Jakarta, Arina.id—Rais Syuriyah PBNU Prof Muhammad Nuh menilai dinamika menuju Muktamar ke-35 NU di Tambakberas jauh lebih kompleks dibandingkan muktamar ke-34 di Lampung.
Kontestasi tidak lagi sebatas terjadi di antara kandidat dalam satu struktur kepengurusan, tetapi juga mulai mempertemukan kepentingan antara struktur Syuriyah dan Tanfidziyah.
Ia menggambarkan perubahan tersebut melalui metafora lantai tiga dan lantai empat Gedung PBNU yang masing-masing merepresentasikan Tanfidziyah dan Syuriyah.
"Terus terang kalau dulu, itu lantai 3 (Ruang Tanfidziyah) dan 4 (Ruang Syuriyah) Gedung PBNU yang berkompetisi. Gus Yahya sama Rais Aam Kiai Miftach (lantai 4), kiai Said Aqil Sirodj sama pak Hilmy Faishal (lantai 3)," kata Nuh dalam Silatnas Majelis Alumni IPNU menyambut Muktamar ke-35 NU di Jakarta, Jumat (7/8).
Namun, menurutnya, pola tersebut kini telah berubah. Kompetisi tidak hanya terjadi di masing-masing lantai, tetapi juga mulai terjadi di antara keduanya.
"Sekarang enggak. Di antara lantai empat berkompetisi, lantai tiga berkompetisi, lantai tiga dan empat saling berkompetisi,” kata Prof Nuh.
Hal itu menjadi tantangan sendiri bagi panitia Muktamar karena kompleksitasnya semakin tinggi sehingga diperlukan independesi.
"Ini gak gampang ngelola ini, gak mudah. Karena tingkat komplikasinya jauh lebih tinggi sehingga kami sampaikan ke beberapa teman untuk Muktamar," jelasnya.
Ia mengaku memahami kompleksitas tersebut karena pernah terlibat langsung dalam pengelolaan Muktamar ke-34 NU di Lampung sebagai Ketua Steering Committe.
"Muktamar Lampung sama Muktamar Tambakberas beda. Saya itu kan diminta jadi ketua SC di Lampung, tidak sengaja ditelepon Pak Sekjen Hilmi,” ujarnya.
Saat menerima amanah tersebut, Prof Nuh mengaku hanya mengajukan satu syarat.“Syaratnya satu, sejuk,” katanya.
Namun, menurut dia, tantangan Muktamar ke-35 NU kini jauh lebih berat. Karena itu, setiap pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Muktamar sebagai panitia harus mampu menjaga jarak dari kepentingan kontestasi.
Prof Nuh secara khusus menyinggung pentingnya menjaga posisi Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang menjadi ketua panitia Muktamar ke-35 agar tidak berada dalam konflik kepentingan dalam kontestasi Ketua Umum PBNU.
"Saya sampaikan ke Gus Ipul, panjenengan kalau mau ngurusi muktamar ini jangan ambil conflict of interest. Kalau panjenengan nyalonkan, bubar,” tegasnya.
Menurut Prof Nuh, persoalan tersebut bukan semata menyangkut siapa yang menjadi calon, melainkan menyangkut hilangnya kepercayaan terhadap pihak yang diberi mandat mengelola muktamar.
Ia pun menyatakan akan mengambil sikap yang sama dalam posisi untuk maju sebagai calon mengingat diamanahi sebagai Sekretaris SC dalam Muktamar ke-35 NU.
"Kalau saya ikut nyalonkan juga bubar. Kalau saya ikut mencalonkan dari awal begitu sudah tidak dipercaya semua karena ada konflik,” ujarnya.
Harga Muktamar Lebih Mahal dari Harga Calon
Prof Nuh menegaskan, seluruh pihak harus menyadari bahwa keberlangsungan dan keberhasilan Muktamar NU memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan kepentingan kandidat mana pun.
"Pastikan harga muktamar jauh lebih mahal dari harga orang per orang. Harga muktamar jauh lebih mahal dari calon per calon,” katanya.
Menurut Prof Nuh, keberhasilan muktamar harus menjadi prioritas utama, apa pun hasil kontestasinya.“Dari situlah harga muktamar jauh lebih mahal. Harus sukses muktamar terlepas dari dinamika itu,”tegasnya.
Editor: Suci


