Dark
Light
Dark
Light

Dari Ruang Kelas ke Masyarakat: Perjalanan Inspiratif Ma'as Shobirin Dosen Muda Gigih Merawat Generasi Muda

Dari Ruang Kelas ke Masyarakat: Perjalanan Inspiratif Ma'as Shobirin Dosen Muda Gigih Merawat Generasi Muda

Ada berbagai tipe manusia yang hidup  di muka bumi ini, salah satunya tipe orang yang senantiasa membimbing dan menjadi penggerak di masyarakat.

Ma’as Shobirin, dosen Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, termasuk dalam kategori itu. Sebagai seorang akademisi, Ma’as tidak hanya berkutat di ruang kelas, tidak hanya berkecimpung dengan buku-buku, tidak hanya berurusan dengan administrasi kampus. Ia juga hidup yang ia jalankan lebih dari itu semua. 

Merawat Generasi Muda dengan Tulus
Di luar kampus, sejak masih muda, dosen kelahiran Semarang 30 April 1986 ini, selalu konsisten membina kaum muda agar memiliki kualitas yang baik, ketajaman intelektual yang mumpuni, dan kepekaan sosial yang tinggi.

Menurut Ma’as, anak muda perlu dijaga dan dirawat. Ia selalu membuka pintu lebar-lebar kepada anak didiknya untuk silaturahmi ke rumah sekadar untuk diskusi dan berbagi pengalaman. Menjamu mereka dengan seadanya. Inilah khidmah yang ia lakukan sedari dulu.

"Bagi saya hidup ini bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Khidmah menjadi salah satu jalan untuk menuju kebagagiaan tersebut. Berkhidmah bisa terhadap pribadi seseorang maupun lembaga. Khidmah harus dilakukan dengan penuh dedikasi dan menjaga integritas,” ujarnya dengan keyakinan penuh.

Jiwa sosial dan karakter kepemimpinannya yang kuat tidak lahir di waktu kemarin sore, melainkan telah melalui proses panjang yang mengorbankan banyak waktu, tenaga dan pikiran. Ma’as sudah mengasah semua itu sejak duduk di bangku sekolah. Tepatnya, saat ia menjadi pengurus OSIS SMA Futuhiyyah Mranggen, Demak.

Sembari bersekolah formal, ia tak lupa untuk mengejar ilmu akhirat, dengan mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Al Mubarok Mranggen Demak di bawah asuhan KH. Mahdum Zen yang merupakan menantu KH Muslih bin Abdurrahman. 

Semangat dalam berorganisasi tidak berhenti di OSIS saja. Saat kuliah di UIN Walisongo, ia aktif di PMII serta organisasi kepemudaan di wilayahnya.

Ma’as tipe orang yang suka bergerak dan mendedikasikan diri untuk kepentingan orang lain, bukan tipe yang kuliah pulang-kuliah pulang. Ia bukan pula tipe yang suka mencari-cari alasan ketika diajak rapat atau sosialisasi. 

"Sejak mahasiswa saya senang menjadi pribadi yang melakukan kaderisasi secara personal, one by one secara intens dengan melakukan komunikasi maupun pendampingan kepada adik angkatan selama mahasiswa maupun setelahnya," tuturnya.

"Apabila boleh saya sebut seperti Dr Ahmad Arifudin (dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon), Muhammad Jauhari Shofi (Dosen UIN Abdurrahman Wahid), Amrizarois Ismail (Dosen UNIKA Soegijapranata), Akhmad Nur Asikin (Dosen Unwahas). Setidaknya deretan nama-nama tersebut pernah menjadi partner diskusi dan dampingan selama waktu muda," lanjut Ma'as.

Hal yang sering ia lakukan dalam memberdayakan anak muda tentu dengan memberikan perhatian serius melalui diskusi dan mentoring berdasarkan pengalaman yang diperolehnya, bukan semata dengan materi berupa uang. Ma’as adalah pemberi motivasi, semangat, dan harapan untuk anak-anak muda yang ingin maju. 

"Mendorong anak didik saya untuk berani tampil dan berkompetisi untuk kebaikan dan kebermanfaatan yang lebih luas," ucapnya seolah menekankan bahwa hidup tak akan ada maknanya tanpa memberi arti bagi orang lain.

Mendirikan Griya Peradaban
Sebagai dosen yang concern di bidang kepemimpinan dan pemberdayaan pemuda, Ma’as ingin melihat pemuda Indonesia memiliki kompetensi, keteguhan dan kreativitas dalam mengembangkan kepribadian serta kepekaan terhadap lingkungannya.

Atas dasar itulah, Ma’as mendirikan Perkumpulan Griya Peradaban pada tahun 2020, sebuah komunitas pemuda yang bertujuan memberdayakan dan meningkatkan kapasitas generasi muda melalui berbagai kegiatan positif.

"Kala itu masa pandemi Covid-19. Kesibukan kampus tidak begitu padat sehingga mendorong kejiwaan saya untuk mendirikan perkumpulan yang saya beri nama Damar Griya Peradaban. Perkumpulan ini lahir karena merupakan salah satu cita-cita saya sebelum lulus sarjana," kisahnya

"Saya berharap kelak dapat mengumpulkan dan mengembangkan talenta-talenta pemuda hebat yang tidak lepas dari pondasi keindonesiaan dan kepesantrenan," ujar Ma'as tulus.

Griya Peradaban didirikan untuk tujuan baik serta dilakukan dengan cara-cara yang baik. Bahkan modal dan pendanaan operasional selama ini juga dari rizki yang halal. Meski hal sederhana yang Ma’as dedikasikan setidaknya ia bisa berkontribusi untuk melakukan kepada orang lain.

Namun di balik itu semua ada tantangan tersendiri. Perbedaan generasi menjadi tantangan baginya untuk bisa memberikan pendampingan mereka. 

"Saya harus belajar menyelami keinginan dan karakteristik anak muda gen Z dan Alpa. Mungkin itu yang menjadi domain tantangan terberat. Meskipun pendanaan masih bertumpu pada pribadi saya, hal itu bukan menjadi hambatan serius," cerita dia.

"Bagi saya, segala kebaikan yang diperjuangkan pasti akan mendapatkan jalan kemudahan dari Allah Swt. Bahkan Griya Peradaban mampu melahirkan lembaga Griya Riset Indonesia yang selama ini juga sudah melakukan kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi, sekolah/madrasah serta Pertamina dalam hal penulisan dan publikasi karya ilmiah," ucapnya penuh kehangatan.

Griya Peradaban yang didirikan Ma’as Shobirin sudah berjalan selama lima tahun. Salah satu program unggulannya adalah Kuliah Alternatif yang digelar dua kali dalam setahun. Kuliah Alternatif yang melibatkan peserta anak muda dari seluruh Indonesia ini dilakukan secara online. Narasumber pada kegiatan itu diambilkan dari para anak muda yang punya kompetensi. Setidaknya, sudah 10 angkatan Kuliah Alternatif berjalan, dengan telah memiliki alumni di angka 460 an orang.

"Kegiatan Kuliah Alternatif ini sudah berlangsung rutin, dengan kurang lebih sudah ada peserta dari 100 institusi baik dari perguruan tinggi, sekolah, maupun organisasi/komunitas, yang telah menyemarakkan agenda ini dari angkatan pertama sampai angkatan sepuluh," terangnya.

Mengidolai KH Wahid Hasyim
Kecintaan Ma’as pada generasi muda tak terlepas dari sosok-sosok yang diidolakan, salah satunya KH Wahid Hasyim. Ma’as sangat mengagumi ayah Gus Dur tersebut. Dengan beragam sepak terjangnya, Wahid Hasyim sangat memiliki kepedulian terhadap generasi muda.

Sejak itu, Ma’as tidak pernah mendidik generasi muda dengan material untuk menumbuhkan kreativitas dan inovasi meskipun hal itu dibutuhkan. Namun, ia menggerakkan dengan cara dukungan moral dan akses jejaring agar mereka lebih memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang lebih besar lagi. 

Sebagai dosen dan aktivis sosial, Ma’as selalu berharap semoga Allah Swt juga membimbing dan memberikan kebaikan bagi anak-anaknya, di saat ia punya tugas lain untuk berkhidmah membantu generasi lainnya. Ia percaya Allah swt akan menjaga anak dan keluarganya. 

"Konsekuensi sebagai aktivis sosial dan memiliki dua lembaga tentu akan mengurangi intensitas bersama keluarga. Hal ini saya meniru Gus Dur. Beliau merelakan waktunya untuk umat dan memasrahkan keluarganya agar dijaga dan dibimbing Allah Swt," ujarnya.

Sejak muda, Ma’as memang sudah banyak melakukan aktivitas sosial. Bahkan, waktu yang ia curahkan lebih banyak diimplementasikan untuk jenis kegiatan yang tidak ada gajinya. Itulah pilihan hidup. tidak semua kebahagiaan itu dapat diukur dengan nilai mata uang tapi harus berharap kebaikan yang lebih dari Tuhan atas apa yang sudah dilakukan.

Meski punya lembaga di luar pekerjaan, Ma’as tetap memprioritaskan tugas utamanya sebagai dosen di Unwahas. Ia berupaya untuk tidak memanfaatkan tempat pengabdian (Unwahas) untuk membesarkan lembaga yang ia dirikan. Semuanya aktifitas berjalan secara baik dan wajar.

Ma’as mengajak kepada generasi muda agar senantiasa menjunjung tinggi etika dan adab, khususnya saat berselancar di dunia maya. Di era munculnya berbagai konten berbahaya seperti ujaran kebencian, berita bohong, atau paham radikal, generasi muda harus aktif menangkal itu semua. Salah satunya dengan implementasi moderasi beragama. Keberadaan moderasi beragama sangat penting sebagai pedoman sekaligus cara pandang bagi pemuda dalam menyikapi dinamika sosial keagamaan.

"Diharapkan dari cara pandang tersebut muncul sebuah kesadaran dan empati terhadap gejolak sosial yang menyeruak. Selain bepegang teguh pada ajaran Islam dan tradisi luhur yang diwariskan para ulama', pemuda juga diupayakan dapat melakukan akselerasi positif dalam membingkai moderasi agama sebagai jalan kebaikan dan kemaslahatan umat manusia," terangnya.

Keluarga sebagai Sumber Kekuatan
Ma’as saat ini tinggal menemani ayahanda tercinta di wilayah barat Kota Semarang dan berdekatan dengan wilayah Pondok Pesantren Luhur Dondong. Istrinya, Rifatun Nashiha, adalah Guru SDN Ngijo 1. Buah dari pernikahan mereka dikaruniai 3 anak, yakni Nasywa Ajmala Kholqillah, Hisyam Abdurrahman Khalqi, Alisha Khaira Khalqillah.

Bagi Ma’as, istri dan putra putrinya adalah sumber utama kekuatan dirinya, selain doa guru dan orang tuanya. Ma'as percaya, segala pencapaiannya saat ini ada andil dari orang-orang yang ia cintai. 

Usaha dan doa-doa itu yang mengantarkan Ma’as menjadi sosok yang punya karier cemerlang. Sejak menjadi dosen di usia 28 tahun pada 2014, Ma’as pernah diamanahi sebagai Ketua Jurusan PGMI Unwahas (2017-2021), Ketua Aswaja Center Unwahas (2021-2025) dan kini sebagai kepala Perpustakaan Unwahas (2025-2029). Ma’as sebelumnya pernah menjadi seorang guru di madrasah (2009-2014). 

Sebagai dosen ia tetap menulis dan terus mencoba mengembangkan kompetensi. Setidaknya ia pernah berkesempatan memperoleh program Hibah dari Kementerian Agama untuk mengikuti Short Course Community Outreach di India (2015), Short Course Research Methodology di Universitas Leiden, Belanda (2018), Diklat Taplai LEMHANNAS RI (2018), Kader Bangsa Fellowship Program (2018), International Social Service di Filipina (2022), Global Visit di Malaysia (2023) dan International Community Engagement di Arab Saudi (2023).

Segudang pengalaman di bidang pendidikan juga pernah dilakukannya, seperti Pengajar Diklat Penguatan Sekolah (2019-2021), Fasilitator Sekolah Penggerak (2021-2025), dan Instruktur Madrasah Reform Kemenag RI (2021-2024).

Alumnus Magister UNNES jurusan Pendidikan Dasar (2011-2013) itu kini sedang menempuh pendidikan doktor pada jurusan yang sama di UNNES dengan mengkaji sekolah kebahagiaan berwawasan lingkungan di sekolah dasar. 

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo