Dark
Light
Dark
Light

Kepala MAN Temanggung Ali Masyhar dan Gerakan Merawat Keilmuan Menjaga Peradaban

Kepala MAN Temanggung Ali Masyhar dan Gerakan Merawat Keilmuan Menjaga Peradaban

Di tengah kesibukan dunia modern, ada sosok ulama dari kampung kecil bernama Mendirat, Pare, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah yang tekun merawat warisan keilmuan ulama terdahulu. Namanya Ali Masyhar yang saat ini merupakan Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Temanggung.

Dari Mendirat, kampung sederhana itu, perjuangannya dimulai dengan langkah kecil namun penuh makna: menjaga tradisi keilmuan dari gempuran teknologi yang begitu cepat.

Keresahan hatinya muncul dari dua kenyataan yang mengkhawatirkan. Kajian kitab kuning yang dulu sering dibacakan para kiai desa kini mulai kurang diminati, sehingga banyak orang kehilangan pedoman hidup dan kadang bertindak menyimpang. Jauh dari sorotan media dan ketenaran, Kiai Ali, begitu masyarakat memanggilnya, meniti jalan pengabdian dalam kesunyian.

Selain ambisinya melestarikan tradisi keilmuan para ulama salaf, ia juga menyadari tanggung jawab besar terhadap kehidupan beragama umat Islam.

Dari mata yang teduh, ia melihat banyak umat yang jauh dari ajaran agama, bertindak semaunya karena jarang mendapat nasehat ulama. Dari lubuk hatinya, Kiai Ali tidak menyalahkan siapa pun, melainkan berusaha mencari solusi.

"Fokus bukan pada masalah itu sendiri, tetapi pada cara nyata menanganinya," kata dia saat wawancara di ruang tamu MAN Temanggung.

"Tujuannya jelas: membawa umat Islam menuju kemajuan, baik secara struktural maupun kultural," lanjut Kiai Ali.

Pergerakannya khusus ditujukan membangun dasar fundamental, yakni melestarikan keilmuan agar masyarakat Islam tidak kalah dalam intelektualitas, moralitas, maupun modernitas.

"Majelis taklim yang saya ampu ialah sarana bagi puluhan orang yang ingin mendalami ilmu agama," kata dia merendah.

Namun perjuangan Kiai Ali tidak berhenti di situ. Lewat lembaga pendidikan, ia mencetak generasi berkualitas, sekaligus berkiprah di struktural Nahdlatul Ulama sebagai Wakil Syuriah MWCNU Kranggan.

Momong Umat
Sejak 2001, Kiai Ali aktif dalam dunia kemasyarakatan. Ia tidak hanya mengabdi di lembaga pendidikan formal, tetapi juga memberikan taklim dan tausiyah kepada masyarakat awam. Ia menyadari bahwa para kiai besar sering kerepotan mengurus banyak hal, sehingga ada sebagian masyarakat yang belum tersentuh bimbingan mereka.

"Kalau berbicara tentang para ulama-ulama pasti ada bagian yang tidak bisa mereka atasi karena itu sesuatu yang tidak bisa terjangkau oleh Kiai-Kiai besar, maka itu yang saya openi," ujarnya.

Berbekal pengetahuan akademis dan ilmu pesantren, Kiai Ali mulai mengumpulkan beberapa orang di sekitar rumahnya untuk ngaji bersama. Ia mendirikan majelis taklim tanpa nama, terbuka bagi siapa saja: muda maupun tua, laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak. Metode ngajinya humanis dan lembut, seakan meneteskan cahaya ke hati orang-orang yang selama ini kering dari pemahaman agama.

Layaknya magnet, seiring waktu majelis taklimnya mulai menarik perhatian banyak orang. Mereka yang datang biasanya memiliki niat untuk belajar, tetapi tidak memiliki kesempatan atau keberanian mencari guru. Akibatnya, mereka sering mengandalkan kajian di media sosial yang fleksibel, namun belum tentu kredibel.

Di sinilah strategi Kiai Ali dimainkan. Seperti pepatah mengatakan, “Sekali gayung dua pulau terlewati,” ia membuka kegiatan taklim berbasis kitab kuning. Dengan strategi ini, Kiai Ali bisa sekaligus melestarikan kitab kuning dan membimbing masyarakat. Ia bukan tipe orang yang menunggu orang datang; ia yang maju terlebih dahulu untuk menaungi mereka yang membutuhkan bimbingan. Ibarat perlombaan, ini hanyalah soal waktu sebelum mereka terjerumus ke kelompok yang tidak bertanggung jawab.

Kini jamaahnya telah mencapai lebih dari 200 orang dari berbagai daerah. Kegiatan taklim diadakan bervariasi sesuai kesibukan jamaah—mingguan, bulanan, bahkan harian. Ia juga membuka kelas online bagi yang tidak sempat hadir, sehingga kegiatan ngaji tetap berjalan tanpa hambatan.

Pada awalnya, majelis taklim hanya diikuti beberapa orang, namun Kiai Ali tetap konsisten. Ia mengajar dengan sabar dan telaten, menjawab semua pertanyaan jamaah, serta memberikan nasihat kehidupan agar mereka tidak tersesat. Ia tidak memandang jumlah peserta; sedikit atau banyak, semuanya dilayani dengan sungguh-sungguh.

"Bagi saya tidak ada kata menganggur. Setiap pagi, saya mengajar di sekolah hingga sore. Setelah itu, mengasuh anak-anak madrasah diniyah di kampung, dan selalu siap kapan pun jamaah ingin belajar," bebernya.

Semua ini dilakukan tanpa biaya, bahkan terkadang ia turut menyumbang demi kepentingan umat. Masuknya ia sebagai Wakil Syuriah MWCNU Kranggan membuat pergerakannya dalam membimbing umat semakin leluasa.

Menjaga Warisan Ulama Salaf
Tradisi keilmuan ulama salaf, terutama pembelajaran kitab kuning, adalah warisan para ulama terdahulu yang menjaga nilai-nilai Islam dari generasi ke generasi. Namun kini, warisan ini menghadapi tantangan berat di tengah kemajuan teknologi. Pembelajaran kitab kuning mulai tergantikan kajian online yang belum tentu kredibel.

Kiai Ali menganalisis fenomena ini secara ilmiah. Ia tidak ingin berputar-putar pada masalah, melainkan mencari solusi praktis: penguatan basis keilmuan.

"Kunci dari kemajuan suatu peradaban itu adalah memiliki basic keilmuan yang kuat. Saat ini kitab kuning sangat diperlukan karena itu adalah ciri khas kita. Dengan kekuatan yang saya miliki saat ini, saya bertekad ingin membenahi basis keilmuan, baik itu basis keagamaan maupun basis era kekinian," ujarnya.

Langkah pertama yang ia lakukan adalah membumikan kembali kitab kuning dan mengenalkannya kepada masyarakat awam, khususnya jamaahnya. Setiap pekan, ia membuka kajian tafsir bagi murid asrama MAN Temanggung, bahkan menyediakan waktu khusus untuk membacakan kitab kuning bagi staf dan pengajar.

Sebagai kepala madrasah sekaligus Wakil Syuriah MWC NU, Kiai Ali memanfaatkan kekuatan dan relasinya untuk menyiapkan generasi muda yang berkualitas dan berintelektual tinggi.

Begitulah jalan pengabdian ulama muda dari Mendirat, Pare. Meski namanya belum begitu dikenal luas, jejak perjuangannya terasa nyata. Kiai Ali hadir membawa kesejukan bagi masyarakat, dengan tekad yang tak akan padam hingga impiannya benar-benar terwujud.

"Saya akan berjuang merubah kultur dan membangun sumber daya manusia yang berkualitas dengan cara yang seperti Rasulullah pernah lakukan, yaitu lewat kelembutan dan uswatun khasanah, karena dengan dua hal tersebut dakwah bisa dilakukan dengan sempurna dan bertahan untuk waktu yang lama," tutup Kiai Ali Masyhar.

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo