Bantuan Dipotong AS, Ribuan Anak Rohingya Terjerumus Pernikahan Dini dan Kerja Paksa

Bantuan Dipotong AS, Ribuan Anak Rohingya Terjerumus Pernikahan Dini dan Kerja Paksa

Arina.id — Pemotongan besar-besaran bantuan luar negeri oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada tahun ini, ditambah pengurangan dari negara-negara donor lain, memaksa penutupan ribuan sekolah dan pusat kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh. Dampaknya, program perlindungan anak lumpuh dan risiko kekerasan terhadap anak meningkat tajam.

Penutupan fasilitas pendidikan dan perlindungan anak itu memicu konsekuensi serius. Di sejumlah kamp, anak perempuan dipaksa menikah, anak-anak berusia sekitar 10 tahun terjerumus kerja paksa, dan sebagian anak perempuan di bawah umur mengalami eksploitasi seksual.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan telah menyalurkan lebih dari 168 juta dollar AS bantuan untuk pengungsi Rohingya sejak Trump menjabat, dengan alasan peningkatan efisiensi dan pembagian tanggung jawab antardonor. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Media Al Jazeera menyoroti kisah Hasina (17), pengungsi Rohingya yang kehilangan akses sekolah setelah pendanaan dihentikan pada Juni lalu. Sekolah yang selama ini menjadi ruang aman dari ancaman pernikahan paksa dan kekerasan di kamp ditutup. Tak lama kemudian, Hasina dinikahkan saat masih di bawah umur dan kini mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Hasina mengungsi ke Bangladesh bersama ibu dan saudara perempuannya sejak 2017 setelah ayahnya tewas dalam operasi militer Myanmar. Ia bercita-cita menjadi guru dan unggul dalam pelajaran bahasa Inggris. Penutupan sekolah mengakhiri pendidikan dan masa kecilnya sekaligus.

Situasi serupa dialami ratusan anak perempuan lain di kamp-kamp pengungsi. Minimnya akses pendidikan dan kekhawatiran keluarga atas memburuknya kondisi akibat pemotongan bantuan mendorong praktik pernikahan dini.

UNICEF melaporkan kondisi yang kian berbahaya bagi sekitar 600.000 anak di kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh. Sepanjang tahun ini, pelanggaran terhadap anak meningkat tajam. Kasus penculikan dan penyerobotan naik lebih dari empat kali lipat menjadi 560 kasus dibandingkan tahun lalu. Laporan perekrutan anak oleh kelompok bersenjata meningkat delapan kali lipat, memengaruhi 817 anak.

Di Bangladesh, pendanaan AS untuk respons pengungsi Rohingya turun hampir 50 persen dibandingkan tahun lalu. Secara keseluruhan, respons darurat Rohingya untuk 2025 baru didanai sekitar 50 persen. UNICEF telah mengalihkan sebagian dana tersisa untuk membuka kembali sebagian pusat pembelajaran, tetapi banyak sekolah yang dikelola organisasi bantuan lain tetap tutup, membuat ribuan anak kehilangan akses pendidikan.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo