang saat mengingat Indonesia telanjur dianggap negara agraris. Mereka bakal menunduk malu mengetahui tata cara pertanian di Indonesia mengandung tragedi. Impian swasembada pangan atau petani makmur itu sekadar muncul dalam iklan politik dan pidato penguasa.

Navis (1978) menerangkan: "Novel itu terpengaruh oleh iklim pada masa itu. Musim kemarau sangatlah panjangnya… Di sekitar Maninjau, tempat saya bermukim masa itu, hampir di setiap masjid orang mengadakan sembahyang kaul meminta hujan dan ratib semalam suntuk agar hujan diturunkan Tuhan dari langit. Sedang di dekat masjid-masjid itu Tuhan telah menyediakan air sedanau penuh untuk mereka.” Ia pun mahir melancarkan kritik dan kesadaran melalui novel atas lakon kehidupan petani dan keinginan beriman di negara berdaulat (Indonesia).

Dulu, novel Kemarau mengandung kritik terhadap kebijakan-kebijakan rezim Soekarno. Navis pantang takut dalam mengusahkan perbaikan-perbaikan di Indonesia. Novel menjadi suguhan cerita demi iman dan pangan saat kekuasaan di Indonesia amburadul.

Pada 1994, kita membaca puisi gubahan Taufiq Ismail berjudul Sesayat Bulan di Atas Jalan Bukit Timah, hasil resepsi membaca novel berjudul Kemarau dan pengenalan atas pengarang. Ia memuji: tapi lihatlah Sutan Duano menimba/ dan menimba dan menimba/ danau/ Maninjau/ sendirian sajakah ia di sana/ mencoreti nama pawang hujang/ mencekiki leher takhayul/ lalu menyusun glosari kata kerja/ dengan peluh bertetesan/ yang menjadi batang padi/ dedaunan dan bebutiran. Kini, kita memang memerlukan menjadi pembaca (lagi) untuk novel menguak iman dan pangan. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor:
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo