Dark
Light
Dark
Light

Dosen UIN Walisongo Ubaidillah Achmad Tamam, Pilar Kearifan di Antara Pesantren dan Kampus

Dosen UIN Walisongo Ubaidillah Achmad Tamam, Pilar Kearifan di Antara Pesantren dan Kampus

Di balik keteduhan ruang kelas Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, sosok Ubaidillah Achmad Tamam berdiri teguh sebagai salah satu pilar kearifan dan penggerak perubahan. Suaranya tenang, tapi setiap kalimat yang keluar darinya seolah membawa semangat yang menyalakan nurani banyak orang.

Lahir di Rembang, 26 Agustus 1973, Ubaidillah menapaki perjalanan hidup yang tak hanya menorehkan sejarah intelektual, tetapi juga menanamkan semangat perjuangan dan amal nyata bagi masyarakat luas.

“Ilmu itu tidak berhenti di ruang kelas,” ucapnya suatu sore di sela diskusi mahasiswa. “Ia harus hidup di hati, bekerja di tangan, dan menyala dalam tindakan.”

Kalimat itu menjadi gambaran yang paling jujur tentang sosoknya.

Akar Pesantren dan Jalan Ilmu
Fondasi kuat Ubaidillah tumbuh dari lingkungan pesantren ternama di Jawa Tengah, Raudlatul Falah, Maslahul Huda, Futuhiyyah, dan Al Irsyad. Lingkungan ini menanamkan nilai-nilai kesederhanaan, keteguhan, dan adab terhadap ilmu.

Dari tradisi salafiyah yang disiplin, ia melanjutkan perjalanan intelektual hingga meraih gelar doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun, bagi Ubaidillah, gelar hanyalah alat. Sesuatu yang lebih penting, katanya, adalah bagaimana ilmu menjadi “ladang amal yang membangun dan berdaya guna untuk umat.”

Ketika mengenang masa mondoknya, ia pernah berkata kepada santri muda, “Kalau kamu hanya belajar untuk mendapat gelar, kamu akan berhenti saat lulus. Tapi kalau kamu belajar untuk mencari ridha Allah, maka setiap langkahmu akan menjadi amal.”

Mengajar dengan Jiwa Merdeka
Sebagai dosen Filsafat Islam di UIN Walisongo, Ubaidillah dikenal membawa semangat pembelajaran yang memerdekakan pikiran. Di kelasnya, mahasiswa tidak hanya mendengarkan, tapi berdialog, mempertanyakan, bahkan menantang gagasan.

Ia membuka ruang diskusi luas agar mahasiswa dapat mengasah kemampuan berpikir kritis.

Mahasiswa sering mendengar kalimat khasnya: “Jangan takut berbeda pendapat dengan saya, tapi tunjukkan alasannya.”

Setelah setiap diskusi, ia memetakan gagasan mahasiswa dengan perspektif ontologi, epistemologi, dan aksiologi, lalu menuntun mereka menemukan makna di balik setiap konsep. Metodenya bukan sekadar transfer ilmu, melainkan transformasi cara berpikir.

“Setiap kali beliau bertanya balik setelah menjelaskan,” kenang salah satu mahasiswanya, “kami sadar, beliau ingin memastikan bukan hanya kami hafal, tapi kami benar-benar memahami.”

Pesantren Assuffah: Menanam Ilmu dan Budi
Di luar kampus, Ubaidillah adalah pengasuh Pondok Pesantren Assuffah di Sidorejo, Pamotan, Rembang. Di tempat inilah ia kembali menjadi “kiai”, membimbing santri dalam tradisi kitab kuning. Namun, caranya mengajar tak hanya menekankan teks. Ia menggali pemahaman para nabi dan ulama terhadap kitab, lalu menautkannya dengan realitas sosial.

“Ilmu bukan untuk membanggakan diri,” pesannya kepada para santri. “Ia untuk menolong orang lain agar tidak tersesat.”

Dalam pengajarannya, para santri dididik agar tumbuh seimbang — cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, dan lembut dalam budi pekerti.

Tantangan dan Keteguhan Hati
Perjalanan Ubaidillah sebagai pendidik tentu tidak tanpa rintangan. Sebagai dosen filsafat, ia menghadapi mahasiswa dengan latar belakang yang beragam. “Banyak mahasiswa yang masih berpikir seperti di SMA,” tuturnya sambil tersenyum. “Tugas kita bukan mengeluh, tapi menuntun.”

Ia sadar bahwa materi filsafat sering dianggap berat. Karena itu, ia tak segan mengulang, menyederhanakan konsep, bahkan memberi contoh keseharian agar gagasan besar mudah dicerna. Di sinilah tampak keteguhan seorang pendidik sejati — sabar, ikhlas, dan tidak pernah lelah membimbing.

Membangun Generasi Sadar Literasi
Ubaidillah percaya bahwa dosen bukan sekadar pengajar, tapi pembangun kesadaran. Baginya, gaya berpikir dosen harus terus berkembang agar relevan dengan kebutuhan zaman.

“Kita tidak boleh hanya menuntut mahasiswa pintar,” ujarnya dalam forum fakultas. “Kita juga harus membantu mereka menjadi manusia yang beradab.”

Ia mendorong mahasiswa untuk aktif membaca, menulis, dan meneliti. Literasi, katanya, adalah kunci pembebasan manusia dari kebodohan dan sikap pasif. Melalui peran strategisnya, Ubaidillah tak hanya mencetak mahasiswa yang pandai, tapi juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial.

Karya dan Gerakan Sosial
Semangat Ubaidillah juga tampak dalam karya dan gerakan sosialnya. Bukunya yang berjudul “Islam Geger Kendeng: Konflik Ekologi dan Rekonsiliasi Akar Rumput” menjadi karya monumental yang menyoroti perjuangan petani Rembang dalam mempertahankan lingkungan hidup.

Buku itu bukan hanya analisis akademik, tetapi juga bentuk keberpihakan moral.

Dalam satu wawancara, ia berkata tegas, “Agama tidak boleh diam saat alam dan manusia ditindas. Islam mengajarkan keadilan ekologis, bukan hanya ritual ibadah.”

Karya itu menjadi inspirasi bagi banyak kalangan dan menjadi referensi penting dalam studi lingkungan berbasis keislaman.

Buku lainnya, “Suluk Kiai Cebolek dalam Konflik Keberagamaan dan Kearifan Lokal”, memperlihatkan keberanian Ubaidillah dalam menantang arus homogenisasi agama. Ia mengangkat kearifan lokal sebagai jembatan sosial yang harmonis. Tak heran, buku tersebut meraih penghargaan Buku Islami Terbaik IKAPI tahun 2016, bukti pengakuan atas kedalaman ilmunya.

Selain buku, ia aktif menulis jurnal ilmiah yang membahas filsafat Islam, psikoterapi sufistik, resolusi konflik lintas budaya, dan pendidikan multikultural. Semua tulisannya berangkat dari kepedulian pada umat dan bangsa, menghadirkan solusi atas persoalan sosial yang kompleks.

Berjuang Bersama Nahdlatul Ulama
Dalam konteks sosial-keagamaan, Ubaidillah juga aktif dalam gerakan Nahdlatul Ulama (NU). Sejak muda, ia telah menginternalisasi nilai-nilai dasar NU yang berpijak pada Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas dengan tradisi empat madzhab serta tasawuf Al-Ghazali.

“NU bukan hanya organisasi,” ujarnya dalam satu kesempatan, “tapi jalan perjuangan menjaga keseimbangan antara agama, akal, dan kemanusiaan.”

Ia memilih untuk menjauh dari politik praktis, agar dakwahnya tetap fokus pada pembinaan moral dan spiritual masyarakat. Menurutnya, tugas ulama bukan merebut kekuasaan, tetapi menuntun nurani bangsa.

Dakwah Moderat di Era Digital
Di tengah derasnya arus digital, Ubaidillah memanfaatkan media daring untuk menyebarkan pesan moderasi beragama. Ia sering mengatakan bahwa dakwah masa kini harus “merangkul, bukan memukul; mengajak, bukan menghakimi.”

Moderasi, baginya, adalah kunci menciptakan toleransi di tengah keberagaman Indonesia. Melalui berbagai platform, ia berusaha menanamkan nilai-nilai inklusif dan humanis.

“Kalau kita keras, orang menjauh,” katanya suatu ketika kepada mahasiswa yang sedang merancang konten dakwah. “Tapi kalau kita lembut, orang mendekat. Dari kedekatan itu, kebenaran bisa tumbuh.”

Menyemai Harapan dan Keberkahan
Sebagai tokoh yang terus belajar, menulis, dan membimbing, Ubaidillah menunjukkan bahwa ilmu adalah amanah besar. Kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan zaman.

Ia menanamkan kepada generasi muda pentingnya memadukan kecerdasan intelektual dengan akhlak mulia dan semangat nasionalisme.

Bagi Ubaidillah, pesantren dan modernitas bukan dua kutub yang bertentangan. “Tradisi tidak menghalangi kemajuan,” ucapnya, “selama kita menjaga ruhnya: keikhlasan dan adab.”

Ia membuktikan bahwa dari ruang pesantren dan kampus, bisa lahir pemikir yang menggabungkan kehangatan spiritual dengan rasionalitas ilmiah.

Jejak dan Warisan
Jejaknya di Pesantren Assuffah dan UIN Walisongo bukan hanya meninggalkan ilmu, tapi juga harapan. Santri dan mahasiswa yang pernah dibimbingnya tumbuh menjadi generasi yang sadar akan pentingnya keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal.

Bagi banyak orang, Ubaidillah Achmad Tamam bukan hanya dosen atau kiai, melainkan pelita yang menunjukkan arah. Dalam kesederhanaan hidupnya, ia memancarkan cahaya pendidikan Islam yang moderat dan berkeadaban.

“Kalau ilmu membawa manfaat, itulah keberkahan sejati. Karena hakikat hidup bukan pada seberapa banyak yang kita tahu, tapi seberapa besar manfaat yang kita tebarkan," ungkapnya.

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo