Dark
Light
Dark
Light

Anak Remaja Mulai Mencari Identitasnya, Ini 5 Cara Terbaik Orang Tua Membangun Komunikasi Efektif

Anak Remaja Mulai Mencari Identitasnya, Ini 5 Cara Terbaik Orang Tua Membangun Komunikasi Efektif

Momen tersulit dalam mendidik anak adalah saat mereka beranjak usia remaja. Anak seusia itu memiliki dunianya sendiri. Apalagi di era smartphone yang sudah sedemikian melekat. Di kamarnya yang terbatas, anak berselancar di dunia tanpa batas. Anak usia remaja membangun nilai-nilai sendiri yang ia pungut dari informasi di gawainya, dari teman-temannya, dari banyak lingkungan yang pernah ia singgahi. 

Anak remaja sedang mulai memunculkan akar identitasnya sendiri. Ia sudah tak bisa menerima begitu saja otoritas di luar dirinya, orang tuanya, gurunya, atau sosok dewasa di sekitarnya. Jika sebuah nasihat sesuai dengan karakternya, ia mau mengikuti. Tapi bila sebuah instruksi mengusik sudut pandangnya yang berbeda, ia akan mengelak. Caranya, mereka akan memberontak dan menumpahkan amarah. 

Dunia remaja adalah dunia pencarian jati diri. Akar identitas yang sedang tumbuh terus jalin-menjalin menemukan satu rumusan nilai-nilai yang akan membentuk konsensus pribadi. Rumusan itu menjadi prinsip, ibarat pohon, prinsip seperti batang pohon. Ia berdiri kokoh sebagai pegangan hidup. Ia yang akan menghasilkan daun, ranting, dan buah pemikiran. Prinsip yang tak akan mudah digoyahkan oleh nilai-nilai yang dianut orang lain.

Dunia remaja adalah ruang yang penuh warna-warni emosional. Anak remaja tengah memvalidasi aneka rasa itu. Ketegangan yang muncul pada jatuh cinta pertama, jerawat yang muncul dan meresahkan, sakitnya menstruasi perdana, atau rasa malu sebab terciduk sedang memasukkan jarinya ke hidung. 

Warna-warna emosi itu bercampur aduk. Sedikit ketidakcocokan yang muncul akan menimbulkan amarah, perlawanan, dan aksi-aksi tidak terima yang diwujudkan melalui kata-kata kasar, tidak mau makan, menghindar, dan lain-lain. Lalu, apa yang harus ditempuh orang tua menghadapi buah hatinya yang sedang meremaja?

Berikut 5 cara menjalin komunikasi efektif dengan anak remaja:

1. Pahami Perkembangan Normal pada Anak
Dua pertanyaan penting yang muncul pada anak remaja adalah menyangkut dua hal penting, yakni mempertanyakan identitas diri (siapa aku?) dan berusaha memiliki kemandirian dalam berpikir dan bertindak (apakah aku bisa memutuskan sendiri?).

Seorang remaja memperoleh identitas diri sebagian dari kawan-kawan sepermainannya, sebagian lagi ia dapatkan dari berselancar di ruang maya. Alhasil, rumusan prinsip yang ia pedomani tak mau diusik oleh otoritas di luar dirinya. 

Kebebasan merupakan kemewahan yang ingin lekas ia rengkuh. Jadi, perkembangan ini sebagai proses pertumbuhan yang wajar. Saat anak remaja tampak memberontak dan melawan, ia sejatinya tak berniat demikian. Yang mereka rasakan adalah pencocokkan jati diri yang sedang ia kokohkan dengan nilai-nilai yang dianut oleh orang tuanya.

Pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi diri sedang berkecamuk di dalam hati. Sebagai orang tua, ada baiknya mengedepankan dialog yang pelan dan sabar. Yakinlah bahwa sikap yang tampak keras itu bagian dari pertumbuhan normalnya. 

2. Ingat Kembali Masa Remaja Kita Sendiri
Ada satu cara untuk membantu anak remaja ketika ia sedang mengalami kegelisahan dengan menampilkan sikap yang gampang meledak. Cara itu adalah dengan mengingat kembali masa remaja yang dulu pernah orang tua lalui.

Saat itu, kita juga merasakan gejolak yang sama. Dada berdegup kencang saat mulai jatuh cinta, ingin menjadi pusat perhatian, kesal karena dibuat kecewa oleh teman sebangkunya, dan lain-lain. Ketika itu, kita juga mengalami perasaan yang sama. Jangan sampai, kita tergelincir pada perlakuan yang sama seperti dulu orang tua memperlakukan kita. 

3. Mendengar Aktif
Bagaimanapun, anak remaja butuh tempat bersandar yang nyaman, tak menghakimi, dan terlalu banyak khotbah. Orang tua sebaiknya tampil sebagai pribadi yang demikian. Ia mampu menjadi orang nomor satu yang sering dijadikan sandaran anak gadisnya atau anak lelakinya.

Peran terpenting orang tua adalah mendengar aktif, yaitu mendengar dengan sungguh-sungguh, memerhatikan kata demi kata yang keluar dari anaknya yang remaja. Orang tua hendaknya menahan diri untuk tak segera komentar jika tidak diminta. Paling jauh, berikanlah sebuah tawaran, "apa yang bisa ayah atau bunda bantu?" Atau, biarkanlah sang buah hati meluncurkan segala hal yang mengusik hatinya.

Pada dasarnya, mereka memiliki solusi sendiri yang tepat. Berikanlah kepercayaan tanpa syarat. Kepercayaan yang tulus dan sampaikan itu kepada anak. 

4. Menetapkan Batasan yang Masuk Akal
Sering kali orang tua melarang ini dan itu, namun tak pernah memberikan batasan-batasan yang jelas. Misalnya, anak tidak boleh terlalu lama bermain HP. Nah, larangan semacam ini yang kerap membingungkan.

Sebaiknya, buatlah kesepakatan antara orang tua dan anak, kapan boleh menggunakan gadget dan berapa lama waktunya. Atau, misalnya anak-anak remaja diminta jangan tidur terlalu malam. Instruksi seperti ini juga tidak memberikan kejelasan.

Berikanlah usulan dengan alasan yang jelas. Contohnya, "ayah/bunda kasih saran, sebaiknya kamu tidur pukul 22.00, supaya pas bangun pagi terasa lebih segar".

Jadi, dua hal penting ketika orang tua menginginkan anak remaja manut kepadanya adalah berikan ruang negosiasi dan ajukan alasan logis yang mudah dipahami oleh anak-anak. Tanpa itu, komunikasi yang terjalin bisa canggung, macet, dan tak jarang saling mengancam. 

5. Berikan Pilihan
Anak-anak remaja bukannya susah dipahami. Mereka hanya ingin dimengerti bahwa ia merasa berhak memilih keputusan yang alasannya bercabang-cabang. Setiap pilihan adalah kebenaran versi pribadi yang tak boleh digoyahkan oleh orang lain.

Di samping memberikan batasan-batasan yang jelas kepada anak remaja anda, setiap kali berdiskusi perihal apapun, berikanlah pilihan-pilihan. Jangan hanya fokus pada satu cara yang dianggap paling tepat oleh anda sebagai orang tua. Anak-anak remaja akan merasa terperangkap pada ketidakbebasan.

Dampak dari pilihan tunggal orang tua, salah satunya adalah anak remaja akan memainkan peran ganda. Di depan orang tua ia menjadi pribadi yang diinginkan oleh orang tua, pada saat jauh, ia akan menjadi diri sendiri. Serasa melepaskan diri dari perangkap tadi.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo