Arina.id ~ Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis dalam Buku Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan mengungkapkan sebuah tuntunan yang diberikan oleh Imam Ghazali dalam Kitab Ihya Ulûmiddîn untuk mendeteksi pembangkit dosa yang bersumber dari sifat-sifat dalam diri manusia.
Pertama adalah sifat rubûbiyah atau ketuhanan. Dari sifat ini dapat memicu perbuatan dosa seperti: sombong, membanggakan diri, mencintai pujian dan sanjungan, mencari popularitas, dan lain sebagainya. Ini termasuk dosa yang merusak, sekalipun banyak orang yang melalaikannya.
“Kedua, sifat syaithȃniyah atau kesetanan. Bersumber dari sini, muncullah benih-benih kedengkian, kesewenang-wenangan, menipu, berdusta, makar, kemunafikan, dan hal-hal yang menyuruh pada kerusakan,” ungkapnya dikutip Arina.id pada Senin (18/3/2024).
Ketiga, sifat bahimiyah atau kebinatangan. Tindakan dosa yang didorong oleh sifat ini adalah kejahatan, memenuhi nafsu perut dan syahwat kemaluan, zina, homo seks, dan mencuri. Keempat, sifat sabu'iyah atau kebuasan. Sifat terakhir ini mendorong nafsu dan sikap amarah, dengki, menyerang orang lain, membunuh, merampas harta, dan korupsi.
“Dari berbagai sifat yang dapat memicu perbuatan dosa tersebut, manakah yang telah merasuk dan menjadi bagian dari keseharian kita selama ini?. Itulah yang harus ditinggalkan. Kita harus pandai-pandai menghitung, mengevaluasi, dan introspeksi terhadap diri sendiri, sebelum datang hari penghitungan (yaumu al-Hisȃb) kelak di akhirat,” jelasnya.
Rais Syuriyah PBNU ini juga menyatakan bahwa fitrah manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Tidak ada manusia yang sempurna bahkan terbebas dari dosa.
“Bulan Ramadhan ini merupakan kesempatan emas yang harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Salah satunya adalah dengan bertafakkur atau introspeksi diri, seberapa banyak dan apa saja dosa yang telah kita perbuat selama ini,” katanya katanya
Islam menurutnya mengajarkan umatnya untuk bisa menapak hari esok yang lebih baik. Sebelum melangkah, tentunya seorang individu harus mengintrospeksi atau mengevaluasi diri terlebih dahulu.
“Jangan sampai kesalahan yang lalu terus diulang, tanpa ada perbaikan. Pepatah bilang, “jangan sampai terjatuh di lubang yang sama.” Karena itu, Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk melakukan introspeksi diri,” ungkapnya.
Sinyal ini menurutnya sudah pernah diutarakan oleh Umar bin Khaththab yang berkata, “Hisablah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab di akhirat kelak. Timbangtimbanglah amal perbuatanmu sebelum ia ditimbang di akhirat.”
Editor:


