Dark
Light
Dark
Light

5 Langkah agar Anak Meraih Prestasi Maksimal

5 Langkah agar Anak Meraih Prestasi Maksimal

Akhir-akhir ini kita sering mendapatkan informasi di sejumlah linimasa media sosial atau kanal media berita online, bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia tidak cukup memiliki kompeten yang diinginkan oleh dunia industri. Beberapa pengamat "menuduh" dunia pendidikan kita tidak mampu melahirkan generasi yang mampu berpikir tingkat tinggi, hanya fokus pada hapalan bukan ke analisis, dan cenderung lebih berat pada tagihan administrasi bukan performa anak didik. 

Mari kita lihat sejumput data yang menggambarkan kondisi itu. Bank Dunia merilis data Human Capital Index (HCI) tahun 2020, bahwa skor Indonesia yaitu 0,54. Sementara itu negara-negara lain seperti Singapura (88), Vietnam (67), Malaysia (62), Thailand (60).

Human Capital Index menggambarkan produktivitas yang dimiliki oleh SDM di suatu negara. Secara awam dapat diilustrasikan sebagai berikut, diibaratkan misalnya, produktivitas itu adalah kemampuan membuat produk kue dalam sehari, berdasarkan data di atas kita bisa mengatakan bahwa SDM Indonesia hanya mampu memproduksi sebanyak 54 dalam sehari, Singapura 88, Vietnam 67, Malaysia 63, dan Thailand 60. 

Data lain misalnya jika kita membincangkan soal kemampuan berpikir kritis. Kita memahami bahwa kapasitas otak berpikir kritis akan bisa diwujudkan apabila seseorang membiasakan diri membaca buku. Mari kita lihat datanya, menurut lembaga seperti Ceoworld, rata-rata buku bacaan penduduk Indonesia tidak sampai 2 buku dalam setahun. Sedangkan negara-negara seperti Amerika 17 buku, India 16 buku, Perancis 14 buku. Singapore 7 buku, China 7 buku, dan Inggris 15 buku.

Tampaknya, kita memang harus bekerja keras membangkitkan generasi kita agar semakin produktif dan mampu memecahkan masalah-masalah yang memerlukan daya pikir tingkat tinggi. Ketimbang ikut-ikutan menyalahkan dunia pendidikan yang diwakili oleh institusi sekolah, ada baiknya, sebagai orang tua kita turut berperan aktif memperbaiki, apakah di rumah juga sudah betul, bagaimana cara kita mendidik anak-anak kita.

Tak bisa dipungkiri, rumah adalah pondasi penting yang mewarnai mental anak-anak apakah akan menjadi inisiator ide atau hanya pengikut gagasan orang lain. Meski bisa kita jangkau sejumlah kebijakan sekolah melalui diskusi, tapi sebagian besar berjalan sesuai program yang sudah ada. Jamak diketahui bahwa pengaruh orang tua pada kebijakan sekolah sangat minim. 

Untuk itu, orang tua memiliki kesempatan di rumah membangun pola belajar anak-anak agar tetap riang dan menyenangkan. Menjejalkan banyak informasi itu penting namun yang lebih utama sebenarnya adalah belajar bagaimana caranya belajar. Nah, orang tua bisa meramu suasana strategi belajar di rumah dengan lebih kondusif. Sejatinya, tidak anak bodoh apalagi gagal, salah satu faktornya jika anak tak mampu menguasai kompetensi tertentu, itu karena belum menemukan pola belajar yang tepat. 

Berikut ini 5 langkah agar anak-anak anda sangat dekat dengan prestasi yang gemilang dan tentu saja, agar tumbuh menjadi anak yang memiliki kapasitas berpikir dan bertindak yang menunjukkan sikap jujur, berani, cerdas, dan sehat. 

1. Maknai Kembali Apa Itu Prestasi
Anda mungkin berpikir prestasi anak-anak adalah sewaktu ia meraih juara 1 dalam kompetisi yang diikuti oleh sekolah atau memperoleh rangking 1 di kelas. Tentu saja tidak salah, hanya saja, pencapaian sekadar itu merupakan bagian kecil dari keseluruhan potensi yang dimiliki anak. Mari menyetel ulang sudut pandang kita terkait prestasi. 

Saya menyarankan untuk mempertimbangkan apa yang dirumuskan oleh Howard Gardner, prestasi jelas terkait kecerdasan, wujudnya adalah dua hal utama. Pertama, kemampuan anak-anak memecahkan masalah-masalah. Kedua, produktivitas anak-anak berkaitan dengan karya apa yang bisa ia wujdukan. Karya tak selalu berupa objek fisik yang bisa kita lihat dan raba. Karya harus dimaknai secara luas, konsisten menunjukkan kebaikan-kebaikan juga merupakan karya yang perlu diapresiasi. 

Jadi, juara lomba atau rangking di kelas hanya bagian kecil dari apa yang disebut sebagai prestasi. Dan, prestasi seperti itu hanya konsekuensi logis apabila seorang anak memiliki kebiasaan positif, karya dan gagasan, serta memiliki konsistensi pada performa moral yang baik. James Clear menyebutnya sebagai Atomic Habits.

2. Tumbuhkan Minat Membaca
Tak bisa ditawar bahwa membaca adalah skil yang perlu dilatih sejak dini. Dengan membaca, anak sedang mengasosiasikan ide-ide di dalam imajinasi di otaknya.

Ibarat melatih otot fisik dengan berbagai latihan mengangkat beban, syaraf otak juga perlu dibiasakan menemukan ide dengan memunculkan pertanyaan-peetanyaan kritis. Buku akan memandunya dengan sangat baik. 

3. Rawat Rasa Ingin Tahu Anak
Kebiasaan orang tua yang seharusnya dihindari adalah menghentikan anak yang kerap bertanya berbagai hal dengan sengaja memberikan jawaban saklek dan tuntas yang memadamkan kehendak untuk bertanya lagi. Padahal, semestinya kita bersyukur, anak yang banyak bertanya telah memiliki pondasi untuk menjadi seorang penemu.

Maka, pertanyaan yang datang berkali-kali itu seharusnya disambut dengan jawaban yang semakin merangsang untuk mengajukan pertanyaan lagi dan lagi. 

Seperti membaca, kemampuan untuk menemukan pertanyaan juga harus dilatih. Umumnya, saat selesai pembelajaran di kelas kemudian anak murid diberikan kesempatan bertanya, mereka cenderung diam. Sayangnya pula, anak-anak justru dilatih menjawab dengan metode yang cenderung dangkal, yakni menjawab soal-soal hapalan berupa pilihan ganda.

Pada akhirnya kemampuan anak-anak untuk mengajukan pertanyaan menjadi tumpul. Padahal, ilmu pengetahuan dapat ditemukenali hanya dengan sikap meragukan/bertanya.

4. Sarankan Olahraga Teratur

Fisik yang bugar akan berpengaruh besar pada kesehatan otak. Sirkulasi darah yang mengantarkan makanan dan oksigen akan maksimal. Sehingga, kesehatan otak pun terjaga.

Anak-anak yang rutin berolahraga terlihat lebih ceria dan terhindar dari tekanan stres. Hal ini akan membantu anak-anak selalu bergairah dalam belajar. 

5. Dekatkan dengan Alam
Alam yang dimaksud adalah realita kehidupan. Manusia dan lingkungan yang melingkupinya adalah alam itu sendiri. Ajaklah anak-anak anda untuk berjumpa dengan banyak orang yang berlatar belakang berbeda, asal daerah, agama, logat bicara dan lain-lain.

Perjumpaan dengan keragaman akan menghadirkan sikap bijak. Anak-anak jadi tahu bahwa perbedaan adalah sebuah kewajaran yang justru akan memperkaya wawasan. 

Ajak pulalah anak-anak untuk mencicipi naik gunung, berkeliling desa, menjelajahi museum, masuk ke hutan, menikmati pantai, belanja di pasar tradisional dan modern, serta berkunjung ke berbagai tempat dan lokasi yang berbeda-beda.

Menghadapkan anak kepada realita kehidupan merupakan cara agar anak-anak memahami alam ini dengan berpikir jernih dan arif.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo