Dari Resolusi Jihad ke Etika Kepahlawanan

Dari Resolusi Jihad ke Etika Kepahlawanan

Ketika Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaannya pada Agustus 1945, ancaman penjajahan kembali datang lewat agresi Sekutu di Surabaya. Dalam situasi genting itu, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945—fatwa yang menegaskan kewajiban umat Islam untuk mempertahankan tanah air dari penjajahan. Seruan itu bukan sekadar panggilan perang, tetapi seruan moral dan spiritual: membela tanah air sebagai bagian dari iman.

Dalam pandangan KH Hasyim Asy’ari, cinta tanah air lahir dari cinta kepada Tuhan yang menciptakannya. Karena itu, jihad tidak hanya bermakna fisik, tetapi juga moral—upaya menegakkan keadilan dan menjaga martabat kemanusiaan. Semangat jihad yang dulu menggerakkan pertempuran fisik kini bertransformasi menjadi jihad moral dan intelektual: perjuangan melawan kebodohan, kemunafikan, dan kemerosotan nurani.

Jihad sebagai Etika Kepahlawanan
Kepahlawanan sejati bukan soal siapa yang gugur di medan laga, melainkan siapa yang hidup dengan keberanian moral. Seperti ditulis Paul Tillich dalam The Courage to Be (1952), keberanian sejati adalah “penegasan diri terhadap ancaman ketiadaan” — keberanian untuk tetap hidup bermakna meski di tengah penderitaan.

 

Dalam terang pemikiran itu, jihad dapat dimaknai sebagai keberanian untuk tetap jujur di tengah kebohongan, peduli di tengah ketidakacuhan, dan berbuat benar di tengah tekanan sosial.

Etika kepahlawanan religius-santri dapat dirumuskan dalam tiga ranah: jihad ilmu, jihad akhlak, dan jihad kemanusiaan.

Jihad ilmu berarti perjuangan menegakkan kebenaran melalui pengetahuan dan pendidikan.

Jihad akhlak berarti menjaga integritas moral di tengah godaan materialisme.

Jihad kemanusiaan berarti pengabdian tanpa pamrih bagi sesama.

Ketiganya menjadi medan juang baru di masa damai: tempat setiap orang dipanggil menegakkan keadilan dan menebar kasih sayang. Jika dahulu pahlawan bertempur dengan bambu runcing, kini mereka berjuang dengan pena, ilmu, dan keteladanan akhlak.

Santri sebagai Subjek Sejarah
Dalam sejarah kemerdekaan, kaum santri bukan sekadar latar budaya, melainkan subjek sejarah yang aktif. Melalui Resolusi Jihad, Kiai Hasyim Asy’ari menyatukan agama dan nasionalisme dalam satu napas: membela kemerdekaan adalah kewajiban iman. Dari pesantren-pesantren seperti Tebuireng, Lirboyo, hingga Buntet, semangat itu menyebar menjadi kesadaran kolektif bahwa perjuangan menegakkan keadilan adalah bagian dari ibadah.

Para kiai bukan hanya penggerak perlawanan fisik, tetapi juga pembentuk etika publik. Mereka menanamkan nilai keikhlasan, keberanian, dan tanggung jawab moral. Dalam kerangka sufistik, jihad bukan sekadar perang melawan penjajah, tetapi juga perang melawan hawa nafsu. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menulis bahwa jihad melawan diri sendiri adalah jihad tertinggi—karena dari sanalah lahir tindakan sosial yang benar.

Nilai-nilai inilah yang membentuk etika kepahlawanan santri: bekerja dengan jujur, memimpin dengan adil, mengajar dengan ikhlas. Bagi santri, setiap tindakan yang dilandasi tanggung jawab sosial adalah bentuk jihad. Dari sinilah lahir gagasan jihad peradaban—perjuangan kultural dan intelektual untuk membangun masyarakat yang adil, beradab, dan beriman.

Tiga Wajah Jihad Modern

1. Jihad Ilmu: Pendidikan sebagai Medan Juang
Ketika peluru telah berhenti, bangsa ini masih berperang melawan kebodohan. Di sinilah jihad ilmu menemukan maknanya. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang berilmu (QS. Al-Mujadilah [58]: 11). Pendidikan menjadi jalan mulia untuk menyalakan cahaya akal dan memuliakan manusia.

Guru yang mengajar di pelosok negeri, peneliti yang menulis demi kebenaran, penulis yang menyalakan kesadaran publik—mereka adalah pahlawan pengetahuan. Kuntowijoyo menyebut ilmu sebagai sarana profetik: menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan menegakkan iman. Dengan begitu, menulis dan mengajar bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari tugas kenabian untuk memperbaiki kehidupan.

2. Jihad Akhlak: Keberanian Menjaga Hati
Jika jihad ilmu berakar pada nalar, jihad akhlak berakar pada hati. Ketika kebohongan menjadi strategi dan kejujuran dianggap kelemahan, jihad akhlak menjadi bentuk keberanian yang paling mendasar. Al-Ghazali menyebut jihad melawan diri sendiri sebagai kemenangan tertinggi, sebab musuh terbesar manusia adalah ego dan kesombongan.

Dalam tradisi pesantren, santri diajarkan adab sebelum ilmu. Pengetahuan tanpa moral hanya melahirkan kecerdasan tanpa cahaya. Maka jihad akhlak berarti menjaga kesucian hati di tengah krisis nilai, menolak korupsi, menahan diri dari kebencian, dan setia pada nurani.

3. Jihad Kemanusiaan: Dari Solidaritas ke Pelayanan
Jihad kemanusiaan adalah puncak transformasi nilai jihad dalam dunia modern. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Dalam semangat ini, pahlawan kemanusiaan adalah mereka yang melintasi sekat agama dan etnis demi menolong sesama—relawan bencana, tenaga medis, aktivis lingkungan, atau siapa pun yang memberi dari dirinya, bukan hanya dari hartanya.

Khalil Gibran dalam The Prophet menulis, “Engkau baru memberi banyak bila engkau memberi dari dirimu sendiri.” Jihad kemanusiaan, dengan demikian, adalah keberanian untuk melayani, bukan dilayani; memberi tanpa pamrih, bukan mencari pengakuan.

Dimensi Filsafati: Keberanian Moral
Paul Tillich dalam The Courage to Be menegaskan bahwa keberanian sejati adalah penegasan diri di tengah ancaman ketiadaan. Manusia, kata Tillich, hanya dapat bertahan dari absurditas hidup jika berani hidup bermakna. Namun keberanian yang sejati harus berakar pada dasar spiritual yang ia sebut The Ground of Being—sumber makna yang melampaui manusia.

Dalam Islam, keberanian (syajā‘ah) juga tumbuh dari iman. Nabi bersabda, “Al-mujahid man jahada nafsahu fi ta’atillah”—pejuang sejati adalah yang berjihad melawan dirinya sendiri demi ketaatan kepada Allah. Karena itu, santri diajarkan untuk berani karena yakin, bukan karena benci.

Tillich berbicara tentang keberanian untuk “menjadi,” sedangkan Islam mengajarkan keberanian untuk “menyerahkan diri” (taslīm) kepada Tuhan. Dari titik temu keduanya, muncul konsep keberanian religius: keberanian yang berakar pada iman dan cinta, bukan pada ambisi.

Menjadi pahlawan berarti berani menanggung makna. Pahlawan sejati tidak menunggu tepuk tangan; ia hadir dengan kejujuran di tengah kemunafikan, dengan kasih di tengah kebencian. Keberanian demikian adalah bentuk jihad moral yang sunyi namun menentukan arah peradaban.

Krisis Kepahlawanan Modern
Dalam era digital, makna kepahlawanan sering tereduksi menjadi citra. Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulation (1981) menyebut dunia modern sebagai “hiperrealitas,” ketika tanda-tanda menggantikan kenyataan. Di ruang media, pahlawan sering dijadikan ikon populer, bukan teladan moral. Keberanian berubah menjadi tontonan, bukan ketulusan.

Zygmunt Bauman dalam Liquid Modernity (2000) menggambarkan masyarakat modern sebagai masyarakat cair, di mana nilai mudah berubah mengikuti selera pasar. Komitmen terhadap kebenaran menjadi rapuh; keberanian moral tergantikan oleh strategi pencitraan. Krisis ini sesungguhnya adalah krisis cinta—kehilangan kemampuan untuk mencintai kebenaran dan sesama manusia dengan tulus.

Erich Fromm dalam The Art of Loving menulis bahwa kemanusiaan hanya tumbuh jika manusia berani keluar dari dirinya untuk memberi. Tanpa cinta, keberanian menjadi hampa. Maka, rehumanisasi makna pahlawan menjadi keharusan: mengembalikan kepahlawanan kepada akar moral dan spiritualnya.

Pendidikan adalah medan utama rehumanisasi ini. Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1970) menekankan bahwa pendidikan sejati harus membebaskan manusia dari kesadaran palsu dan menumbuhkan tanggung jawab sosial. Pahlawan masa kini adalah mereka yang berani berpikir jernih, berbuat jujur, dan bekerja untuk kemaslahatan—meski tak viral di layar gawai.

Dari Resolusi Jihad ke Jihad Peradaban
Menutup perenungan ini, kita diingatkan bahwa jihad sejati adalah proses batin yang berkelanjutan. Keberanian, sebagaimana ditegaskan Tillich, bukan ledakan heroisme sesaat, melainkan kesetiaan untuk tetap bermakna di tengah ketiadaan.

Santri dan masyarakat diajak menyalakan kembali semangat Resolusi Jihad dalam bentuk baru: jihad peradaban—perjuangan membangun kehidupan beradab melalui ilmu, akhlak, dan kasih sayang.

Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus menulis, “Perjuangan menuju puncak itulah yang cukup untuk memenuhi hati manusia. Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia.” Begitulah pahlawan sejati: menemukan makna bukan pada kemenangan, tetapi pada kesetiaan terhadap perjuangan itu sendiri.

Dalam jihad peradaban, setiap tindakan etis—sekecil apa pun—adalah bagian dari ibadah sosial untuk mewujudkan masyarakat rahmatan lil-‘alamin. Kepahlawanan tidak lagi hanya kisah masa lalu, melainkan panggilan abadi untuk menjaga nurani, menegakkan kebenaran, dan menyalakan cahaya kemanusiaan.

Dari Resolusi Jihad menuju Jihad Peradaban, bangsa ini belajar bahwa keberanian sejati bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk memuliakan kehidupan.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo