Dark
Light
Dark
Light

Kartini, Kota dan Desa

Kartini, Kota dan Desa

Sejarah tentang kota banyak ditemui dalam literatur, lengkap dengan pengaruh kolonial. Barangkali, itu terjadi karena kolonialisme dibentuk di kota-kota. Ia hadir dalam bentuk sistem, bangunan, hiburan, pendidikan, mode fashion, dan makanan. Pembentukan itu membuat kota melaju pesat. Toko, kantor, birokrasi, sekolah, dan tempat hiburan berkumpul di kota. Sebaliknya, kita jarang menemui dokumentasi merekam kondisi desa. Yang banyak diketahui tentang desa adalah eksploitasi kolonialisme atas tenaga masyarakat dan hasil bumi.

Kartini, putri Bupati Jepara abad ke-19 punya akses untuk melihat jurang perbedaan tersebut. Kartini hidup di desa, tapi bersamaan dengan itu, budaya Eropa tumbuh dalam pikiran dan cara hidupnya melalui bacaan dan pertemuan. Kartini menulis beberapa surat yang mengungkapkan perbedaan antara kota dan desa. Ia menceritakan kondisi geografis, bentuk pergaulan, cara hidup, makanan, dan sistem yang berlaku.

Kondisi geografis antara kota dan desa terekam dalam surat tanggal 12 Januari 1900. Kartini menceritakan dari sudut pandang geografis: “Tahun yang lalu pedusun nelayan terendam air selama seminggu…..itu belum lagi Demak, daerah pemerintahan pamanku, di mana tanahnya tidak bisa dimakmurkan, apapun yang orang usahakan. Dari celaka yang satu orang tiba pada celaka yang lain. Di musim panas kali-kali pada kering, dan di musim hujan meluap membanjiri tanah garapan.”

Dalam suratnya kepada Stella tertanggal 11 Oktober, 1901, Kartini juga menuliskan hal senada: “Oleh Karena kekeringan besar ini hampir di seluruh negeri, berbagai sawah rusak. Di Grobokan, bencana ini lebih-lebih lagi, di sana berjangkit bahaya kelaparan, dan dengan ngeri dan gigil orang di Demak dengan 26.000 bahu sawah gagal dan dalam pada itu mengamuk pula kolera, menghadapi musim hujan yang setiap tahun membenamkan daerahnya. Kasihan negeri ini, yang kekeringan di musim kering karena bencana air, dan di musim hujan karena bencana air pula.”

Gambaran Kartini tentang desa memang memprihatinkan, tidak hanya kondisi wilayah tetapi penyakit yang menyerang membuat kesulitan berlipat. Kontras dengan penggambaran kota, Kartini menjelaskan pandangannya lewat surat-surat selanjutnya.

Pada bulan Mei, 1900, Gubernur Jenderal baru, W. Rooseboom, yang menggantikan Van der Wijck, beserta Nyonyanya berkunjung ke Semarang. Untuk menyambutnya di Semarang diadakan pesta besar. Bupati Jepara beserta istri dan puteri-puterinya diundang. Mereka menuju Semarang naik kereta. Kartini Sebuah Biografi (1979) karangan Sitisoemandari Soeroto menceritakan terjadi obrolan yang asik di dalam kereta oleh tiga saudara.

Mata mereka terbuka lebar dipenuhi ketakjuban melihat Societeit de Harmonie gemerlapan dengan beribu-ribu lampu seperti gedung sihiran timbul dari sebua kolam api. Persis sebuah istana dari seribu satu malam. Selain kota Semarang, Kartini juga melakukan kunjungan ke kota-kota lain, seperti Batavia, Bandung dan Yogyakarta. Kartini menatap kota dalam  peradaban-peradaban modern.

Selain pandangan menyoal geografis, di surat tanggal 12 Januari 1900 kepada Nona Zeehandelaar, ditulis Pram dalam buku Panggil Aku Kartini Saja (2021), Kartini turut menyinggung soal makanan: “Dan kalau asisten wedono itu tinggal sangat jauh dari kota, maka tuan-tuan itu menginaplah di pesanggrahan, dan asisten wedono itu merasalah mendapat kehormatan menyediakan santapan bagi mulut para mulia itu. Cerutu, air blanda, minuman keras,  dan barang-barang kalengan meminta biaya juga, dan bagi seorang kepala onderdistrik sejumlah pengeluaran yang tak boleh dianggap kecil. Dan tahulah kau, bahwa ia tak mungkin sediakan apa-apa yang memang sudah tersedia. Tidak, semua yang enak-enak itu harus dibeli dari kota. Memang tidak seharusnya, tapi tuan rumah menganggapnya sebagai kewajibannya menyediakan segala yang terbaik dari yang ia punya atau dari yang ia tidak punya.” Surat Kartini memberi penegasan ada hirarki antara makanan yang berasal dari desa dan kota. Yang terbaik, dianggap hanya dari kota.

Kartini merekam cara hidup antara desa dan kota. Di desa, ia menyoroti kehidupan yang diiring ritual dan perayaan. Surat kepada Stella Zeehandelaar tanggal 5 Agustus 1902, mengisahkan hal demikian: “Orang Jawa yang paling rendah sekalipun masih puitis juga. Bagaimana pendapatmu tentang penghormatan yang mengharukan dari para pemuda terhadap orang-orang tua? Atau tentang penghormatan yang lain juga sangat mengharukan terhadap para leluhurnya yang telah meninggal? Pada setiap peristiwa yang menggembirakan para arwah leluhur kami selalu kami peringati, kami mohon doa restunya. Dalam suka dan duka kami selalu memperingati para leluhur kami.”

 

Lalu dalam surat tertanggal 1 Agustus 1901, kepada Nyonya Abendanon ia juga menceritakan hal serupa: “Bagi orang Jawa kembang dan dupa itu tidak boleh tidak harus ada. Tiap hati aku menghirup bau kembang dan dupa, timbullah selalu bermacam-macam pikiran dan perasaan dalam jiwaku…”

Kartini merekam bentuk pergaulan yang hidup di kota, tepatnya dalam sebuah pesta. Surat tanggal 27 Oktober 1902, kepada Nyonya Abendanon: “Kami lihat di wajah-wajah pria yang memerah, ‘tuan-tuan’ yang menyemburkan bau minuman keras bila bicara. Dan duh, itu bising dan pekik jerit, dimana kuping dan mata pun menjadi padam karenanya…Kami menjadi berhati dingin, dan ingin benar melarikan diri dari lingkungan ‘beradab’ itu.”

Kartini juga merepresentasikan sistem yang berlaku. Desa adalah feodalisme sementara kota adalah demokrasi. Pramoedya dalam Panggil Aku Kartini Saja (2021), menuliskan bahwa udara feodalisme tampaknya tidak cocok bagi paru-paru Kartini karena telah mengecap demokrasi yang diperoleh dari Barat. Kalau di lingkungannya sendiri telah melihat begitu banyak kekakuan dalam hubungan antarmanusia, orang pun dapat membayangkan betapa kakunya di tempat-tempat lain. Dalam suratnya yang lain, Kartini menyatakan, bahwa sebagai orang yang telah mengecap demokrasi, baginya tidak mungkin lagi kembali memasuki dunia kuno, dunia lama–dan juga menurut kata-katanya sendiri dengan penilaian-penilaian palsu tentang manusia.

 

Pada akhirnya, pembaca mendapat pengetahuan soal kota dan desa dari penggalan surat-surat Kartini. Mendekati penghujung hidupnya, Kartini lebih terbuka atas banyak perbedaan itu seperti metafora yang dituliskannya dalam surat tanggal 27 Oktober 1902 kepada Nyonya Abendanon: “Di tengah jalan mengawinkan tumbuh-tumbuhan atau hewan dari berbagai jenis orang bisa mendapatkan jenis yang dipermulia. Bukankah begitu juga di lapangan adat-kebiasaan rakyat-rakyat? Kalau yang baik pada rakyat yang satu dicampurkan dengan yang baik pada rakyat lain, bukankah akan timbul adat-kebiasaan yang lebih baik?”.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo