Jakarta, Arina.id — Panggung Festival Indonesia makin ramai pengunjung kala kreator konten Riza Abu Sofyan atau dikenal Abu Marlo dan praktisi kesehatan mental Adjie Santosoputro membincang cara Gen Z mengatasi luka batin dalam talkshow Festival Keluarga Indonesia yang digelar Keluarga Maslahat NU.
Keduanya mengulas kesehatan mental yang kini tengah menjadi perhatian kalangan muda. Adjie menyoroti fenomena overthinking yang kerap menghantui tiap individu. Menurutnya, hal itu muncul akibat hilangnya momen-momen jeda atau hening (doing nothing) yang jarang dilakukan orang-orang zaman sekarang.
Sebagai contoh, ketika tidak melakukan aktivitas apa pun, orang-orang akan memainkan ponselnya, membuka konten dan menyerap berbagai informasi yang mempengaruhi pikirannya.
"Pikiran terdiri dari dimensi berpikir (thinking) dan kesadaran (awareness), namun kini kita kekurangan awareness yang justru lahir saat doing nothing (seperti duduk diam)," ujarnya.
Menurut Adjie, hal ini berimbas pada perasaan bersalah atau khawatir tertinggal saat seseorang tidak ikut serta dalam tren atau kegiatan yang sedang berlangsung.
Sementara itu, Abu Marlo menekankan pentingnya melatih kesadaran diri untuk menyembuhkan luka batin dan pola asuh yang tepat untuk meredakan overthinking.
"Yang terpenting adalah memunculkan self awareness, dengan dilatih dan pola pengasuhan dalam keluarga juga sangat berpotensi besar dalam konteks luka batin, jadi kuncinya adalah kembali ke rumah,”tegasnya.
Tema ini relate dengan kehidupan anak muda perkotaan saat ini di tengah gempuran konten-konten media sosial dan realitas kehidupan sehari-hari. Sepanjang diskusi banyak pengunjung berebut sekadar menyapa idolanya itu atau bertanya tips melatih kesehatan mental.
Festival semakin menarik pengunjung kala penyanyi jebolan X Factor Indonesia, Fatin Shidqia Lubis naik podium melantunkan lagu Bersyukurlah. Karakter vokalnya yang sangat khas dibumbui sedikit suara serak malam itu mampu menggaet lebih banyak pengunjung Mal Kota Kasablanka.
Ia membawakan empat buah lagu yang tak asing lagi di telinga para penikmatnya. Mulai dari bersyukurlah hingga aku memilih setia.
"Dunia berubah, NU berubah, dan cara-cara kita melaksanakan berbagai hal yang menjadi tanggung jawab kita memang harus berubah," kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Yahya Cholil Staquf membuka Festival Keluarga Indonesia, Sabtu lalu.
Festival Keluarga Indonesia merupakan salah satu rangkaian kegiatan Kongres Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama yang digelar yang menghadirkan NU dalam lanskap awam keluarga Indonesia di tengah kota, dan mewujudkan kemaslahatan keluarga Indonesia. Khususnya keluarga NU dengan gerakan khidmah yang solid dan terintegrasi.
Gus Yahya melihat gairah untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan NU tumbuh sangat pesat terutama di perkotaan. Semua orang di lingkungan NU, katanya, perlu menyesuaikan diri.
"Kita bisa lihat dari penampilan orang NU sekarang sudah mulai menyesuaikan diri," jelasnya.
Dengan suara lantang, Gus Yahya menegaskan NU sekarang ingin sungguh-sungguh menjalankan kiprah dalam dinamika keluarga masyarakat salah satunya melalui gerakan keluarga maslahat NU.
Ia berharap gerakan ini lebih banyak yang disumbangkan untuk ikut berkontribusi pengabdian NU kepada masyarakat, bangsa dan negara.
"NU dengan tegas dan tandas menyatakan semua layanan untuk seluruh masyarakat tanpa terkecuali," ucap Gus Yahya.
Gus Yahya merasakan perubahan generasi sekarang yang lebih cepat. Ia mencontohkan kehidupan putri-putri Gus Dur, cucunya dan istrinya Nyai Sinta Nuriyah Wahid.
"Kita bisa lihat sekarang putri-putri Gus Dur ini adalah potret keluarga NU yang bergulat di tengah perubahan tapi terus menyumbang berkontribusi untuk bangsa dan negara," katanya.
Ketua PBNU Bidang Pengembangan Data Hasanuddin Ali mengatakan festival Keluarga Indonesia ini merupakan langkah PBNU untuk mendekatkan layanan NU kepada masyarakat urban.
"Pemilihan mal atau pusat perbelanjaan sebagai lokasi berlangsungnya Festival Keluarga Indonesia itu juga mengingat tempat tersebut menjadi sarana berkumpulnya keluarga," ujarnya.
Sambut baik gebrakan NU
Kreator konten Abu Marlo memberikan apresiasi terhadap gerakan yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, ini merupakan terobosan luar biasa yang dikerjakan oleh NU.
"NU semakin mampu menjangkau generasi Z, dan saya rasa ini dapat memperluas jangkauan ke semua kalangan," ujar Marlo kepada Arina.id.
Ia berharap acara-acara ini tidak hanya berlangsung secara sporadis, tetapi dapat berkesinambungan dari satu acara ke acara lainnya, membentuk sebuah program yang berkelanjutan.
"Ada kesinambungan antara acara-acara yang diselenggarakan, yang akhirnya menghasilkan program-program panjang dengan manfaat yang lebih luas," tambahnya.
Marlo juga menilai bahwa NU kini menyelenggarakan acara-acara yang lebih universal dengan bahasa kekinian, yang semakin mengikuti apa yang diinginkan oleh pasar dan lebih tepat sasaran.
"Saya senang NU mau beradaptasi dengan perubahan yang mungkin akan keluar dari pakem lama ke perubahan adaptasi," jelasnya.
Pengarah Kongres Keluarga Maslahat NU Alissa Wahid mengatakan kegiatan ini untuk memperkenalkan gerakan Keluarga Maslahat NU kepada masyarakat.
"Besar harapan kami ini menjadi ruang-ruang baru yang akan dimasuki Keluarga Maslahat," ungkap Alissa.
Alissa menaruh harapan besar agar kegiatan semacam ini menjadi awal dari sebuah pendekatan baru di lingkungan NU, membawa kebaruan seperti yang sering diminta Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.
Editor:


