Oleh Ibn Ghifarie
Kematian Rektor Ke-7 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Nanat Fatah Natsir, pada Kamis 2 Januari 2025 pukul 01.00 WIB di Rumah Sakit Al-Islam Bandung karena sakit membawa duka yang sangat mendalam bagi civitas akademika, keluarga besar IAIN, UIN, ICMI kehilangan salah satu aset dan putra terbaiknya.
Sebelum dimakamkan di TPU Ciburuy Bandung, terlebih dahulu dishalatkan di Masjid Ikomah Kampus I UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jl. A. H. Nasution No 105 Cibiru.
Dalam buku 70 Tahun Nanat Fatah Natsir: Cendekiawan, Pemimpin dan Pengabdi, dipotret secara mendalam tentang seorang guru besar yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk kecendekiawanan, kepemimpinan, dan pengabdian.
Sosoknya penuh keunikan dari seorang akademisi yang tidak hanya bergulat dengan tugas normatif mengajar, meneliti, dan melayani masyarakat, tetapi menjadi seorang pemimpin yang visioner serta aktivis yang tak kenal lelah.
Profesor yang pernah menjabat rektor selama dua periode hingga berbagai jabatan strategis lainnya di perguruan tinggi negeri dan swasta, Ketua Presidium MPP ICMI, dan Koordinator Majelis Nasional KAHMI.
Kesibukan dalam dunia pendidikan tinggi telah menyita separuh hidupnya. Namun, di balik itu semua, ia adalah sosok yang terus mengambil inisiatif untuk perubahan. Salah satu warisannya yang paling berharga adalah keberhasilannya mentransformasi kampus yang dipimpinnya selama 2 periode dari institut (IAIN) menjadi universitas (UIN). Sebuah gagasan yang mencerminkan keaslian pemikiran seorang cendekiawan yang juga pemimpin, sekaligus pengabdi.
Cendekiawan yang Membumi
“Kalau seorang pakar adalah orang yang menguasai bidang keilmuan, kalau cendekiawan adalah seorang pakar yang punya kepedulian terhadap lingkungan masyarakat, kalau seorang pakar tidak punya kepedulian terhadap masyarakat sekitarnya, tidak disebut cendekiawan,” B. J. Habibie.
Memasuki usia 70 tahun dengan kondisi sehat lahir dan batin adalah sebuah anugerah tak ternilai bagi Nanat Fatah Natsir. Sosoknya sebagai seorang akademisi, pemimpin, aktivis, dan politisi telah menciptakan jejak langkah yang menginspirasi. Capaian gelar akademik, pangkat, dan jabatan yang prestisius dipadukan dengan kepribadian yang jujur, energik, dan tangguh menjadikannya layak disebut sebagai cendekiawan yang membumi.
Nanat mendapatkan julukan ini karena gagasan dan pemikirannya selalu praktis dan tidak melangit, sehingga mudah diterapkan dalam berbagai peran yang diembannya. Sebagai akademisi dan aktivis di berbagai organisasi berskala nasional dan internasional, ia memainkan peran penting dalam memajukan pendidikan Islam yang modern dan progresif. Seperuh hidupnya ia dedikasikan untuk membangun perubahan yang toleran, inklusif dan demokratis di negeri yang kita cintai. (h. xxix-2).
Berikut ini sembilan fakta unik dan menarik dari sosok Rektor ke-7 UIN Sunan Gunung Djati Bandung periode 2003-2007 dan 2007-2011:
1. Lahir di Perdesaan, Bertetangga dengan Australia
Perdesaan adalah inti kehidupan masa kecil Nanat Fatah Natsir. Pria yang kelak meraih gelar prestisius sebagai profesor ini dilahirkan di sebuah desa kecil bernama Cijambe, yang terletak di Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, pada 11 Desember 1954. Dari pasangan H. Muhammad Madin (Alm) - Hj. Engkom Komariah (Almh). Anak kedua sekaligus putra pertama dari 12 bersaudara.
Desa di pesisir selatan Pulau Jawa ini menjadi saksi bisu awal perjalanan hidup seorang anak desa yang kelak akan menjadi tokoh nasional.
"Saya lahir dan besar di desa yang khas, berbatasan dengan lautan lepas Samudra Hindia, hutan perkebunan, dan persawahan yang luas," kata Nanat.
Kampung halamannya kerap diselipkan dalam canda sebagai "tetangga" Australia, mengingat jaraknya yang hanya sekitar 350 kilometer dari Cikelet ke Pulau Natal, sebuah wilayah teritori Australia. "Kalau ingin ke Australia, dari Cikelet saja. Tinggal nyebrang dari Pantai Santolo," selorohnya.
Dengan panorama alamnya yang memesona, pantai ini menjadi destinasi wisata yang menawarkan keindahan khas pesisir selatan Jawa Barat. Nanat mengingat dengan jelas sore-sore di masa kecilnya, bermain di tepi pantai bersama teman-temannya, menikmati angin laut yang sejuk, dan menunggu matahari terbenam. "Pantai Santolo menampakkan warna langit yang kemerahan yang berpadu dengan hamparan pasir serta gelombang air laut yang tak akan kalah eksotis dari pantai-pantai lain di seluruh jagat dunia," ungkapnya dengan penuh kebanggaan.
Pantai Santolo, yang terletak tidak jauh dari Desa Cijambe, menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan masa kecilnya. Pengalaman semasa sekolah rakyat, ketika ia dan teman-temannya biasa menyeberang dari Pantai Santolo ke dermaga tua di Pamalayan, Cikelet. Dermaga ini merupakan peninggalan era kolonial Belanda, sisa kejayaan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang didirikan pada awal abad ke-16. Dermaga ini digunakan untuk bongkar muat hasil pertanian dan perkebunan, seperti karet dan rempah- rempah yang diekspor ke Eropa.
"Bangunan dermaga itu kuat dan kokoh menjadi simbol bahwa wilayah Cikelet sejak akhir abad ke-18 sudah berkembang setara dengan kota-kota pelabuhan besar dunia," ujar Nanat. (7-10).
2. Namanya Terinspirasi dari M. Natsir
Nanat Fatah Natsir membawa nama yang penuh makna dan sejarah. Nama ini tidak sekadar pemberian, tetapi mengandung harapan besar yang tertanam dalam dirinya sejak lahir. Nanat menjelaskan bahwa nama "Natsir", menurut cerita ayahnya, diambil dari Mohammad Natsir, seorang tokoh nasional yang menjadi inspirasi ayahnya.
Ayahnya, H. Muhammad Madin, putra Kiai As Syarkowi, pendiri Pesantren As-Syarkowiyah di Cikelet dan pernah menjabat sebagai Ketua Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) tingkat kecamatan. Berafiliasi pada partai politik menjadikan Mohammad Natsir sebagai panutan. Natsir adalah seorang ulama, aktivis, dan pemimpin yang dikenal teguh memegang prinsip Islam dalam perjuangan politiknya. "Bapa sangat mengagumi Mohammad Natsir. Bagi beliau, Natsir teguh memegang prinsip Islam dalam perjuangan politiknya adalah simbol pemimpin visioner, pejuang yang gigih, dan ulama yang tetap sederhana meski berada di puncak kekuasaan," cerita Nanat.
Dengan nama ini, ayah Nanat berharap putranya dapat meneladani sifat-sifat Mohammad Natsir yang memiliki integritas, keberanian, dan kesederhanaan dalam hidup. “Sebutan Nanat sebenarnya lahir dari nama Natsir. Entah bagaimana, menjelaskan tentang tokoh yang menjadi asal muasal namanya. Akhirnya menjadi nama yang khas dan dekat di hati keluarga kami," bebernya.
Meski pernah menjabat sebagai perdana menteri, Natsir dikenal sebagai tokoh yang sangat sederhana, menolak hidup mewah bahkan dikenal tidak memiliki baju berlebih, rumah pribadi, mobil. "Kesederhanaan Natsir mengajarkan bahwa kekuasaan bukan untuk memperkaya diri, melainkan untuk melayani rakyat. Ini adalah pelajaran yang selalu dipegang teguh oleh Bapa dan diturunkan kepada kami," ujar Nanat.
Dengan penuh hormat ia mengatakan, "Nama Natsir bukan hanya identitas, melainkan juga kompas moral yang selalu mengingatkan saya untuk hidup dengan prinsip dan keberanian, seperti tokoh besar yang menjadi inspirasi ayah saya." (h. 25-27).
3. Suka Ngarit, Ranting Kering dan Hawu
Berbeda dengan rerata penduduk desa, keluarga Nanat masih bergantung pada penghasilan dari pekerjaan kantoran. Tapi tetap menjaga tradisi agraris dengan memiliki tanah darat dan sawah yang digunakan untuk bertani serta berkebun. Keluarganya tetap memelihara kambing di pekarangan rumah yang menjadi bagian dari keseharian mereka. "Kami memilik sawah dan kebun yang Bapa kelola di waktu luang. Bapa selalu menekankan pentingnya tetap dekat dengan tanah, meskipun kami hidup dengan gaji dari pekerjaan formal," kenang Nanat.
Sebagai anak desa, Nanat tidak canggung untuk terlibat dalam pekerjaan sehari-hari yang dilakukan oleh keluarga dan tetangganya. Salah satu kenangan yang paling berkesan adalah saat ia ngarit bersama teman-temannya. "Saya pernah ngarit dengan teman sekampung untuk pakan kambing peliharaan di rumah," ungkapnya dengan penuh semangat.
Ngarit, (menyabit rumput), adalah kegiatan khas pedesaan. Dengan menggunakan sabit berbentuk bulan sabit, Nanat dan teman-temannya memotong rumput untuk dijadikan pakan kambing.
Aktivitas yang sering ia lakukan bersama teman-temannya adalah mencari dan mengumpulkan ranting kering di perkebunan jati. Ranting-ranting itu dikumpulkan untuk dijadikan bahan bakar suluh guna menyalakan tungku (hawu) di dapur rumah keluarga. Tungku tradisional ini, dibuat dari tanah liat dengan desain sederhana: bagian atasnya berlubang untuk menempatkan wadah memasak, sementara bagian bawahnya memiliki rongga untuk membakar ranting kering, batok kelapa, atau kayu bakar. Fungsi tungku ini tidak sekadar alat masak, tetapi juga sebagai penghangat rumah, terutama saat musim dingin. "Dapur dengan Terlahir dari Pedesaan tungku yang menyala itu menjadi tempat berkumpul keluarga. Karena tidak ada televisi seperti sekarang, jadi kami menghabiskan waktu bersama di dapur. Itu momen yang membawa keberkahan, menjaga keharmonisan dalam keluarga," ujar Nanat.
Kehidupan di perdesaan sebagai sekolah kehidupan yang tak ternilai. Dari sana, ia belajar tentang kerja keras, ketahanan, dan rasa syukur. Kehidupan yang serba sederhana, tetapi kaya akan nilai-nilai kekeluargaan menjadi fondasi penting dalam membentuk karakternya. Ia menekankan bahwa kedekatan dengan alam memberikan kedamaian batin yang sulit ditemukan di tempat lain. "Di desa, semuanya terasa selaras antara manusia, alam, dan Tuhan. Saya selalu bersyukur lahir di lingkungan seperti itu," ujar Nanat dengan penuh rasa bangga.
Pelajaran terbesar dari kehidupan pedesaan adalah keterhubungan manusia dengan alam. Ia menyadari betapa besar peran tanah, air, dan hewan ternak dalam menopang kehidupan masyarakat. Hal tersebut kemudian membentuk pemahaman tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekologi, yang menjadi salah satu nilai yang terus ia pegang hingga kini.
Interaksi sosial di pedesaan sangat erat. Bagaimana gotong royong menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika ada panen misalnya, seluruh warga desa saling membantu tanpa mengharapkan imbalan. Begitu pula saat ada acara pernikahan, khitanan, atau kematian, warga desa selalu hadir untuk memberikan dukungan moral dan materi. "Di desa, tidak ada istilah 'hidup sendiri.' Semua orang adalah saudara. Jika satu orang kesulitan, yang lain akan datang membantu," cerita Nanat dengan nada penuh penghargaan. (h. 30-31).
4. Dor, Dor, Dor! Gerombolan, Pembakaran Pesantren
Di balik kenangan masa kecil yang penuh kesederhanaan dan keindahan pedesaan. Rupanya, Nanat menyimpan cerita yang kelam dari masa kanak-kanaknya. Lahir dan dibesarkan di Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Garut Selatan, daerah yang sempat menjadi salah satu pusat konflik bersenjata saat gerombolan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) melancarkan aksi mereka.
Saat itu, Nanat masih berusia di bawah tujuh tahun dan belum sekolah. Meskipun masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi, ia tetap merasakan dampaknya secara langsung. "Saya tidak sepenuhnya mengerti mengapa kampung kami menjadi sasaran. Tapi yang saya ingat, suasananya begitu mencekam setiap hari. Rasa takut menjadi bagian dari hidup kami," cerita Nanat.
Setiap malam di desanya menjadi saat-saat yang penuh ketegangan. Gerombolan DI/TII sering datang menyatroni kampung, mengintimidasi penduduk, dan mencari logistik. Suara letusan senjata api sering terdengar dari kejauhan, menggema di tengah kesunyian malam, menambah rasa takut yang sulit dilupakan. "Suara dor dor dor itu dari kejauhan, menggema di tengah kesunyian malam, masih membekas dalam ingatan saya hingga sekarang," ujarnya mengungkapkan trauma yang bertahan selama bertahun-tahun.
Keluarga Nanat, seperti banyak keluarga lain di desa orang tua membuat persembunyian ketika situasi semakin tersebut, harus melindungi diri. Nanat menceritakan bagaimana genting. Bahkan, tetangga ada yang membuat lubang tempat berlindung sementara, baik bagi keluarganya maupun tetangga yang ketakutan. "Orang tua saya sering mengajak kami bersembunyi di tempat yang aman. Kadang-kadang pindah ke rumah kerabat di desa lain," kenangnya.
Mereka hanya akan kembali ke rumah di pagi hari atau setelah situasi dirasa cukup aman. Kadang, pengungsian ini berlangsung lebih lama, tergantung tingkat ancaman yang dirasakan di kampung mereka. Meski masih sangat kecil, Nanat merasakan ketakutan yang begitu nyata. Ia mengingat dengan jelas bagaimana suara senjata dan hiruk-pikuk malam sering membuatnya sulit tidur. Ketegangan tersebut bahkan terasa di siang hari, ketika warga desa sibuk mempersiapkan perlindungan dan mengantisipasi ancaman. "Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Tapi suasana genting itu meninggalkan bekas yang dalam pada saya. Hidup dengan ketakutan seperti itu adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan," ujarnya.
Salah satu peristiwa yang paling membekas dalam ingatan Nanat adalah pembakaran Pesantren As-Syarkowiyah, pesantren yang didirikan oleh kakeknya dari pihak ayah, Kiai Syarkowi. Pesantren ini, yang terbilang besar dan berpengaruh di wilayah Garut Selatan, menjadi salah satu target serangan gerombolan. Bangunan pesantren dan seluruh isinya habis dilalap api, hanya menyisakan reruntuhan yang menjadi saksi bisu dari kekejaman konflik tersebut. "Pesantren kakek saya dibakar hingga luluh lantak. Tempat itu adalah pusat pendidikan agama yang sangat berpengaruh, tetapi tidak luput dari amarah gerombolan bersenjata," cerita Nanat.
Kakek Nanat, Kiai Syarkowi, adalah seorang ulama besar yang sebelumnya belajar di Pesantren Suci Garut dan Ciwaringin Cirebon. Pesantren As-Syarkowiyah yang ia dirikan menjadi tempat mengajarkan nilai-nilai Islam tradisional, termasuk mempelajari Kitab Kuning, seperti Safinah, Tijan, Jurumiyah, dan Nahwu Al-Wadhih. Pesantren ini tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga benteng moral bagi masyarakat sekitar.
Di tengah situasi genting itu, keluarga Nanat mencoba bertahan dengan berbagai cara. Selain menyediakan bahan makanan untuk gerombolan demi melindungi rumah mereka, keluarga ini juga sering berpindah-pindah tempat untuk menghindari ancaman langsung. Nanat masih mengingat bagaimana ia bersama keluarganya harus mengungsi ke rumah kerabat setiap malam, hanya kembali ke rumah jika situasi sudah dianggap aman. "Ketakutan itu sangat nyata. Tiap malam kami harus pindah ke tempat lain, tidur dalam kondisi waspada. Bahkan, suara senjata menjadi hal yang akrab di telinga kami," kenang Nanat. (h. 35-38).
5. Naik Truk Karet ke Bandung, Pakai Sepatu Longgar Ayah
Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat di pedesaan, Nanat Fatah Natsir memulai babak baru dalam hidupnya dengan melanjutkan pendidikan ke Bandung. Keputusan untuk bersekolah jauh dari rumah menjadi pengalaman yang penuh tantangan, tetapi membuka lembaran cerita baru yang penuh romantisme, terutama sebagai anak desa yang menghadapi dinamika kehidupan di kota.
Perjalanan menuju Bandung bukanlah hal yang mudah. Dengan terbatasnya akses transportasi umum dari Cikelet ke Garut yang kemudian menuju Bandung, Nanat harus menumpang truk perkebunan karet. la duduk seadanya di atas tumpukan karet mentah yang menjadi muatan utama truk. Jalan sepanjang seratus kilometer yang ditempuh pun jauh dari nyaman, berupa tanah dan batu yang terjal, membelah bukit-bukit yang rawan longsor. "Saya naik truk perkebunan. Duduk seadanya di atas tumpukan karet," kenang Nanat sambil tersenyum, seolah mengingat masa-masa sulit itu sebagai bagian dari perjuangannya.
Berangkat pagi dari kampung halamannya, perjalanan yang panjang dan melelahkan itu membuat Nanat tiba di Bandung saat malam hari. Setibanya di kota, ia bermalam di rumah kerabat sebelum keesokan harinya memulai rutinitas baru di sekolah. Bagi Nanat, momen ini adalah pertemuan dengan kehidupan perkotaan yang jauh berbeda dari pedesaan tempat ia tumbuh.
Nanat mengingat dengan jelas bagaimana ia tiba di Bandung dengan persiapan seadanya. Sepatu yang ia kenakan bukan miliknya, melainkan sepatu longgar milik ayahnya. Sepatu pramuka miliknya tertinggal di rumah dan baru dikirim kemudian. Meski serba kekurangan, Nanat tidak pernah mengeluh. la justru melihatnya sebagai tantangan dan bagian dari proses pembelajaran. "Saya tidak membawa sepatu sendiri. Akhirnya menggunakan sepatu longgar milik ayah. Itu pun terasa cukup," ujarnya sambil mengenang masa-masa awalnya.
Pengalaman hidup di asrama menjadi hal baru yang harus hadapi. Tidur di atas dipan kayu tanpa kasur, hanya beralaskan selembar tikar, memberikan pelajaran tentang kesederhanaan dan ketahanan. Meskipun fasilitas seadanya, Nanat merasa itu sudah cukup untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas. Baginya, hidup di asrama adalah fase penting yang mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab.
Bandung dengan segala hiruk-pikuk dan suasana modernnya, menjadi pengalaman yang menarik bagi Nanat yang sebelumnya hanya mengenal kehidupan pedesaan. Meskipun perjalanan ke kota besar ini bukanlah yang pertama kalinya, melanjutkan pendidikan di kota yang jauh dari kedua orang tua tetap memberikan kesan mendalam. (h. 53-55).
6. Milih Jadi Aktivis, Disekap sebagai Tahanan Politik
Lebih dari separuh hidup Nanat diabadikan untuk menjadi seorang aktivis. Pilihan untuk mengabdikan diri pada organisasi dan perjuangan kolektif ini terinspirasi oleh sosok ayahnya, yang dikenal sebagai aktivis partai politik. Pengaruh sang ayah membentuk karakter Nanat sejak dini, menanamkan semangat berorganisasi dan kepemimpinan dalam dirinya.
Sebagai seorang mahasiswa, Nanat memandang kampus bukan hanya sebagai tempat untuk menuntut ilmu, melainkan juga sebagai ruang untuk memikul tanggung jawab sosial. Melalui aktivitasnya di Dewan Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ia berkomitmen memperjuangkan nilai-nilai keadilan serta kesejahteraan bagi masyarakat. Nanat percaya bahwa mahasiswa, sebagai agen perubahan, memiliki kewajiban untuk bersuara ketika melihat ketidakadilan. Pandangan ini mendorongnya untuk terlibat aktif dalam berbagai aksi dan diskusi yang membahas isu-isu sosial, politik, serta kebangsaan. (h. 67)
Nanat mengenang momen mencekam sebelum ia ditahan sebagai tahanan politik buntut geger politik 1978. Peristiwa itu terjadi tanpa peringatan, ketika tentara berpakaian sipil mendatangi kampus IAIN Sunan Gunung Djati di Cipadung, Bandung, untuk menjemputnya secara paksa. Saat itu, Nanat sedang berada di sekretariat Komisariat HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), tempat ia aktif sebagai aktivis organisasi ekstra kampus.
Proses penjemputannya berlangsung dengan penuh ketegangan. Pimpinan kampus sempat mencoba bernegosiasi untuk menghindari tindakan represif di lingkungan akademik, tetapi upaya itu berakhir sia-sia. Nanat akhirnya dibawa ke sebuah markas militer di Bandung untuk diinterogasi.
Sesampainya di markas militer, suasana menjadi semakin mencekam. Nanat dan rekan-rekannya dijebloskan ke sel-sel sempit berjeruji besi, diawasi ketat, diantarkan oleh Pembantu Rektor III, Drs. Salim Umar, M.A., dan Wakil Dekan III Fakultas Tarbiyah, Drs. Ahmad Supardi. Intimidasi verbal yang dilontarkan aparat menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa. (h. 72)
Sebuah foto menggambarkan kondisi sel penjara yang jauh dari layak, ruangan yang sempit, gelap, dan pengap, hanya diterangi cahaya temaram. "Penjara itu sangat sempit untuk belasan orang," ungkapnya.
Tikar tipis menjadi satu-satunya alas tidur, tanpa bantal atau selimut, membuat tahanan harus bertahan dalam situasi yang serba kekurangan. Dalam momen-momen penuh keheningan, Nanat sering melihat rekan tahanannya menangis dan berdoa, sebuah pemandangan yang meninggalkan kesan mendalam di hatinya.
Lokasi penjara itu berada di kompleks militer di Jalan Jawa, Bandung, yang kini dikenal sebagai markas Kodam III/Siliwangi. Tempat tersebut, dengan sejarah panjangnya sejak era kolonial, menjadi saksi bisu bagi Nanat. Pengalaman tersebut adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya sebagai seorang pejuang. "Semua ini mengajarkan saya bahwa perjuangan tidak hanya soal keberanian, tetapi juga soal keteguhan hati," kata Nanat, mengenang masa-masa penuh tekanan tersebut. (h. 73-74).
Perjalanan hidup di balik jeruji besi itu, alih-alih melemahkan semangatnya, justru menjadi batu pijakan untuk terus memperjuangkan nilai-nilai keadilan, demokrasi, dan pendidikan. Pengalaman itu mengukuhkan keyakinannya bahwa perubahan sosial hanya bisa terjadi jika dipadukan dengan keberanian menghadapi risiko dan komitmen terhadap kebenaran. Meski menghadapi situasi yang penuh tekanan, semangat Nanat untuk memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan tetap tak tergoyahkan.
Penjara yang menjadi simbol kekuasaan yang absolut, mencerminkan kendali penuh rezim terhadap kehidupan para tahanan. Bagi Nanat, ketegangan dalam tahanan adalah pengingat akan risiko besar yang melekat dalam perjuangan melawan ketidakadilan. Juga menegaskan bahwa kebebasan yang selama ini diperjuangkannya berada dalam cengkeraman kekuasaan yang represif. "Setiap dentingan langkah di koridor penjara adalah pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan selalu memiliki harga, dan kebebasan adalah sesuatu yang tidak pernah diberikan tanpa pengorbanan," kenang Nanat.
Sebagai seorang aktivis yang hidup dengan idealisme tinggi, Nanat menyadari bahwa berada di balik jeruji besi adalah bagian dari konsekuensi perjuangannya. Penangkapan dan penahanan bukan hal yang mengejutkan baginya karena ia paham bahwa berdiri melawan ketidakadilan berarti siap menghadapi segala bentuk risiko, termasuk kehilangan kebebasan. Namun, Nanat tidak memandang penjara sebagai akhir dari perjuangan, tetapi sebagai ruang untuk menguji keteguhan prinsip dan keyakinannya.
Di balik jeruji, Nanat menemukan waktu untuk merenungkan arti perjuangan yang ia lakukan. Ia memaknai penjara bukan sekadar tempat untuk menghukum, melainkan juga sebagai ruang refleksi bagi para aktivis. Dalam kesendirian yang diwarnai tekanan psikologis, ia mengevaluasi langkah-langkah perjuangannya, mempertanyakan apakah upaya yang telah ia lakukan cukup untuk membawa perubahan yang diinginkan. Refleksi ini memberinya kekuatan untuk terus memegang teguh nilai-nilai kebenaran yang ia yakini.
Meskipun berada di bawah bayang-bayang kekuasaan yang menindas, Nanat tidak merasa gentar atau kehilangan harapan. la percaya bahwa setiap perjuangan memiliki harga yang harus dibayar, dan penjara adalah bagian dari pengorbanan itu. Baginya, keberadaan di balik jeruji besi adalah bukti nyata dari komitmen terhadap idealisme dan keberanian untuk melawan ketidakadilan, bahkan ketika harus menghadapi tekanan paling berat.
Suara sepatu tentara yang melintasi koridor tidak membuat Nanat menyerah. Justru, setiap langkah itu menguatkan tekadnya untuk melanjutkan perjuangan, baik di dalam maupun di luar penjara. Bagi Nanat, kekuasaan yang absolut tidak akan bertahan lama jika terus diperjuangkan dengan prinsip keadilan dan kebenaran. Ia melihat bahwa penjara hanyalah satu episode dalam perjuangan panjang untuk membawa perubahan bagi masyarakat. "Melalui sudut pandang aktivis mahasiswa, dunia di balik tembok penjara seringkali dianggap sebagai keniscayaan. Ini adalah konsekuensi perlawanan terhadap kekuasaan yang tidak adil," ujar Nanat. (h. 71-75)
7. Pernah Jadi Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat
Pada 1997, di tengah masa kejayaan Orde Baru, peraturan memungkinkan seorang pegawai negeri sipil (PNS) untuk bergabung dengan partai politik dan bahkan menduduki posisi strategis di legislatif tanpa harus meninggalkan status kepegawaiannya. Dalam konteks ini, Nanat Fatah Natsir menerima permintaan untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Partai Golkar, yang saat itu menjadi partai dominan. Permintaan tersebut datang dari Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Pak Nurhaman, melalui Rektor IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Endang Soetari Ad.
Awalnya, Nanat tidak langsung menerima tawaran tersebut. Ia tengah sibuk dengan tugasnya sebagai Pembantu Rektor IV dan Wakil Koordinator Kopertais Wilayah II Jawa Barat dan Banten, posisi yang sudah cukup menuntut perhatian serta tanggung jawab. Selain itu, ia merasa bahwa terjun ke dunia politik akan membawa tantangan baru yang membutuhkan fokus dan energi ekstra. Namun, sebagai sosok yang selalu memprioritaskan pengabdian ia akhirnya menerima pencalonan tersebut dengan penuh sebagai sosok yang selalu memprioritaskan pengabdian, kesadaran bahwa hal ini adalah bagian dari tugas institusi amanah yang harus dijalankan.
Sebagai calon legislatif dari daerah pemilihan Banten Nanat berhasil terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa yang saat itu masih menjadi bagian dari Jawa Barat periode 1997-1999. Kemenangan tersebut tidak hanya menjadi bentuk kepercayaan masyarakat kepada dirinya, tetapi juga mencerminkan kapabilitas dan integritas yang ia miliki. Di DPRD, ia langsung ditugasi sebagai Sekretaris Komisi A, yang membidangi pemerintahan, sebuah posisi yang strategis dan penuh tanggung jawab.
Masa jabatan Nanat di DPRD berlangsung dalam situasi politik nasional yang penuh dinamika. Krisis ekonomi Asia yang melanda Indonesia pada 1997 memicu ketidakstabilan politik yang puncaknya terjadi pada 1998. Reformasi nasional yang mengguncang stabilitas kekuasaan Orde Baru membuat periode DPRD ini menjadi sangat menantang. Kejatuhan Presiden Soeharto dan transisi kekuasaan kepada Presiden B.J. Habibie menandai berakhirnya dominasi Orde Baru dan awal dari era reformasi.
Sebagai anggota DPRD, Nanat menghadapi tantangan berat dalam memastikan bahwa kepentingan masyarakat tetap terwakili di tengah gejolak politik. Peranannya di Komisi A mempertemukan dirinya dengan isu-isu strategis, termasuk pengawasan pemerintahan, penyusunan kebijakan daerah, dan advokasi kepentingan publik. Dalam situasi krisis nasional, berupaya untuk tetap menjaga integritas sebagai wakil rakyat dan mendorong terciptanya kebijakan yang adil dan demokratis.
Namun masa jabatan DPRD periode 1997-1999 harus berakhir lebih cepat karena perubahan konstitusi yang memandatkan percepatan pemilu setelah reformasi. Selain itu, muncul peraturan baru yang melarang PNS untuk merangkap jabatan di partai politik atau sebagai anggota legislatif. Kebijakan ini memaksa banyak tokoh memilih untuk melanjutkan karier politik atau kembali menjadi PNS. (h. 107-109)
8. Makan Nasi Bungkus di Lantai, Menunggu Mentri Lesehan
Dalam diskusi, Nanat mengemukakan kegelisahannya terkait sulitnya proses transformasi IAIN menjadi UIN. Imam Suprayogo, Rektor STAIN Malang dengan santai menjawab, "Gampang". Jawaban ini awalnya dianggap tidak masuk akal oleh Nanat, mengingat berbagai kendala yang ada. Namun, Imam memberikan saran praktis. "Pak Nanat, coba hubungi Pak Rizal, Kasubag Umum di Kemenag. Beliau adalah orang kepercayaan Pak Malik Fajar, Menteri Pendidikan Nasional," tegas Imam.
Kunci keberhasilan adalah menaati semua arahan, bahkan dalam hal sederhana, seperti makan nasi bungkus di lantai kantor Pak Rizal. Mengikuti saran tersebut, Nanat segera mengatur pertemuan dengan Pak Rizal. Ketika bertemu, Pak Rizal menunjukkan gaya kepemimpinan yang unik dan penuh kebersahajaan. "Kalau ingin berhasil, makan nasi bungkus dulu di lantai bersama saya," kata Pak Rizal kepada Nanat. Tanpa ragu, Nanat mengikuti arahan tersebut.
Dalam suasana yang sederhana, namun penuh makna itu, Pak Rizal akhirnya bersedia membantu mempertemukan Nanat dengan Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Malik Fajar. Momen tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sering kali diawali dengan kesediaan untuk merendahkan hati dan mengikuti proses secara tulus.
Setelah pertemuan itu, Pak Rizal mengatur audiensi Nanat dengan Prof. Malik Fajar. Ketika akhirnya bertemu, Prof. Malik Fajar pertama-tama menyapa dan berbicara dengan Pak Rizal, menunjukkan betapa pentingnya peran Pak Rizal dalam proses ini. Setelah itu, barulah perhatian Prof. Malik Fajar beralih kepada Nanat. "Ada apa, Pak Rektor?" tanya Prof. Malik Fajar.
Sebelum memberikan arahan lebih lanjut, Prof. Malik Fajar memanggil Direktur Akademik dari Direktorat Pendidikan Tinggi Islam untuk mendampingi diskusi tersebut. Kebetulan, direktur tersebut adalah seorang guru besar dari Universitas Airlangga, yang memiliki otoritas akademik tinggi dalam proses ini. Dalam pertemuan tersebut, Nanat mengemukakan maksudnya secara langsung, "Pak Menteri, saya ingin menyelesaikan program studi umum seperti Matematika, Bahasa Inggris, dan lainnya yang masih belum memiliki legalitas SK dari Bapak."
Permintaan tersebut disampaikan dengan tegas dan penuh keyakinan, mencerminkan komitmen Nanat untuk memperjuangkan transformasi institusinya. Respons positif dari Pak Menteri membuka jalan bagi penyelesaian legalitas program studi yang menjadi salah satu prasyarat penting dalam transformasi IAIN menjadi UIN.
Setelah bercerita, Pak Mentri akhirnya memberikan instruksi tegas kepada Direktur akademik, "Segera SK-kan prodi-prodi umum yang belum ada SK-nya. Instruksi ini menjadi jawaban atas salah satu tujuan utama Nanat dalam pertemuan tersebut.
Namun, kejutan sesungguhnya datang setelah itu. Pak Menteri menambahkan, "IAIN Bandung segera diproses menjadi UIN padahal dalam posisi Moratorium!" Mendengar pernyataan tersebut, Nanat terkejut sekaligus gembira. Awalnya, ia hanya berharap menyelesaikan urusan legalitas program studi umum, tetapi kini harapan yang lebih besar, yaitu transformasi IAIN menjadi UIN, juga disetujui.
Padahal, pada saat itu, pemerintah telah menetapkan moratorium perubahan IAIN menjadi UIN. Keputusan tersebut dirasakan sebagai jawaban atas doa-doa yang selama ini Nanat panjatkan, "Ya Allah, berikanlah kemudahan untuk perubahan IAIN menjadi UIN." Dengan penuh rasa syukur, ia mengucapkan alhamdulillah dan langsung bersujud syukur.
Nanat dengan antusias meminta izin untuk segera pulang agar dapat memulai langkah-langkah strategis dalam menyelesaikan program studi winder mandate dan mempersiapkan proses transformasi institusi. upaya dan perjuangannya Akhirnya, pada 2005, membuahkan hasil: program studi umum (winder mandate) mendapatkan legitimasi resmi, dan IAIN Sunan Gunung Djati da Bandung resmi berubah status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Perjalanan panjang tersebut menjadi bukti bagaimana kerja keras, doa, dan jejaring yang strategis mampu membuka jalan untuk mencapai visi besar, bahkan dalam situasi yang penuh tantangan.
Transformasi menjadi universitas adalah langkah strategis untuk memperluas bidang ilmu yang diajarkan, memberikan ruang bagi program studi umum, dan memperbaiki prospek karier para lulusannya. Wider mandate ini memungkinkan perguruan tinggi Islam tidak hanya berfokus pada pendidikan agama, tetapi juga mencakup ilmu umum, seperti sains, teknologi, ekonomi dan pendidikan.
Proses ini mencerminkan perjalanan yang tidak hanya memerlukan strategi tetapi juga ketulusan dan kerendahan hati. Pengalaman ini menjadi inspirasi mendalam bagi Nanat bahwa perjuangan besar sering kali membutuhkan pengorbanan kecil, seperti berbagi nasi bungkus di lantai yang pada akhirnya membawa hasil yang monumental. Perubahan IAIN Bandung menjadi UIN SGD pun menjadi kenyataan berkat dedikasi, jejaring dan semangat pentang menyerah dari Nanat. (h. 156-159).
Suatu ketika, Nanat sedang menunggu giliran beraudiensi dengan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappebas pada Kabinet Indonesia Bersatu, Paskah Suzetta. Proses menunggu yang berlangsung berjam-jam itu berubah menjadi momen yang tak terlupakan ketika almarhum Cecep Syarifudin, ayah Sekjen Kemenag, M. Ali Ramdhani, salah satu guru favoritnya, tiba-tiba datang. Dengan sapaan akrab, Cecep bertanya, "Nat, keur naon?" yang dijawab oleh Nanat dengan penuh hormat, "Ngantos Pak Menteri, Pak." Momen ini tidak hanya menjadi pertemuan biasa, tetapi mengingatkan Nanat akan peran besar Cecep dalam perjalanan akademik dan kariernya.
Cecep Syarifudin adalah dosen yang sangat dihormati oleh Nanat semasa kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Mata kuliah Sosiologi yang diajarkan oleh Cecep menjadi favorit Nanat, bahkan ia berhasil mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Kekagumannya pada keilmuan dan gaya mengajar Prof. Cecep memengaruhi keputusan besar dalam hidupnya. "Karena beliau, saya tertarik untuk mendalami sosiologi hingga jenjang S-2 dan S-3," kenangnya.
Namun, kontribusi terbesar Cecep dalam perjalanan hidup Nanat adalah dukungannya dalam pencalonan Nanat sebagai Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dengan pengaruh dan kepercayaan yang dimilikinya, Cecep meyakinkan Menteri Agama untuk mengangkat Nanat sebagai rektor periode pertama. "Dukungan almarhum Cecep sangat berarti bagi saya," ungkap Nanat. Penunjukan tersebut bukan hanya pencapaian pribadi, melainkan juga langkah besar dalam perjalanan transformasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang ia pimpin dengan penuh dedikasi. (h. 175-176).
9. Menginap di Wisma Kemenag, Tidur di Mushala Rest Area
Kesederhanaan menjadi salah satu nilai yang selalu melekat pada sosok Nanat Fatah Natsir, bahkan ketika menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam berbagai kunjungannya ke Jakarta, ia lebih sering memilih menginap di Wisma Kemenag di Jalan Jaksa dibandingkan hotel mewah. Pilihan ini mencerminkan prinsip hidupnya yang lebih mengutamakan fungsi dan kenyamanan sederhana daripada kemewahan yang mungkin dianggap biasa untuk seorang pejabat sekelasnya. "Kalau ke Jakarta tidur selalu di Wisma Kemenag, alasannya murah," ucap Nanat suatu hari kepada sopirnya, yang heran dengan pilihannya.
Sebagai seorang rektor, ia memiliki hak istimewa untuk menginap di hotel berbintang lima, terutama jika perjalanan dinasnya terkait dengan undangan resmi dari Kementerian Agama. Namun, Nanat sering kali menolak fasilitas tersebut, kecuali jika hotel memang sudah dipesankan oleh pihak yang mengundangnya. "Yang penting bisa tidur dengan aman dan nyaman, makan pagi gampang, serta jogging katanya dengan santai.
Bagi Nanat, Wisma Kemenag bukan sekadar tempat menginap yang murah. Di sana, ia merasa lebih leluasa dan bisa menikmati suasana yang sederhana. Kesederhanaan ini, menurutnya, tidak mengurangi nilai perjalanannya ke Jakarta di Wisma Kemenag memberinya ruang untuk tetap rendah hati, untuk menghadiri berbagai agenda penting. Justru, pengalaman di Wisma Kemenag memberinya ruang untuk tetap rendah hati, terlepas dari posisinya sebagai rektor.
Pilihan ini sering kali membuat staf dan sopirnya bertanya tanya. "Kenapa Pak Rektor selalu tidur di Wisma Kemenag, padahal bisa di hotel bintang lima?" tanya salah satu stafnya suatu hari. Pertanyaan tersebut mungkin muncul dari kebiasaan para pejabat lain yang cenderung memanfaatkan fasilitas maksimal ketika berada di ibu kota. Namun, bagi Nanat, prinsip hidupnya yang sederhana adalah bagian dari integritas yang ia pegang erat. "Murah dan cukup," jawabnya singkat, namun penuh makna.
Kesederhanaan Nanat juga tercermin dari bagaimana ia memandang perjalanan dinasnya. Baginya, perjalanan ke Jakarta adalah bagian dari tugas, bukan kesempatan untuk memanjakan diri. la lebih fokus pada tujuan utama kunjungannya, yaitu menghadiri pertemuan atau memberikan kontribusi pada diskusi-diskusi penting. Penginapan hanyalah kebutuhan sekunder yang tidak perlu dilebih-lebihkan. Hal ini mengingatkan banyak orang di sekitarnya bahwa jabatan tinggi tidak seharusnya menjauhkan seseorang dari nilai-nilai kesederhanaan.
Tidak jarang, stafnya mengingat bagaimana Nanat menolak dengan halus berbagai fasilitas tambahan yang disediakan untuknya. Keteguhan hatinya dalam menjalani hidup sederhana tidak berubah meskipun ia memiliki kesempatan untuk menikmati kemewahan. (h. 171-173).
Suatu malam, Nanat Fatah Natsir bersiap menghadiri pertemuan penting di Jakarta dengan Menteri Bappenas. Pertemuan yang dijadwalkan pukul 9 pagi itu membahas dana dari Islamic Development Bank, sebuah topik strategis untuk pengembangan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sekretaris pribadi menteri berpesan tegas, "Jangan terlambat." Mengingat perjalanan Bandung-Jakarta yang sering kali tidak terduga karena kemacetan atau gangguan lain, Nanat memutuskan berangkat dini hari, pukul 02, untuk memastikan tiba tepat waktu.
Di tengah perjalanan, suasana jalan tol yang lengang tidak serta-merta membuat perjalanan mulus. Sang sopir mulai terlihat lelah dan mengantuk. Nanat, yang selalu mengutamakan keselamatan, segera mengingatkan, "Pokoknya, kalau ngantuk atau lapar, berhenti dulu. Jangan pernah dipaksakan karena bisa berbahaya." Sopirnya pun meminta izin untuk berhenti dan beristirahat sejenak. Tanpa ragu, mereka menepi di sebuah rest area, dan sopir memutuskan untuk tidur sejenak di mushala. (h. 179)
Teladan Inspirasi
Di mata Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, sebagai seorang leader, ketika menjabat sebagai Rektor IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, Nanat berhasil melakukan perubahan kelembagaan generasi pertama dari IAIN menjadi UIN. Perubahan tersebut menjadikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung masuk peringkat pertama PTKIN versi Webometric selama 3 tahun berturut-turut (2020-2023). Pada 2021, berdasarkan SCImago Institutions Rankings (SIR), lembaga internasional pemeringkat kualitas perguruan tinggi yang berpusat di Spanyol, UIN SGD Bandung menempati peringkat ke-2 setelah Ul di lingkungan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia. Hal ini telah membawa UIN SGD Bandung pada peringkat ke-53 di Asia.
Gubernur Lemhannas, TB. Ace Hasan Syadzily, menuliskan Nanat adalah sosok cendekiawan dan intelektual muslim yang luar biasa. Beliau mampu menerjemahkan gagasan-gagasan besar menjadi karya nyata yang berdampak luas. Generasi muda dapat belajar dari kiprah beliau sebagai seorang cendekiawan yang berpikir besar, bertindak nyata, dan selalu berpijak pada kebutuhan masyarakat.
Bagi Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, Muhammad Ali Ramdhani, Nanat adalah salah satu sosok yang memiliki pengaruh besar dalam memperkuat peran UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai pusat pendidikan Islam yang modern dan inklusif. Selama menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung periode 2003-2011, beliau membawa UIN Sunan Gunung Djati Bandung berkembang pesat, menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman, dan menyiapkan generasi muda yang berpengetahuan luas serta berakhlak mulia.
Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar, menceritakan di balik usia UIN SGD Bandung yang ke-56 dan seabreg prestasinya, ada sosok yang cukup memberikan kontribusi. Sosok tersebut adalah Nanat Fatah Natsir. Beliau adalah Rektor UIN Bandung periode 2003-2007 dan 2007-2011.
Bagi saya, Nanat bukan saja sebagai guru, tetapi juga dapat dikatakan sebagai mentor. Saya banyak mendapatkan nasehat-nasehat kepemimpinan dari beliau, baik sewaktu saya sebagai Dekan, Wakil Rektor, maupun Rektor saat ini. Nasehat-nasehatnya sangat futuristik, termasuk dorongan agar kampus ini go international. Terima kasih Nanat atas semua saran dan masukannya.
Biografi ini dirancang dan dinarasikan bukan sekadar kronologi dari suatu peristiwa atau daftar pencapaian melainkan mengedepankan pengalaman yang menjadi refleksi mendalam yang menggambarkan perjalanan hidup seorang tokoh aktivis yang berorganisasi, baik di bidang akademik, sosial, maupun keagamaan.
Tidak berlebihan jika dikatakan dalam biografi menyimpan potret seorang aktivis sejati yang terus menginspirasi melalui pemikiran, tindakan, dan pengabdiannya. Apalagi Guru Besar Sosiologi Agama ini, ketika biografi sedang dalam proses penulisan, masih sehat dan bugar sehingga setiap lembar narasi masih bisa dikoreksi.
Untuk memperkuat narasi, biografi ini dilengkapi dengan belasan testimoni dari politisi, akademisi, serta rekan-rekan perjuangan sang tokoh semasa mahasiswa. Mereka memberikan sudut pandang unik tentang peran sang tokoh sebagai seorang pemimpin dan sahabat, menghidupkan kembali kenangan serta nilai-nilai perjuangan yang menjadi dasar dari segala pencapaiannya.
Semoga pembaca menemukan inspirasi dalam setiap lembar biografi ini dan memahami bahwa perjalanan hidup bukan hanya tentang pencapaian, melainkan tentang nilai dan prinsip yang dipegang teguh sepanjang waktu. Inilah kisah seorang guru besar yang hidup untuk mencipta, memimpin, dan menginspirasi dengan segala keunikannya.
Ibn Ghifarie, Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.
Identitas Buku
Judul : 70 Tahun Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, M.S.: Cendekiawan, Pemimpin dan Pengabdi
Penulis : H. Ridhazia, Pasqa Muhammad, S.E., S.H.Int., M.I.Pol., M.M.
Cetakan : I 2024
ISBN: 978-623-6625-98-9.
Ukuran : 16 x 24 cm
Halaman : 392 Halaman
Kertas Isi : HVS 70 gram
Editor: Kendi Setiawan


