Analis Militer Rusia Sebut Kemampuan Senjata dan Militer AS Mulai Terseok-seok

Analis Militer Rusia Sebut Kemampuan Senjata dan Militer AS Mulai Terseok-seok

Arina.id - Keterlibatan Amerika Serikat (AS) di banyak perang, mulai dari perang Ukraina vs Rusia, Israel vs Hamas dan Iran. Kemudian keterlibatan dalam konflik di beberapa negara Kawasan Timur Tengah; Afghanistan, Irak, Suriah dan sebagainya, pada akhirnya menguras sumber daya negeri Paman Sam itu. 

Perang Ukraina misalnya, pengiriman berbagai bantuan senjata telah membuat AS terseok-seok. Perang panjang di Eropa Timur antara Ukraina vs Rusia tersebut memicu gejolak di dalam negeri Amerika hingga membuat bantuan berkurang. Jadi penyebabnya karena memang sumber daya mereka mulai terbatas, bukan karena kemauan politik. 

Analisis tersebut disampaikan pengamat militer Rusia yang juga eks Pasukan Marinir Negeri Beruang Merah, Brian Berletic, kepada Sputnik. Ia bahkan menyebut kekuatan militer Amerika sekarang ini seperti kejedot tembok, tidak bisa leluasa berkembang lagi. 

"Perang yang sedang berlangsung di Ukraina telah memperlihatkan keterbatasan serius pada kekuatan militer AS, baik dalam hal kemampuan persenjataannya dibandingkan dengan senjata Rusia, maupun dalam hal produksi industri militer," katanya. 

Di sisi lain, anggaran militer AS yang besar – jauh lebih besar daripada Rusia – tidak serta merta membuatnya lebih unggul dalam produksi atau kinerja. Biaya yang membengkak berasal dari skema pertahanan yang fokus mencari keuntungan. Gara-gara itu Industri persenjataan AS tidak dapat berkembang seperti Rusia. Kondisi itu membuat AS tidak lagi bisa perang dalam intensitas tinggi dan jangka panjang. 

"Perlu ditegaskan bahwa kekurangan amunisi yang kritis ini dimulai segera setelah AS mulai mengirim ke Ukraina, dengan tingkat produksi AS untuk semua sistem ini diarahkan untuk intervensi intensitas rendah di seluruh dunia. Bukan pertempuran berskala besar dan berlarut-larut seperti yang terlihat di Ukraina mulai tahun 2022 dan seterusnya," tegas Berletic.

Situasi tersebut dimulai di bawah kepemimpinan Joe Biden, kemudian perang dengan Iran dan sekutunya kian mendorong mereka tenggelam lebih dalam krisis. "AS kini menghadapi kesenjangan mencolok antara permintaan militer dengan apa yang dapat diberikan oleh industri pertahanannya," katanya menambahkan. 

Dalam konflik dengan Iran dan Cina, AS telah menekan Eropa untuk meningkatkan anggaran pertahanannya. Mengapa demikian? Sebab AS menginginkan lebih banyak uang dari masyarakat agar dibelikan senjata. Dan pembelian justru lebih banyak ke perusahaan-perusahaan AS sendiri. Ini upaya keras mereka untuk menghidupi industri militernya yang mulai terseok-seok. 

Selain itu, agar industri militernya tetap hidup, AS juga terus mengobarkan api peperangan di banyak negara. Di Ukraina misalnya, mereka menjadikan perang sebagai bisnis sekaligus menguras tenaga Rusia. Padahal strategi itu percuma saja. 

Di sisi lain Rusia masih sanggup meladeni perang panjang tersebut. AS dan sekutunya akan terus mencoba memperpanjang perang di Eropa Timur hingga menguntungkan mereka, "tanpa mempedulikan seberapa tidak seimbangnya pertempuran yang terjadi dan tidak menguntungkan bagi Ukraina."


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo