Arina.id— Tagar NoBuyChallenge2025 belakangan ramai di media sosial khususnya platform Tiktok. Tren ini mengajak seseorang untuk tidak membeli barang yang tidak perlu dalam jangka waktu tertentu, seperti sebulan atau lebih. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran akan kebiasaan belanja, mengurangi pengeluaran impulsif, dan menabung lebih banyak.
Tagar #NoBuyChallenge telah digunakan hampir 50 juta kali di TikTok dan merambat ke media sosial lainnya. Tantangan ini memungkinkan seseorang untuk mengatur kembali perancangan keuangan di 2025. Influencer TikTok ramai-ramai mengunggah catatan seluruh pengeluaran yang tidak mendesak untuk dijadikan rujukan pada resolusi 2025.
Conten Creator dari Yogyakarta Aulia Intan Febia berada di antara orang-orang yang mengkampanyekan "No Buy Challenge 2025". Dalam salah satu unggahan akun Tiktoknya, ia mengurai sebelas daftar barang yang akan ia kurangi atau hindari dibeli.
Barang-barang itu diantaranya air minum kemasan, kopi, alat elektronik, fast food, dan produk wajah dan perawatan kulit. Ia beralasan dengan menekan belanja barang tersebut ia terhindar dari perasaan takut ketinggalan tren, update, atau potensi untuk terhubung dengan orang lain (Fear of Missing Out/Fomo).
"No more new makeup, habiskan yang lama dulu baru beli yang baru keculi dikasih. Langganan terlalu banyak, cukup netflix saja dan branded stuffs yang enggak penting, kamu itu enggak butuh validasi dari orang lain. Beli sesuai kebutuhan saja," kata Aulia dalam unggahan di akun tiktok pribadinya.
Aulia juga mengajak agar masyarakat tak perlu membeli barang-barang elektronik seperti handphone jika masih dalam kondisi baik. Ia menganggap sebagai pemborosan apalagi sekadar mengikuti tren, ini juga berlaku pada pembelian barang sekali pakai.
"Aku bakal beli barang jika benar-benar udah rusak dan enggak bisa ditoleransi. Fashion items yang murah dan jelek cuma buang-buang duit aja dan malah nambah limbah fashion," kata dia.
Aulia menerapkan pola hidup sehat dengan masak sendiri dan mengurangi jajanan di luar. No takeout or food delivery kalau bisa masak sendiri, why not? Dan alih-alih membeli air kemasan ia memilih membawa tumbler.
Financial and Insurance Specialist, Albertus Axel mengapresiasi gebrakan no buy challenge yang ramai di media sosial. Menurutnya tren ini cukup bagus untuk mengelola finansial bagi mereka yang boros, sulit nabung di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Ia mencontohkan kebiasaan ngopi di kafe, secara tidak sadar menguras kantong, lebih baik dialihkan untuk investasi atau pengembangan diri. "Pengeluaran kopi di kafe secara enggak sadar bisa menggunung," ungkapnya.
Sosiolog Robertus Robet dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menilai gerakan ini lebih sebagai respons kelas menengah terhadap tekanan finansial, terutama setelah menguatnya ekonomi serabutan (gig economy). Ekonomi serabutan adalah sistem ekonomi yang sedang mendunia di mana pasar kerjanya adalah tenaga kerja lepas atau kontrak jangka pendek.
"Orang jadi lebih menekankan perhitungan pengeluaran finansial untuk berhemat karena menghadapi situasi kerja yang tak pasti," kata dia dilansir BBC.
Namun, ia juga melihat sisi positifnya sebagai kritik moderat terhadap konsumerisme dan langkah awal menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
"Tantangan ini bukan hanya soal hemat uang, tetapi juga langkah introspektif untuk melepaskan diri dari kecanduan konsumsi," imbuhnya.
Dampak kecanduan konsumsi pernah dibidik dalam sebuah film investigasi berjudul Buy Now The Shopping Conspiracy (2024). Film dokumenter Inggris ini menguak fakta dari dunia konsumerisme, dan trik perusahaan besar merancang kerja-kerja sistematis untuk memanipulasi pikiran konsumen agar terus membeli produk bahkan ketika produk tersebut tidak dibutuhkan.
Padahal dampak dari konsumsi berlebihan ini berpengaruh terhadap pencemaran lingkungan karena banyaknya limbah pakaian, alat elektronik dan kemasan yang tidak mudah didaur ulang. Solusinya adalah mengurangi penggunaan dan itu bisa dimulai dengan kesadaran setiap individu.
Perusahaan yang berjanji membuat pabrik mereka efisien dan tak merusak lingkungan pada akhirnya seringkali hanya "cuci tangan. Mereka tak sepenuhnya bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan.
Padahal bahaya serta ancaman lain dari menumpuknya sampah butuh waktu ratusan tahun sebelum terurai sempurna. Dalam prosesnya sampah hancur menjadi partikel-partikel kecil, menyebar di seantero perairan dan tanpa sadar dikonsumsi oleh hewan-hewan di lautan. Sampah-sampah itu terus membunuh makhluk hidup di lautan.
Berdasarkan laporan jurnal Nature yang ditulis tiga peneliti University of Leeds, Inggris yaitu Joshua W Cottom, Ed Cook, dan Costas A Velis menyebutkan jika penduduk dunia membuang 52,1 juta metrik ton sampah plastik ke lingkungan setiap tahun yang menyebar mulai dari laut dalam sampai gunung tertinggi di dunia.
Dalam penelitian itu juga disebutkan Indonesia menjadi penyumbang ketiga terbesar populasi plastik di dunia setelah India dan Nigeria. Tren No Buy Challenge 2025 menarik tak hanya menjaga gaya hidup minimalis tetapi juga peduli terhadap masa depan bumi.
Editor: Muhammad Zunus


