Dark
Light
Dark
Light

Presiden dan Pantun

Presiden dan Pantun

Prabowo Subianto dolan ke Solo. Ia mampir ke rumah Joko Widodo. Percakapan terjadi demi Indonesia. Kita tak mengetahui citarasa bahasa dan suguhan makna tercipta bersumber percakapan tak biasa. Peristiwa terjadi pada 20 Juli 2025, berbarengan hajatan politik diadakan PSI.

Kita lupakan percakapan dua tokoh besar. Di Solo, Prabowo Subianto agak berselera sastra. Ia hadir di depan ribuan orang mengenakan kaus berlogo gajah untuk pamer pantun. Kemahiran berpantun mendapat pujian dan tepuk tangan. Prabowo Subianto tak bermaksud mendahului peringatan Hari Pantun Nasional: 17 Desember 2025. Tiga pantun disampaikan belum bukti bahwa Presiden RI mendukung pelestarian sastra (lama) meski politis.

Pantun mengandung pujian: Pagi cerah burung bernyanyi/ Terbang rendah di pohon yang asri/ Mas Kaesang terpilih menjadi ketua umum PSI/ Teruslah berbakti untuk rakyat dan negeri. Pantun cocok diberikan saat PSI mengadakan kongres dan pengenalan logo baru. Prabowo Subianto melanjutkan: Lambang gajah gagah perkasa/ Simbol kuat penuh makna/ PSI hadir membawa rasa/ Untuk rakyat, ayo berjuang bersama. Kita berharap pantun-pantun dibawakan Prabowo Subianto jangan dijadikan contoh pengajaran sastra di sekolah. Pantun politis biarlah turut dalam lembaran sejarah PSI saja.

Kita mendingan menikmati pantun berbeda agar terhindar dari godaan menetapkan Prabowo Subianto sebagai "Bapak Pantun Nasional". Sekian hari lalu, Fadli Zon telanjur menjuluki Taufiq Ismail sebagai “Bapak Sastra Indonesia”. Kita berdoa agar ia tak bikin gegeran dengan memberi gelar baru kepada Presiden RI.

Puluhan tahun sebelum Prabowo Subianto berbagi pantun, umat sastra di Indonesia sudah menikmati Pantun-Pantunan Indonesia Raya buatan Emha Ainun Nadjib (1994). Kita mengingat masa Orde Baru. Soeharto berkuasa menggunakan seribu tanda seru. Ia terkenang dengan pidato, bukan pantun. Soeharto memang rajin memberi nasihat politik bereferensi kesusastraan Jawa tapi tak menonjolkan diri suka berpantun atau suguhkan parikan di depan ribuan orang.

Emha Ainun Nadjib membuat pantun untuk menggugat kekuasaan. Pantun agak lucu dan menghibur tapi membuktikan keberanian mengajukan kritik. Kita membaca pantun berlatar masa Orde Baru: Keluarga kecil keluarga bahagia/ Dua anak cukup, lelaki perempuan sama saja/ Lima kali lima berapa jumlahnya/ Bergantung mayoritas saham untuk siapa. Kita terbujuk membuka halaman sejarah tentang Indonesia dan keluarga Cendana. Dulu, politik dan bisnis bersekutu.

Kritik masih disampaikan Emha Ainun Nadjib: Sungai-sungai masuk muara/ Menyatu dengan gelombang samudera/ Saya pernah lihat ada negeri yang tak terkirakan indahnya/ Terutama karena sangat banyak jenis malingnya. Di Solo, Prabowo Subianto pun mengisahkan para maling. Ia malah mengucapkan serakahnomics. Indonesia terus dihabisi oleh para maling. Presiden berjanji mengambil tindakan menghajar maling-maling. Dulu, pantun buatan Emha Ainun Nadjib sudah lugas mengungkapkan Indonesia sulit makmur akibat keserakahan para maling. Kita tentu tak sopan bila menganggap babak kekuasaan masa lalu itu “orde maling”.

Pantun cukup menghibur ketimbang Prabowo Subianto marah-marah di depan mikrofon. Kita boleh mencatat Prabowo Subianto berhasil memikat publik dengan pantun. Selama berkuasa, ia mungkin bisa memberi ratusan pantun jika ada staf mau mendokumentasi. Pada suatu hari, pantun-pantun bisa terbit menjadi buku dilengkapi komentar kaum politik dan ahli sastra.

Pantun-pantun tak harus dibandingkan dengan “pantun-pantunan” buatan Emha Ainun Nadjib. Pada bulan-bulan menjelang peringatan Hari Pantun Nasional, kita berharap para pengarang di seantero Indonesia segera setoran pantun agar Indonesia meriah. Pantun-pantun boleh beragam tema. Di sekolah dan universitas, pengenalan dan pengajaran pantun diusahakan bermutu. Para murid dan mahasiswa memerlukan pengetahuan dan imajinasi bersumber pantun untuk membentuk Indonesia.

Pantun buatan Emha Ainun Nadjib bisa digunakan dalam pengajaran: Inilah pantun-pantunan tigabelas ribu kepulauan/ Demi buang angin agar tak sakit perut ini/ Sesekali kita mencoba jujur kepada kebenaran/ Agar tak cepat berlalu kemesraan ini. Kita membaca lagi pantu tak lucu saat rezim telah berubah. Kini, Emha Ainun Nadjib tak berpantun lagi. Presiden RI justru suka berpantun dalam misi politik.    

Dulu, pengajaran pantun terbukti serius di sekolah-sekolah. Di buku berjudul Bimbingan Seni Sastra (1951) susunan Slamet Muljana, kita mendapat penjelasan: “Sering dikatakan bahwa pantun merupakah djiwa orang Melaju.” Kalimat itu membawa sejarah. Pada masa setelah proklamasi, pantun terus berkembang dengan penguatan hasil kajian para sarjana asing. Slamet Muljana mencatat jumlah peneliti asing mengalahkan minat para sarjana Indonesia.

Sentilan diberikan: “Pantas diperingatkan bahwa ahli-ahli banjak menjelidiki pantun setjara ilmu pengetahuan. Sedikit sadja beliau-beliau itu membitjarakan pantun sebagai seni kata.” Kita mengutip dari khazanah pantun masa lalu: Burung belibis diatas lantai/ Buah remai dalam padi/ Tuan Raffles orang jang pandai/ Tahu sungguh mengambil hati. Pantun pun dokumentasi, mengajak pembaca ingat sejarah dan biografi. Konon, pantun itu dibuat oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsji.

Pada saat kemunculan Chairil Anwar, pantun lekas dianggap sebagai “puisi lama”. Penjelasan pernah diajukan oleh Sutan Takdir Alisjahbana pada masa 1930-an. Deru revolusi dan geliat sastra seolah menempatkan pantun di “belakang” atau lumrah ditinggalkan demi selebrasi “puisi baru”. Di sekolah, pengajaran tentang pantun tetap dilakukan dan pantun-pantun tetap bermunculan dalam arus sastra meski berjumlah sedikit.

Kita membuka buku pelajaran berjudul Kesusasteraan Lama Indonesia (1954) susunan Zuber Usman. Pengajaran tetap merujuk buku-buku garapan para sarjana Belanda telah tekun meneliti pantun sejak abad XIX. Di situ, tertulis keterangan: “Di antara segala puisi, pantunlah jang benar-benar milik Indonesia sedjati.” Pantun ada di pelbagai pulau di Nusantara dengan pelbagai nama. Kebanggaan itu tetap mengandung “sesalan”. Para pakar pantun sering sarjana asing. Pantun pun masuk dalam kamus-kamus buatan orang-orang Eropa dengan beragam pengertian.

Pada saat berpantun, Prabowo Subianto tak memasalahkan kamus-kamus lawas atau puluhan buku berbahasa Belanda membahas pantun-pantun di Nusantara. Di panggung politik, Prabowo Subianto memilih memberi pantun dalam pengajaran politik, bukan berdasarkan keseriusan memuliakan sastra “lama” agar terus turut dalam babak-babak peradaban Indonesia. Kita menunggu saja ada pihak-pihak berkepentingan membukukan ratusan pantun Prabowo Subianto agar terbit menjadi buku dan terbagikan dalam peringatan Hari Pantun Nasional, 17 Desember 2025. Begitu.

 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo