Dark
Light
Dark
Light

Marak Bullying Anak, Bagaimana Seharusnya Orang Dewasa Memahami Dunia Mereka?

Marak Bullying Anak, Bagaimana Seharusnya Orang Dewasa Memahami Dunia Mereka?

Kasus perundungan yang dialami oleh salah satu murid di SMP Negeri 3, Doko, Blitar Jawa Timur mengusik batin kemanusiaan kita. Telah berkali-kali kabar semacam ini mampir dalam notifikasi di smartphone kita. Menghadapi gejala yang terus berulang ini sebaiknya menjadi perhatian banyak pihak, orang tua, sekolah, masyarakat yang dekat dengan anak-anak, dan pemerintah daerah. 

Kita tak boleh saling menuding siapa yang salah, tak elok saling melempar tanggung jawab pendidikan anak. Rumah tak boleh hanya megah, ia harus menjadi dunia yang ramah. Sekolah tak boleh hanya menonjolkan banyaknya piala, tapi ia harus menjadi dunia yang memberikan rasa bahagia. Pemerintah tak boleh menganggap keluarga adalah urusan pribadi, melainkan wajib melahirkan kebijakan yang peduli. 

Dunia anak-anak adalah dunia penuh warna, sehari-hari merupakan keceriaan yang tak ada habisnya. Mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga nanti malam memejamkan mata. Anak yang menunjukkan rasa marah adalah kewajaran sebagai bagian dari perkembangan emosinya.

Namun, jika marah menjadi sikap yang berkepanjangan dan mulai diarahkan untuk menyerang orang lain, maka amarah yang ditunjukkan itu memberi tahu kita bahwa ada yang salah di kedalaman jiwanya.

Sering kali anak-anak juga suka membongkar dan merusak mainannya. Itu bagian dari eksplorasi keterampilannya mewujudkan imajinasi yang muncul di kepalanya. Namun, jika anak-anak mulai merusak sarana milik masyarakat atau mencuri, maka itu alarm yang memberi tanda bahwa batinnya sedang tidak baik-baik saja. 

Anak-anak yang ingin mengambil jeda dalam lingkungan sosialnya kemudian menyendiri, suatu kali itu hal yang maklum belaka. Anak-anak perlu waktu sendiri memahami antara dunia yang ia bangun dalam benaknya dengan realita yang tampak nyata di depan matanya. Tapi, jika ia dalam kesendirian yang berkepanjangan, bahkan kerap menutup diri dan mengunci kamarnya, itu pertanda ia tengah mengalami gejolak yang merongrong kesejahteraan mentalnya. 

Sebutlah Aliqa (nama samaran). Ia gadis kelas 6 SD. Tinggal di sebuah desa di Kecamatan Bumijawa,Kabupaten Tegal. Ia tumbuh berbekal kekurangan, pita suara dan bagian-bagian tubuh sekitar itu kurang berkembang baik. Akibatnya, saat bicara, suaranya tak sempurna. Apabila berkata-kata bunyi suaranya mendengung dan cadel. Mungkin karena itu pula, daya tangkap kognitifnya juga tak seperti kawan-kawan lainnya. Singkat cerita, hal itu berdampak pada prestasi sekolahnya. 

Aliqa pernah merasakan tidak naik kelas berkali-kali. Rasa minder mulai muncul, kawan-kawannya menganggap ia bukan hanya berbeda, juga ditatap sebagai anak 'tidak normal'. Saat ini Aliqa sudah beranjak remaja. Ia sudah tak mau lagi kembali ke sekolah. Setiap hari ia suka memancing di sungai, dengan tampilan yang kurang sedap dipandang, merokok, dan kerap mengeluarkan kata-kata kasar. 

Aliqa adalah contoh, betapa kita orang dewasa sering sekali egois. Kita hanya mau menerima sesuatu yang berjalan normal dan mudah. Kita kerap lupa bahwa Tuhan menitipkan anak-anak yang berkebutuhan khusus sesungguhnya untuk kita semua, bukan urusan privat keluarga. Masa depan anak-anak adalah tanggung jawab kita sebagai bagian integral kehidupan bersama-sama. Ia lahir dari rahim keluarga tertentu, namun ia dibesarkan oleh kearifan masyarakat di mana ia tinggal. 

Aliqa merupakan hal nyata betapa sekolah mentah-mentah menolaknya. Guru-guru di sana mungkin tak tahu bahwa level kelas 1,2,3,4,5, hingga 6 bukanlah tangga urutan yang boleh mengeliminasi siswa karena dianggap bodoh. Jika dalam satu kelas ada anak yang kurang maksimal dalam pengetahuan dan keterampilan tertentu, maka solusinya adalah buatkan tahapan khusus bagi dia yang berbeda dengan capaian teman-teman lainnya yang memang kemampuannya rata-rata. 

Misalnya, seorang anak mengalami telat bicara dan berpengaruh pada keterlambatannya bisa membaca. Maka perkembangan sosial dan emosinya harus tetap diikutkan dengan teman-teman sebayanya, sementara kemampuan membacanya diturunkan pada level sesuai kemampuannya. Jadi, skill teknis seperti itu bukan soal si anak bodoh, tapi kecepatan belajar seseorang memang berbeda-beda. Kalau anak dalam contoh yang saya sebutkan itu tidak naik kelas, ia akan menanggung beban malu. Perasaan emosionalnya berkembang sesuai pergaulan kawan seumurannya, tapi karena tidak naik kelas, ia harus terpaksa memulai lagi dari nol. Ia akan merasa dianggap anak kecil, bodoh, dan gagal. 

Dunia anak-anak adalah sepenuhnya milik mereka. Namun, tanggung jawab perkembangan mentalnya menjadi tugas dan kewajiban orang-orang dewasa yang ada dalam lingkup hidupnya. Orang tua tak boleh egois ingin membentuk anak yang ideal berdasarkan harapan yang disusun dalam pemikirannya. Anak bukanlah tumbuhan yang boleh dibentuk, dibonsai, dicangkok, dan diperlakukan sesuka pemiliknya. Biarkan anak-anak menjadi dirinya sendiri. Daripada mengejar agar anak cepat bisa membaca, lebih baik dilatih terbiasa membereskan mainannya. 

Demikian juga sekolah, tak boleh hanya mengumpulkan piagam dan piala lalu lupa kewajibannya melatih mental anak-anak pada karakter jujur, disiplin, menghargai orang lain, mampu besyukur, dan selalu bersikap optimis. Nilai-nilai ini sulit diwujudkan apabila sekolah hanya berkutat pada urusan hapalan surat-surat pendek, hapalan rumus, atau capaian nilai raport yang tinggi.

Saya sering merasa heran, kenapa ya, sekolah yang isinya adalah anak-anak, justru tampak sepi? Anak-anak dikurung di dalam kelas, padahal di luar kelas tempat lebih terbuka dan segar. Anak-anak duduk diam dan mendengar, padahal anak-anak akan ramai berpendapat apalagi guru tak melulu ceramah. 

Terkahir pemerintah, ia berkewajiban membuat kebijakan yang benar-benar ramah terhadap anak. Mungkin belum ada, pemerintah daerah yang secara serius memasukkan urusan pengasuhan anak ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang. Kasus stunting dianggap hanya terkait asupan makanan semata. Padahal, yang tak boleh dilupakan adalah pola asuh yang baik juga menjamin masa depan anak lebih gemilang. 

Alhasil, dunia anak-anak, sekali lagi adalah dunia keceriaan dan kebahagiaan. Sekali kita merenggutnya, kita akan kehilangan batinnya. Saat ini mungkin kita tengah bersama mereka, tapi apakah sang anak sungguh-sungguh sedang menikmati kebersamaan itu? Boleh jadi pikirannya sedang mengembara ke dunia impian yang tak ia peroleh dari orang tua, guru, atau kawan-kawannya.

Anak bukanlah aset, anak juga bukan objek benda, dan tentu saja anak bukanlah tubuh dalam penguasaan kita, orang tuanya. Anak merupakan amanah Sang Pencipta. Mereka berhak tumbuh di masa yang tidak akan sama dengan masa kini, apalagi masa lampau tempat orang tuanya dulu berada.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo