Geliat Baru di Serambi Pesantren
Dalam beberapa tahun terakhir, geliat sastra di lingkungan pesantren menunjukkan kebangkitan yang mencolok. Lomba-lomba menulis untuk santri tumbuh pesat, mulai dari tingkat lokal hingga nasional. Antologi puisi, cerpen, hingga esai karya para santri kian sering diterbitkan oleh penerbit independen maupun lembaga keagamaan. Media sosial juga mempercepat eksistensi mereka, menampilkan wajah santri sebagai subjek literer yang kreatif, reflektif, dan ekspresif.
Fenomena ini tentu menggembirakan. Santri, yang selama ini lebih dikenal sebagai penghafal kitab atau juru dakwah konservatif, kini tampil dengan suara yang lebih personal dan segar melalui medium sastra. Mereka menulis tentang cinta, kegelisahan spiritual, persoalan sosial, dan pencarian jati diri. Sastra menjadi jalan pengungkapan yang lentur, memungkinkan para santri menyuarakan nilai-nilai pesantren dengan bahasa estetis yang komunikatif.
Pertanyaan mendasar muncul: apakah geliat ini sekadar tren sesaat yang akan padam seiring surutnya momentum lomba dan insentif institusional? Ataukah ia adalah cikal bakal kebudayaan Islam Indonesia yang otentik dan berkelanjutan?
Sastrawan yang lahir dari rahim pesantren sejatinya bukan fenomena baru. Dalam sejarah kesusastraan Islam di Nusantara, kita mengenal sosok seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniri, atau Syekh Yusuf Makassar. Mereka bukan hanya ulama, tetapi juga penyair dan penulis yang mengekspresikan kebijaksanaan sufistik dan pemikiran keislaman dalam bentuk estetis. Tradisi ini mengakar kuat dalam warisan literasi keislaman yang memadukan teks, tafsir, dan rasa.
Dalam dunia pesantren kontemporer, tradisi itu sempat terpinggirkan oleh orientasi pendidikan yang lebih menekankan kajian fikih, tafsir, dan gramatika Arab secara normatif. Sastra, yang menuntut ruang kontemplasi dan ekspresi personal, lama dipandang sebagai hal sekunder, bahkan tidak jarang dianggap sebagai "pekerjaan sia-sia" jika tak langsung terkait dengan ilmu-ilmu diniyah.
Maka tak heran jika sempat terjadi kekosongan generasi penulis santri yang menyambung napas dari warisan para pujangga ulama terdahulu.
Jalan Berliku Menuju Panggung Global
Dalam dua dekade terakhir, ketika wacana literasi mulai menyentuh ruang-ruang pesantren, tradisi menulis mulai menemukan nyawanya kembali. Kegiatan ekstrakurikuler kepenulisan bermunculan, komunitas literasi di pesantren tumbuh, dan ruang-ruang digital dimanfaatkan oleh para santri untuk mengarsipkan karya dan pemikiran mereka. Kegiatan ini, jika dikelola dengan sungguh-sungguh, dapat menjadi fondasi kultural bagi lahirnya satu gerakan sastra yang kokoh, bukan sekadar insidental.
Tentu saja, ada tantangan besar yang harus dihadapi. Di satu sisi, arus industri literasi modern yang cenderung sekuler dan komersial bisa menggeser ruh keilmuan serta spiritualitas yang menjadi nafas sastra pesantren. Gaya bahasa yang digandrungi pasar kadang menuntut vulgaritas, sensasi, dan konflik ekstrem yang jauh dari nilai-nilai kesantunan pesantren.
Di sisi lain, keterbukaan ini juga bisa menjadi peluang: sastra santri bisa masuk ke dalam ruang-ruang wacana publik nasional bahkan internasional, sejauh ia mampu menjaga otensitas sekaligus memperkuat kualitas ekspresinya.
Untuk sampai ke titik itu, sastra santri tidak cukup hanya diproduksi dalam euforia lomba atau antologi musiman. Ia harus tumbuh dalam ekosistem pembinaan yang kontinu. Diperlukan pelatihan menulis yang intensif, diskusi kritis atas karya, pendampingan oleh mentor yang kompeten, serta dukungan dari para kiai dan lembaga pendidikan pesantren. Tanpa pembinaan yang berkelanjutan, karya-karya santri mudah redup begitu seremoni usai.
Lebih dari itu, diperlukan institusionalisasi literasi kreatif di pesantren. Artinya, kegiatan menulis harus diletakkan sejajar dengan aktivitas ilmiah lainnya. Penulisan kreatif tidak boleh dianggap sekadar pelengkap, tetapi bagian dari ekspresi intelektual dan spiritual. Kurikulum pesantren perlu memberi ruang bagi ekspresi sastra, baik dalam bentuk puisi, cerpen, esai, maupun drama. Bahkan, akan sangat progresif jika pesantren memiliki jurnal sastra sendiri, atau setidaknya rubrik sastra dalam buletin internal.
Identitas dan Potensi: Di Mana Letak Kekuatan Sastra Santri?
Perlu ditegaskan bahwa kekuatan utama sastra santri bukan terletak pada kemahiran teknik atau kecanggihan diksi semata, tetapi pada kedalaman spiritual dan lokalitas nilainya. Karya-karya yang paling menyentuh justru lahir dari kesederhanaan serambi, dari pergolakan batin yang tumbuh di antara jadwal mengaji, ngaji bandongan, dan aktivitas khidmat. Keterbatasan justru menjadikan imajinasi mereka lebih jernih dan jujur.
Jika kekuatan ini dirawat, sastra santri akan tumbuh bukan hanya sebagai varian dari sastra Islam, tetapi sebagai ekspresi kebudayaan Indonesia yang khas, mengakar dalam tradisi, tapi tetap mampu berdialog dengan zaman. Di tengah krisis spiritualitas global, suara-suara yang jernih dari pesantren sangat mungkin memberi kontribusi pada pencarian makna kemanusiaan yang lebih dalam.
Beberapa nama memang telah menembus batas pesantren, seperti Habiburrahman El Shirazy yang berangkat dari kultur madrasah dan pesantren, atau Helvy Tiana Rosa yang turut merintis jalan bagi sastra Islami Indonesia. Namun, penting untuk tidak menjadikan popularitas sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan. Sastra santri bisa tampil kuat justru karena keotentikannya: karena ia tidak meniru, melainkan menyuarakan hal-hal yang tak ditemukan dalam arus utama sastra modern.
Apalagi, dunia saat ini justru tengah mencari narasi-narasi alternatif—terutama dari Timur dan tradisi Islam—yang memberi kedalaman spiritual di tengah krisis makna pascamodern. Di sinilah letak peluang sastra santri: menjadi jembatan antara nilai-nilai sufistik dan dunia yang gersang dari perenungan. Dunia sedang lapar pada makna, dan pesantren punya banyak ladang makna yang belum digarap.
Jika ditulis dengan kesadaran estetik dan spiritual yang utuh, karya santri sangat mungkin menemukan tempat dalam khazanah sastra dunia. Tidak perlu meniru gaya penulisan Barat atau menyesuaikan diri dengan selera pasar yang dangkal. Justru dengan kesederhanaan dan kejujuran ekspresinya, sastra santri bisa menjadi alternatif yang segar dan menyejukkan.
Menuju Masa Depan: Dari Tradisi ke Transformasi
Namun, semua ini hanya mungkin terwujud jika pesantren mulai menempatkan kegiatan menulis bukan sekadar sebagai kegiatan ekstrakurikuler, melainkan sebagai bagian integral dari tradisi keilmuan itu sendiri. Penulisan kreatif perlu mendapat ruang dalam kurikulum, didampingi oleh pembimbing yang memiliki kepekaan sastra.
Lebih jauh, lembaga pesantren juga perlu menjalin kerja sama dengan penerbit, redaksi media, dan universitas, agar karya santri mendapatkan validasi dan pengembangan profesional yang layak.
Sudah saatnya pula para kiai dan pengasuh pesantren memandang sastra bukan sebagai gangguan, tetapi sebagai saluran lain dalam menyampaikan hikmah dan dakwah. Dalam sejarahnya, para wali dan ulama menggunakan berbagai medium untuk berdakwah—termasuk tembang, cerita rakyat, hingga simbol-simbol budaya lokal. Sastra adalah kelanjutan dari tradisi itu, dalam medium yang lebih sesuai dengan generasi hari ini.
Menuju dunia bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana santri menemukan suara mereka sendiri—dengan bahasa yang jujur, imajinatif, dan bernas. Jika ini tercapai, maka sastra santri tidak hanya lahir dari serambi pesantren, tetapi juga menjadi cahaya yang menyinari jagat sastra Indonesia dan dunia. Ia akan hadir bukan sebagai pengekor, tetapi sebagai penyumbang narasi baru yang otentik dan penuh makna.
Sastra santri tidak harus menunggu diundang oleh dunia. Ia hanya perlu menguatkan akar, memperkuat batang, dan mekar dengan kelopak kejujuran serta embun spiritualitas. Dunia akan datang mendekat ketika bunga itu tumbuh dengan wangi yang khas.
Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Editor: Kendi Setiawan


