Arina.id – Peristiwa naas terjadi di Pondok Pesantren Al Khoziny, pesantren tua tempat para ulama Nahdlatul Ulama (NU) nyantri. Musala di kompleks asrama putra ambruk ketika para santri sedang salat Ashar berjamaah, Senin sore 29 September 2025.
Satu santri dikabarkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya luka-luka. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 14.40-15.00 WIB, tepat saat seratusan lebih santri sedang salat Ashar berjamaah di dalam musala lantai dua milik pesantren di Desa/Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, itu.
Menurut keterangan salah satu warga setempat, Munir, sempat terdengar suara gemuruh disertai getaran yang mengejutkan warga di sekitar pondok pesantren tersebut. Dan benar setelah dicek ternyata musala pondok ambruk.
Ratusan santri terjebak di dalam musala. Proses evakuasi pun dilakukan segera dengan melibatkan tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat serta petugas medis. Semalaman proses evakuasi berlangsung cukup sulit, identifikasi sementara satu santri meninggal dunia.
Sementara puluhan santri lainnya mengalami luka beragam. Seluruh korban kemudian dirujuk ke RSUD Sidoarjo. Lalu bagaimana profil pesantren Al-Khoziny ini? Dilansir dari berbagai sumber, tarikh pendirian pesantren sekitar 1915-1920 M, meskipun disepakati catatan resmi pembangunan pada 1927.
Nama "Al Khoziny" diambil dari pendirinya, Kiai Haji Raden Khozin Khoiruddin (Kiai Khozin sepuh), ulama kharismatik yang menantu Kiai Ya'qub, pengasuh Pesantren Siwalanpanji Sidoarjo di periode ketiga. Lokasi strategis pesantren berada di tepi Jalan Raya Sidoarjo-Surabaya, sekitar 300 meter dari Siwalanpanji.
Pengasuh saat ini adalah Kiai Raden Abdus Salam Mujib (Kiai Salam Mujib), generasi ketiga dari keluarga pendiri. Ia juga menjabat sebagai Rais PCNU Sidoarjo. Sebelum Kiai Salam, dua pendahulunya ialah Kiai Moch Abbas selama puluhan tahun, lalu KH Abdul Mujib Abbas (1964-2010), yang berperan besar dalam pengembangan pendidikan formal.
Pesantren ini telah melahirkan banyak ulama besar NU, seperti KH M Hasyim Asy'ari atau Mbah Hasyim (pendiri NU), KH Abd Wahab Hasbullah, KH Umar (Jember), KH Nawawi (Ringin Agung, Kediri), KH Usman Al Ishaqi (Surabaya), dan KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo). Alumni lain termasuk KH Ali Mas’ud (Sidoarjo) dan Kiai Dimyati (Banten).
Editor:


