Setiap anak pasti diharapkan orang tuanya agar menjadi anak yang baik, jujur, dan tidak suka berbohong. Namun, ada masa ketika anak-anak cenderung ingin berbohong. Mereka kerap mengalami ketidaksesuaian antara imajinasi di kepalanya dengan realita di depan matanya.
Suatu ketika, mungkin saja anak memulai mengidentifikasi dirinya sebagai seseorang yang bisa menampilkan kelebihan agar dipuji oleh banyak orang, sementara jati dirinya bukan di situ. Si Adik selalu mampu tampil mengesankan ketika di panggung, sementara sang kakak bukan tipe anak yang mudah untuk bisa cepat mengatur diri pada sebuah pentas.
Ibu suka membanding-bandingkan kakak dengan adiknya. Sang Kakak pun berbohong sedang sakit saat ada momen pertunjukkan.
Atau momen lain misalnya, Si Kakak melanggar aturan di sekolah dan mendapatkan hukuman, adik yang mengetahui itu berbohong kepada orang tua demi melindungi kakak agar tak kena marah. Adik takut tidak diajak main lagi sama kakak.
Pada kasus kedua anak berbohong demi melindungi orang lain. Kadang juga, anak-anak berbuat bohong karena memang hendak menipu.
Sebenarnya poin ini yang perlu ditilik lebih dalam. Sebab, keinginan menipu itu pasti berangkat dari cara orang dewasa berbohong. Misalnya, ibu berkata, "Bilang saja Sabtu kemarin kamu sakit." Padahal, sekeluarga pergi liburan. Jika tak hati-hati melakukan komunikasi dengan anak yang mengandung unsur kebohongan, kita akan menuai caranya mereka berbohong dengan terencana.
Lalu, apa yang perlu dilakukan oleh orang tua agar anak tidak berbohong?
1. Jangan Menjanjikan Apa yang Tidak Bisa Dipenuhi
Kerap kali orang tua tak berdaya ketika anaknya merengek minta sesuatu yang tak mungkin dipenuhi. Hanya karena ingin menghentikan tangisannya. Ia ringan saja mengatakan, "Nanti ya Dek, kalau sudah ada rezeki pasti dibelikan."
Kalimat ini mudah kita lupakan orang tua, tapi diingat sepanjang waktu oleh sang buah hati. Tak ada salahnya kita bertahan dalam diam, sambil mencoba memeluk anak dan menatap lurus matanya. Anjuran untuk 'berkata baik atau diam' bisa kita juga kita ganti dengan 'lebih baik diam ketimbang berpotensi besar melanggar janji'.
2. Keteladanan adalah Metode Ampuh Pembentukan Karakter
Tengoklah gedung-gedung sekolah yang dekat dengan tempat tinggal kita. Betapa hampir setiap sekolah sama, sampah bekas jajan ada di mana-mana.
Jika mau ditelusuri, pangkalnya adalah minus keteladanan. Bukan saja di sekolah, tapi juga di rumah. Saya memerlukan waktu yang lama agar anak-anak bisa membuang sampah mereka sendiri dan memilah mana yang plastik dan bukan plastik. Jika suatu saat mereka enggan, saya menawarkan bantuan, "Yuk ayah bantuin." Kata-kata sederhana ini cukup ampuh agar anak mau beranjak membuang sampahnya sendiri.
Demikian pula tentang keberanian untuk berlaku jujur. Anak-anak sangat membutuhkan contoh nyata dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Anak-anak harus memahami bahwa berani jujur itu hebat. Tak boleh bertindak bohong untuk mengancam anak, "Kalau PR mu tidak selesai, Pak Guru nanti marah."
Di sekolah, laku kejujuran bahkan menjadi barang mahal. Mungkin sebagian besar guru, ketika membuat soal ujian main comot saja dari buku latihan soal-soal tanpa menyertakan sumbernya. Apalagi belakangan ini, banyak guru yang membuat soal ujian dengan bantuan AI namun tak mengonfirmasi dari awal bahwa ia menyusun soal dengan fasilitas AI.
Kebohongan-kebohongan yang dilakukan oleh orang dewasa yang dekat dengan anak-anak dapat mendorong keinginan anak untuk mencoba membual.
3. Tingkatkan Harga Dirinya
Di awal pembukaan artikel ini, saya mencontohkan seorang anak yang pupus harga dirinya sebab dibanding-bandingkan. Kebohongan menjadi jalan yang ditempuh saat orang tua sedang 'menuntut' kesempurnaan anak.
Menumbuhkan harga diri anak dengan cara fokus pada kelebihannya, bisa mengurangi atau menghapus kecenderungan anak untuk berbohong. Anak merasa aman saat diterima dengan rasa tulus eksistensinya, apa adanya.
4. Jangan Menghakimi
Aspek ini sungguh-sungguh memerlukan latihan yang panjang. Tak bisa dipungkiri, sebagai orang tua, jika ada anaknya berbohong, rasa kecewa seperti memuncak.
Segala kemarahan ingin dengan segera ditumpahkan. Padahal, anak-anak sedang merasa kesulitan membandingkan hal ideal di kepalanya dengan fakta yang ada di depan mata. Atau, mereka berbohong karena pernah menyaksikan kita sendiri melakukannya.
Maka, ketimbang memojokkan dan terus-menerus membahas kesalahannya, lebih baik katakan, "Lain kali, usahakan tidak berbohong ya, Nak. Apa pun yang kamu butuhkan, bicaralah." Cukup sekali itu, kemudian berikanlah maaf kepadanya dengan wajah yang sejuk dan tulus.
5. Jangan Putus Asa Mendidik Anak-anak
Saya tak habis pikir, masih ada sekolah yang mengembalikan anak kepada orang tuanya karena sang anak dicap 'nakal'. Dengan kata lain, anak dikeluarkan dari sekolah.
Apa pun sebutannya, mengeluarkan, memecat, mengembalikan, dan lain-lain, adalah satu bentuk keputus asaan kita dalam mendidik anak-anak. Sekolah seharusnya, saat menerima mereka di awal tahun, komitmen bahwa anak murid adalah layaknya anggota keluarga. Mereka adalah anak-anak kita. Terbayang, betapa anak yang dikembalikan sama seperti mengusir anak sendiri.
Pendidikan adalah proses panjang yang tak boleh kenal lelah. Nasihat kebaikan perlu diulang-ulang meski kesalahan anak juga terjadi berkali-kali.
Orang tua tak boleh menyerah untuk senantiasa memeluk, berkata lembut, dan menerima meski bertubi-tubi sang anak kembali melakukan kesalahan. Berbuat bohong bisa menjadi habit sebab anak tak lagi memiliki sandaran yang mau menerima segala keluh kesahnya.
Jadi, sebaiknya sekali waktu kita memancangkan sebuah cermin bagi diri. Apa yang ingin kita ubah pada anak, boleh jadi sikap itulah yang seharusnya kita ubah pada diri sendiri.
Cermin diri merupakan cara kita melangkah ke dalam, memaknai segala ujian hidup merupakan penguat batin agar hidup senantiasa ringan dan mudah. Anak hadir di dunia sebagai pelita penuntun kita ke Surga, bukan beban yang membuat kita menderita.
Editor: Kendi Setiawan


