Santri Bhairawa, Komunitas Sufi yang Hilang dari Ingatan

Santri Bhairawa, Komunitas Sufi yang Hilang dari Ingatan

Ini kisah tentang santri ‘birahi’ yang hampir tidak pernah dibicarakan lagi. Kisah yang menggambarkan totalitas praktik asketisme dan kebatinan di lingkungan para santri, hingga sampai ke taraf paling ekstrem. Santri-santri meneguk ekstase penyatuan dengan Tuhan, hingga mencapai ‘kegilaan’: berperilaku aneh, anti-kemapanan, bertingkah di luar norma umum, bahkan mengolok-olok semua tatanan duniawi. 

Hingga abad ke-19 M, sejumlah karya sastra memberikan informasi yang terang-benderang tentang keberadaan mereka. Selain ditemukan dalam Serat Centini, kisah santri ‘birahi’ juga ditemukan dalam sejumlah sastra suluk, terutama Suluk Lonthang. Naskah yang digubah oleh pujangga Jawa pada periode 1860-an ini meyajikan kisah tentang tokoh antinomi bernama Lěbe Lonthang yang mempraktikan asketisme radikal bersama santri-santrinya. 

PJ Zoetmulder dalam Pantheism and monism in modern Javanese suluk literature (1994), berpandangan bahwa asketisme radikal sebagaimana ditemukan dalam Suluk Lonthang, cukup menggambarkan serapan ajaran-ajaran Trantris baik dari sekte-sekte ke-Śiva-an maupun ke-Buddha-an. Lalu menyatu ke dalam tradisi baru sufisme santri Jawa. Sebelum masuk jauh dalam diskursus tentang santri ‘birahi’, ada baiknya terlebih dahulu disajikan kisah ketokohan Lebe Lonthang (tertulis: Lěbe) dalam sastra suluk tersebut.

Ia adalah Lebe ​Lonthang. Seorang petualang dari Timur. Berpakaian ala kadar, compang-camping—hingga kelihatan cawatnya saja. Bertingkah seperti orang gila di pasar, berjingkrak dan bertandak hingga membuat wanita-wanita ketakutan. Tapi baginya laki-laki dan wanita sama saja, tidak ada beda. Saat di masjid, ia menabuh bedug sebelum waktu sembahyang. Berdebat dengan Modin, soal orang-orang yang sembahyang.

Ia bergumam, “Sembahyang tak ada gunanya, karena yang melakukan tidak mengenal Tuhan” [tanpa gawé salat tan wruh prenah ing Hyang]. Itulah laku eksentrik seorang Lebe Lonthang. Dan, bila ada seseorang yang mencoba memahami kejanggalan-kejanggalan perilakunya, maka hendaknya bertanya kepada seorang yang sudah tahu tentang hakikat Tuhan [pagurokno kang sampun wruh prenah ing Hyang]. 

Singkat cerita, seperti halnya Centini yang menghadirkan tokoh antinomi Shaikh Among Raga, tokoh Lebe Lonthang dalam Suluk Lonthang seolah juga dihadirkan untuk mengawetkan kisah keagamaan santri kebatinan Jawa yang dipenuhi keganjilan pada awal perkembangan Islam. Terhadap naskah suluk tersebut, Zoetmulder melakukan otopsi dengan seksama, melacak akar-akar pembentukan tradisi sufime Jawa tersebut hingga ke periode pra-Islam. 

Melalui perbandingan filologi yang rumit, Zoetmulder menyimpulkan kesamaan karakter diantara tokoh Among Raga dalam Centini dan Lebe Lonthang dalam Suluk Lonthang. Keduanya adalah prototipe santri-sufi yang telah mencapai pembebasan jiwa, sehingga terbebas dari segala macam aturan—tidak terkecuali aturan sarèngat/syariat. Orang-orang yang ikut meniti jalan kesempurnaan jiwa itu, kěsěngsěm dalam peleburan total dengan Tuhan, dan oleh karenanya dalam berbagai representasi sastra suluk, mereka disebut dengan istilah santri ‘birahi’. 

Dari mana datangnya istilah ‘birahi’? Sekali lagi, Zoetmulder melacak akar bahasa dan perbandingan praktik mistik—sebagaimana termaktub dalam sastra suluk maupun sumber sastra yang lebih tua. Hasilnya, istilah ‘birahi’ rupanya lebih dekat dengan kata “bhairawa, birawa, birawi” dalam bahasa Jawa kuno yang sekaligus mewakili suatu praktik keagamaan tantra dalam tradisi Sivaisme dan Buddha Jawa. Kata ‘birahi’ mungkin juga dihubungkan dengan ‘virahin’ dalam bahasa Sanskreta yang berarti terpisah, sendirian, dan hal hubungan asmara. 

Kesimpulan ini bukan tanpa argumentasi. Ahli sastra Jawa kuno tersebut menghubungkan kata ‘birahi’ dengan bhairawa—sebagaimana ditampilkan oleh Centini maupun Suluk Lonthang, dalam konteks ajaran kesempurnaan jiwa. Para tokoh sufi-antinomi seperti Among Raga dan Lebe Lonthang yang telah mencapai kesempurnaan hidup, digambarkan dengan istilah ‘wus ambhirawa’ atau ‘manjing abhirawa’ (sudah dalam kadar sebagai bhairawa) atau ‘wong melebu birahi’.

Bukan sekadar aspek kebahasaan, penyerapan konsep bhairawa menjadi ‘birahi’ sekaligus menggambarkan serapan nuansa dan kekayaan ajaran asketisme kuno (pra-Islam) ke dalam bentuk baru sufisme santri. Dalam hal tokoh-tokoh antinomi digambarkan seperti orang gila, gembel, bertingkah aneh, memunguti makanan apa saja dari mengemis dan tempat sampah, Zoetmulder mengaitkannya dengan ajaran Paśupata. Ini merupakan sekte Sivaisme Jawa, yang doktrinnya meyakini bahwa hanya dengan cara mengolok dan merendahkan keduniawian, jiwa seseorang bisa menemukan titian penyatuan dengan Hyang.

Mungkin juga, taraf ‘kegilaan’ seperti digambarkan dalam sastra suluk bisa dikaitkan dengan sekte lain, seperti Kapālika. Ini juga merupakan sekte dalam ke-Śiva-an yang meyakini bahwa hanya dalam keadaan gila, seseorang pantas mendapatkan ‘pewahyuan’ secara langsung dari Śiva itu sendiri. Seluruh kecintaan pada ekstase penyatuan (kawula-Gusti) sebagaimana ditemukan dalam sastra suluk, bisa juga dikaitkan dengan ajaran Śiva-Siddhānta tentang jiwamukta. Ini merupakan ajaran yang meyakini bahwa hanya dalam keadaan jiwa yang moksa, seseorang mungkin menjadi bhairawa.

Dalam situasi jiwamukta, Śiva hadir melalui badan wadag seseorang, sehingga kesadarannya lebur, dan menjadikan seluruh kehendaknya tunduk pada kehendak Tuhan atau disebut dengan istilah apapun. Persis seperti inilah ilustrasi yang bisa diperoleh dari Among Raga dan Lěbe Lonthang ketika menjalani praktik asketisme bersama dengan para santri-birahi. Seperti digambarkan dalam Suluk Lonthang, dalam situasi ekstase, Lebe Lonthang mengajak para santri-birahi untuk berdiķr, menjalani ‘ngelmu dul’ atau ‘ngelmu kak’ sehingga lebur dalam kemanunggalan.     

Sesudah itu, berlangsunglah proses perjamuan, semua santri-birahi berkumpul, memainkan rebana dan bertandak, berdiķr dan merapal salawat. Sesudah ujub doa pemberkatan, sang guru mengajak semua santri untuk makan bersama, laki-laki dan perempuan, tidak dibedakan, karena hakikat mereka tunggal. 

Terlepas apakah tokoh-tokoh sufi-antinomi seperti Among Raga dan Lebe Lonthang itu merupakan alegorisme, fiksi, atau memiliki dasar kesejarahan, yang pasti praktik ‘ngelmu dul’ sebagaimana dikisahkan oleh sastra suluk tersebut, ditemukan jejaknya pada keberadaan seni sufi, bernama Brai atau Birahi. Matthew Cohen dalam Brai in performance: Religious ecstasy and art In Java (2011) melacak keberadaan komunitas seni sufi Brai ini. Pernah menjamur di Jawa bagian selatan, tapi kemudian mengalami kepunahan pada akhir abad ke-19 M karena kebijakan pemerintah kolonial dan derasnya arus Islam modern, sehingga hanya tersisa sebagian di Cirebon.  

Sampai hari ini, Brai tetap dikenal sebagai seni sufistik yang dimainkan dengan terbang atau gembyung, dilakukan secara bekelompok oleh laki-laki dan Perempuan, membentuk formasi setengah lingkaran. Perempuan di baris depan, menembangkan diķr dan salawat. Laki-laki di baris belakang, memainkan terbang. Tentu saja, dalam pertunjukan modern, semua aspek asketisme seperti dikisahkan dalam ‘ngelmu dul’ sudah tidak tersisa sama sekali. 

Belakangan, berbekal kajian awal yang dilakukan oleh Zoetmulder, Andrea Acri dalam Becoming a Bhairava in 19th-century Java (2019) benar-benar memulihkan ingatan kita tentang keberadaan para sufi-antinomi pada abad ke-17 hingga 19 M. Menurutnya, sebutan bhairawa, ambirawa, atau abirawa dijumpai dalam semua sastra suluk yang menghadirkan kisah perjalanan tokoh-tokoh santri-sufi. Suluk Malang Sumirang yang menghadirkan tokoh bernama Sunan Panggung atau Shaikh Malang Sumirang dari periode Kesultanan Demak, juga menyebut keganjilan sang Sunan dengan konsep bhairawa. 

Begitu juga, Serat Cabolek yang lahir kemudian, dan menghadirkan tokoh-tokoh antinomi secara bersamaan dalam lintas masa, Shaikh Siti Jenar, Sunan Panggung, Ki Bebeluk, bahkan Among Raga sendiri (Soebardi, 1975). Mereka semua yang dipandang telah mencapai titian kesempurnaan, disebut dengan bahasa konseptual yang sama yakni, bhairawa, ambirawa, atau abirawa. Bahkan, kecenderungan yang sama ditemukan pula dalam Suluk Linglung (1884), Suluk Shaikh Among Raga (1820), dan Suluk Shaikh Siti Jenar

Pada awalnya, Zoetmulder memandang bahwa berbekal pada informasi sastra suluk, akan lebih mudah bagi pembaca modern untuk mencari pertautan praktik santri-sufi dengan doktrin dan tradisi keagamaan yang berkembang dalam sekte-sekte Savaisme Jawa dan Buddha daripada menautkannya dengan sumber-sumber dari Timur Tengah, termasuk informasi tentang pengaruh al-Hallaj. Berikutnya, Andrea Acri lebih jauh melihat kultur keagamaan di Jawa—terutama tradisi tradisi santri-sufi, bukan merupakan transplantasi dari kultur keagamaan dari wilayah luar manapun. Tidak India, bukan pula Arab. 

Di Jawa, tradisi sufi dan mistik agama-agama menggambarkan suatu lanskap konglomerasi: bagaimana yang lokal memberi muatan bagi beragam ajaran yang datang kemudian; saling membungkus, membentuk sendimentasi budaya-agama. Dari sanalah semua jenis pertukaran dan titik temu terjadi. Inilah kultur sufisme yang membentang dalam pengalaman Nusantara sehingga melahirkan karakternya sendiri yang sangat khas dan kokoh, hingga saat ini. Inshaallah. 

 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Akhol Firdaus
Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) UIN SATU Tulungagung


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo