Di balik pencapaian dan melejitnya kualitas kampus Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) beberapa tahun ini, ada sosok tangguh yang tak kenal menyerah. Dia adalah Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag.
Prof Zaenal, begitu ia disapa, merupakan Rektor UIN Gus Dur kelahiran Blora, Jawa Tengah. Ia menjabat Rektor UIN Gus Dur sejak 2021-2025 untuk periode pertama dan dilanjutkan periode 2025-2029. Ia dikenal sebagai pribadi cerdas, disiplin, dan berdedikasi tinggi.
Saya menemui Rektor kelahiran 26 Juli 1971 ini di dalam ruangan kerjanya yang cukup luas, berjejer kursi sofa dan meja, serta pendingin ruangan yang membuat siapa pun betah berlama-lama di dalamnya. Di ruangan inilah Prof Zaenal biasa menemui para tamunya.
"Dalam sehari rata-rata saya menerima tamu antara tiga hingga empat orang, Mas,” ujarnya saat perbincangan pada pertengahan Oktober 2025.
Menebar Motivasi dengan Kedisiplinan dan Tanggung Jawab
Prof Zaenal, di mata rekan kerjanya, adalah sosok yang peduli terhadap siapa pun, khususnya terhadap orang-orang yang membutuhkan, baik secara materi maupun nonmateri.
Tidak hanya dermawan, sebagai seorang pemimpin, Prof Zaenal juga gemar memberi teladan kepada bawahannya, bukan dengan gaya, melainkan melalui ucapan dan perbuatan. Ia senantiasa memberi motivasi kepada yang lain agar selalu menyelesaikan tugas dengan baik dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.
Bagi Prof. Zaenal, kepemimpinan yang efektif bertumpu pada visi, misi, dan tujuan yang jelas serta terukur. Seorang pemimpin harus mampu memberikan energi positif bagi lingkungan, mendengarkan serta memahami kebutuhan tim, dan memberikan dukungan yang mendorong kinerja optimal.
"Jadi fokus utamanya harus jelas, yakni pencapaian hasil dan tujuan yang telah dirancang dengan tetap menjunjung tinggi prinsip transparansi, kolaborasi, serta inovasi yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Sebagai ASN Kemenag RI yang bekerja di UIN Gus Dur, Prof Zaenal selalu berusaha mengedepankan nilai-nilai moralitas yang ia genggam dalam menjalankan profesinya. Ada delapan unsur yang meliputi religiusitas, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kerja keras, kedisiplinan, keberanian, dan keadilan.
Dengan nilai-nilai tersebut, Prof Zaenal berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi terbaik sebagai ASN yang profesional, religius, dan melayani masyarakat dengan sepenuh hati.
Tidak berhenti pada nilai-nilai moralitas, dalam menjalankan peran manajerial di lingkungan organisasi, lembaga, maupun perguruan tinggi, Prof. Zaenal juga menerapkan prinsip manajemen sebagaimana teori fungsi manajemen yang disampaikan George Terry, yaitu POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).
“Ini sudah bukan rahasia umum, bahwa saya percaya, setiap kebijakan dan langkah strategis selalu diawali dengan perencanaan yang matang, pengorganisasian yang efektif, pelaksanaan yang optimal, serta pengendalian yang berkesinambungan guna memastikan pencapaian tujuan secara efisien,” ucap pria yang menjadi ASN sejak tahun 1999 tersebut.
Nilai-nilai moralitas yang ia pegang telah mengantarkannya menjadi sosok yang dihormati, tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga di luar kampus. Hal ini dibuktikan dari kontribusinya bagi masyarakat melalui berbagai organisasi, baik yang sedang maupun pernah digelutinya, di bidang pendidikan, keagamaan, maupun sosial.
“Dalam kepemimpinan di bidang pendidikan, saya pernah diamanahi sebagai Ketua Komite MAN 1 Pekalongan selama dua periode (2017–2023) dan Pembina PMII Cabang (Mabincab) Pekalongan (2019–2020). Dalam kepemimpinan organisasi keagamaan, amanah yang saya emban antara lain sebagai Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah (2018–2023), Dewan Pakar Persatuan Guru NU (Pergunu/2020–2024), Mustasyar PCNU Kota Pekalongan (2023–2028), A’wan PWNU Jawa Tengah (2024–2029), dan sebagainya,” terangnya.
Pengalaman di organisasi masyarakat ini menjadi penanda bahwa Prof Zaenal mendedikasikan dirinya bukan hanya untuk kampus, tetapi juga untuk umat. Ia tidak hanya bekerja di belakang meja atau berdiskusi dengan sesama pimpinan perguruan tinggi, tetapi juga aktif turun ke masyarakat.
Punya DNA sebagai Pemimpin
Dunia kepemimpinan telah membawa Prof Zaenal melangkah sejauh ini. Tentu, di balik pencapaian hebatnya, ada perjalanan panjang yang harus ditempuh. Sebelum menjadi orang nomor satu di UIN Gus Dur, Prof Zaenal hanyalah dosen biasa yang lebih dulu digembleng di berbagai organisasi.
Kiprahnya dalam dunia kepemimpinan dimulai sejak masa mahasiswa, ketika mendapat amanah sebagai Ketua Cabang PMII Kota Semarang pada tahun 1994.
Perjalanan ini berlanjut dengan kepercayaan padanya sebagai Sekretaris GP Ansor Kota Semarang periode 1995–1998. Jabatan di kampus dipikul tak lama setelah menjadi ASN dosen di STAIN Pekalongan. Pada tahun 2000 hingga 2006, ia diamanahi sebagai Sekretaris Jurusan Tarbiyah di kampus tersebut.
Prof Zaenal mengatakan, dulu teman-teman seangkatannya menganggap ia punya “DNA Pejabat”. Hal ini bukan omong kosong, melainkan cerminan bahwa kelak akan lahir pemimpin tangguh yang punya visi berkemajuan. Ketika rekan-rekan seangkatannya masih menjadi dosen biasa, Prof Zaenal sudah diberi tanggung jawab sebagai Sekretaris Jurusan Tarbiyah.
“Waktu itu, saat yang lain masih disuruh mengetik, jadi staf, saya sudah disuruh menjabat pada Oktober tahun 2000.”
Selepas menunaikan amanah sebagai Sekretaris Jurusan Tarbiyah, dosen bergelar Profesor di bidang Manajemen Pendidikan Islam ini kemudian naik menjadi Ketua Jurusan Tarbiyah (2006–2010), Wakil Ketua II STAIN Pekalongan (2010–2017), Wakil Rektor II IAIN Pekalongan (2017–2021), dan Rektor UIN Gus Dur periode I (2021–2025) yang berlanjut periode II (2025-2029).
Dalam lingkup antarperguruan tinggi, berbagai amanah strategis juga telah diemban. Di antaranya sebagai Sekretaris Forum Wakil Rektor II PTKIN (2012–2018), Wakil Ketua Forum Wakil Rektor II PTKIN (2019–2022), serta Bendahara Forum Rektor PTKIN (2022–2023).
Utamakan Sinergi dan Kolaborasi
Prof Zaenal sadar betul, tanggung jawabnya sebagai pimpinan perguruan tinggi harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Bagi Prof Zaenal, rektor harus banyak bekerja di luar kampus, membangun jejaring, relasi, sinergi, dan kolaborasi dengan banyak pihak. Ia menilai, tantangan perguruan tinggi di era sekarang semakin kompleks. Dua tantangan besar yang ia sebutkan adalah daya saing dan teknologi.
Daya saing kampus, menurutnya, adalah kemampuan perguruan tinggi untuk kompetitif dan unggul, yang dapat ditingkatkan melalui inovasi digital, kualitas lulusan, fasilitas akademik, dan kemitraan internasional.
"Walaupun ini berat, tapi saya yakin dengan kerja sama tim, kedisiplinan, kerja keras, dan doa, insyaallah kita dapat melewati rintangan demi rintangan dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.
Prof Zaenal bukan tipe orang yang mudah menyerah. Ia meyakini bahwa kerja keras dan semangat tinggi akan membuahkan hasil maksimal. Selain itu, ia juga dikenal sebagai ahli negosiasi. Dalam periode pertamanya sebagai Rektor UIN Gus Dur, banyak capaian besar yang berhasil diraih di bawah kepemimpinannya.
Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
- Transformasi kelembagaan dari IAIN Pekalongan menjadi UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan pada tahun 2022
- Transformasi pengelolaan keuangan dari satuan kerja PNBP menjadi Badan Layanan Umum (BLU) pada tahun 2023
- Peningkatan infrastruktur akademik seperti Smart Class, Gedung Student Center, Sistem Akademik Terpadu (SIKADU), Asrama Mahasiswa, Abuwa Mart, dan Klinik Kesehatan
- Ekspansi kerja sama akademik dan kemahasiswaan hingga skala global
- Peningkatan jumlah dosen bergelar doktor dan 10 guru besar
- Perolehan akreditasi Unggul untuk 11 program studi.
Prof Zaenal tidak hanya mahir berdiri di podium dan visioner, tetapi juga ahli dalam dunia tulis-menulis. Dalam sepuluh tahun terakhir, sudah ada 35 artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal nasional maupun internasional. Berbagai prestasi lain seperti menjadi narasumber pada forum nasional dan internasional, serta penghargaan Satyalancana Karya Satya sebanyak dua kali (2017 dan 2019) dari Presiden juga tak luput darinya. Prestasi tersebut diraih berkat ketekunan dan kerja kerasnya.
Dari semua perjalanannya, satu hal yang menonjol dari sosok rektor bertubuh agak tambun ini adalah kesederhanaan dalam keagungan.
"Syaa tidak pernah menjadikan gelar dan jabatan sebagai jarak, tetapi sebagai alat untuk mendekatkan diri pada masyarakat, khususnya kepada rekan-rekan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa," ungkapnya.
Ia tidak membangun pencitraan, melainkan membangun kepercayaan melalui ketulusan: tulus bekerja dan berkhidmat.
Sebagai sosok yang berpengalaman dalam organisasi, Prof. Zaenal paham betul apa yang dirasakan oleh para aktivis mahasiswa, karena ia pernah berada di posisi yang sama. Sebagai bentuk khidmah kepada organisasi yang dulu menempanya, ia tak pernah sungkan memberikan bantuan, termasuk dalam bentuk materi. Kantor organisasi ekstra yang kini berdiri di Kota Pekalongan tak lain juga ada sumbangsih Prof. Zaenal di dalamnya.
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
Editor: Kendi Setiawan


