Pekan lalu saya berkunjung ke Pesantren Al Anwar 2 Sarang, Rembang. Ini kunjungan kedua. Pertama pada Februari ketika sekelompok santri mengikuti pelatihan pengelolaan sampah. Pada kunjungan kedua ini lembaga pendamping program Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) mengundang untuk melihat hasilnya.
Di ujung paling selatan kawasan pesantren, sepetak lahan kosong yang dulu dipenuhi timbunan sampah setinggi leher, kini rata dengan tanah. Di atasnya berdiri bangunan semi permanen. Masih sangat sederhana; berdinding batako kira-kira satu setengah meter dan beratap seng. Di depan pintu masuknya tertancap plakat nama "Rumah Pengelolaan Sampah".
Berkah Al Anwar 2 demikian TPS3R itu diberi nama. Berkah adalah akronim Bersama Kelola Sampah. Di sini sampah organik -yang didominasi sisa makanan- diproses jadi pakan maggot untuk pasokan sumber protein ternak lele dan bebek. Adapun sampah anorganik dipilah sesuai jenisnya. Botol-botol PET dicacah, dibersihkan, lalu dijual ke industri daur ulang melalui pengepul.
"Santri-santri ini yang menjalankan," kata Kang Rozi, Lurah Pondok, memperkenalkan tim Berkah. Ia menunjuk belasan remaja yang meriung di depannya. Mereka cengar-cengir. Beringsut mundur tapi punggungnya sudah mentok tembok untuk menghindari lontaran pertanyaan tak terduga.
Toh, urusan kerja mereka jagonya. Mereka mengangkut sampah dari asrama dan dapur, mengumpulkan di TPS dan memilahnya. Pekerjaan itu kerap mereka jalani di bawah terik matahari pesisir yang membakar kulit. "Lihat saja (kulitnya) hitam-hitam seperti Hajar Aswad," kata Kang Rozi berkelakar.
Hajar Aswad, batu hitam yang dipercaya berasal dari surga, terletak di sudut tenggara Kabah. Tiap hari ratusan ribu -atau mungkin jutaan- muslim menciuminya. Seperti Hajar Aswad, santri-santri itu, biarpun hitam banyak yang mencintai. Bedanya tak perlu diciumi.
Cinta adalah mahabbah. Kata Cak Badrus, Cah Ponorogo yang kualat jadi dosen setelah memajang foto Mbah Hasyim Asyari di sampul tesis, mahabbah itu pangkat tertinggi yang diperoleh seorang muslim.
Dulu ada cerita. Santri nakal lazim dihukum. Bentuknya macam-macam. Pelanggaran ringan biasa di-takzir dengan memberikan tugas tambahan. Salah satunya bersih-bersih. Dari sekadar nyapu halaman asrama sampai ngosek WC.
Tapi beda cerita dengan Syamsudin. Sepanjang nyantri di Sarang, ia diberi tugas tambahan; membidangi urusan kebersihan. Jadi selain ngaji, tiap hari kerjanya resik-resik kamar mandi. Alih-alih menganggap sebagai takzir, ia melakoni sebagai ekspresi takzim pada kiai.
"Sampai sekarang kalau saya mumet obatnya ya bersih-bersih, nyikat WC," kata lelaki yang kini menjabat pengajar di Mahad Aly Maimoen Zubair itu.
Mahad Aly adalah lembaga pendidikan pesantren setingkat universitas. Lulusannya setara sarjana. Di Sarang, lembaga itu memfokuskan diri pada keilmuan hadist.
Ada kepuasan tersendiri setelah nyikat WC, kata Ustaz Syamsudin. Tempat yang mulanya kotor dan jorok jadi kinclong. Orang lain, juga kita tentu, yang semula enggan menggunakan lantaran jijik, akhirnya lebih nyaman memakai kamar mandi bersih.
Cintalah yang menggerakkan kehendaknya ngosek WC. Tapi cintanya model "menjadi (to be)". Bukan cinta "memiliki (to have)". The Art of Loving karya Erich Form mengajarkan to be adalah cinta yang merawat dan menghidupi. Jika to have bicara apa yang dicintai -yang berujung pada penguasaan-, to be mendorong bagaimana cara mencintai.
Karena to be adalah cara, cinta semacam ini hanya bisa dicapai jika ada konsistensi. Pembiasaan yang ajek. Sekalipun tak ada gegap pujian, karena itu memang bukan tujuan, kesadaran cinta to be telah menuntun dia pada pencapaian kepuasan. Di sinilah ia meraih kebahagiaan. Mahabbah.
Kebahagiaan mahabbah tak terbatas pada penguasaan atas objek. Tapi anugerah kesadaran. Laiknya Abu Nawas yang sadar diri. Tak pantas masuk surga tapi tak sanggup dijebloskan ke neraka. Paradoks? Bukan. Wong memang bukan tujuan.
Maka dalam kerangka inilah kita bisa jernih melihat bahwa Ustaz Syamsudin, juga santri-santri Hajar Aswad, itu adalah contoh Sisipus di dunia nyata. Absurditas mereka "mendorong batu ke puncak gunung meski akhirnya nggelundung" bukan kesia-siaan. Sebaliknya itulah "pemberontakan" meraih mahabbah. Dan, bukankah Albert Camus sendiri bilang, "Perjuangan (baca pemberontakan) itu sendiri sudah cukup mengisi hati manusia, maka kita pun harus membayangkan Sisipus bahagia".
Anang Zakaria
Pegiat Literasi Pesantren
Editor: Muhammad Taufiq


