Teror Penembakan Anak-anak di Sekolah Kristen Amerika

Teror Penembakan Anak-anak di Sekolah Kristen Amerika

Jakarta, Arina.id - "Dor..,dor...!" suara tembakan menyalak dari luar ruang kelas enam sekolah Feather River School of Seventh-Day Adventists, sebuah sekolah kristen di Palermo California Amerika Serikat, 4 Desember 2024 lalu. Jocelyn Orlando, salah satu siswi segera bangkit dari kursi menghambur bersama murid-murid lain yang mulai panik. 

Sambil berteriak-teriak, mereka segera berlarian ke ruang kantor dan menutup tirai. "Kami pergi untuk istirahat makan siang, dan pada dasarnya semua orang di kelas saya mendengar penembakan dan kebanyakan orang berteriak," kata Jocelyn kepada wvcn.com, Selasa (17/12/2024).

"Kami semua pergi ke kantor, kami menutup tirai, mengunci pintu, semua murid melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan saat penembakan di sekolah terjadi. Kemudian salah satu guru datang dan kami semua berlari ke gym."

Dua anak berusia 5 dan 6 tahun tewas setelah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit terdekat dalam peristiwa menyayat hati itu. Pelaku penembakan juga ditemukan tewas diduga menembak kepalanya sendiri. Demikian disampaikan seorang anggota kepolisian setempat.

Peristiwa penembakan sekolah di Amerika Serikat memang cenderung meningkat selama satu dasawarsa ini. Situasi tersebut memicu keprihatinan sosial bagi masyarakat di sana. Misalnya tragedi penembakan sekolah di Newtown, Connecticut; Parkland, Florida; dan Uvalde, Texas, yang menewaskan lusinan anak beberapa tahun terakhir.

Teror penembakan di sekolahan juga memicu perdebatan sengit tentang kontrol senjata di negeri Paman Sam. Namun sampai sekarang kritik dan tuntutan perubahan undang-undang senjata nasional tidak juga dilakukan. Laporan dari KFF (Kaiser Family Foundation), sebuah organisasi nirlaba yang meneliti masalah perawatan kesehatan, mengungkap bahwa senjata api menjadi biang kerok kematian anak-anak pada 2020 dan 2021.

"Hati saya hancur untuk semua orang yang terkena dampak tragedi ini," kata Anggota Majelis James Gallagher di wilayahnya termasuk Palermo dalam sebuah pernyataan. 

"Sebagai sebuah komunitas, kita semua akan memeluk orang yang kita cintai lebih dekat hari ini saat kita berdoa untuk para korban dan mencoba memahami sesuatu yang tidak masuk akal."

Sheriff Butte County Kory L. Honea mengatakan mereka telah menerima informasi bahwa penembak sedang dalam pertemuan dengan kepala sekolah tentang mendaftarkan seorang anak di sekolah, meskipun pertemuan itu belum diverifikasi oleh penyelidik. 

Tak lama setelah itu tembakan terdengar, kata Honea. Sebelumnya, para pejabat mengatakan mereka tidak percaya penembak memiliki hubungan dengan sekolah. Motifnya sampai sekarang juga tidak segera diketahui. Honea mengatakan mereka mencoba menghubungi keluarga penembak sebelum merilis nama pelaku.

Terbaru penembakan di Sekolah Kristen Abundant Life di Kota Madison Negara Bagian Wisconsin Amerika Serikat. Tiga korban tewas dan enam lainnya dilaporkan terluka akibat penembakan tersebut. Korban jiwa adalah seorang guru dan siswa. Ironisnya, tersangka penembakan juga seorang siswa yang dilaporkan tewas menembak dirinya sendiri.

"Hari ini adalah hari yang menyedihkan, tidak hanya bagi Madison tetapi juga bagi seluruh negara kita," kata Kepala Polisi Madison Shon Barnes dalam konferensi pers, seperti dikutip dari Antara, Selasa (17/12/2024).

"Setiap anak, setiap orang di gedung itu, adalah korban, dan akan menjadi korban selamanya. Trauma seperti ini tidak akan hilang begitu saja," ujarnya menambahkan.

Kepolisian Madison mengatakan bahwa  jumlah korban jiwa sebanyak tiga orang, yang sebelumnya diumumkan kepada pers, adalah data yang keliru. "Jadi, ada tiga orang yang meninggal. Total yang terluka sebanyak sembilan orang, termasuk mereka yang meninggal tersebut," kata kepolisian melalui Facebook.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo