Jalan Pengabdian Syamsul Falah di IBN: Lanjutkan Visi Ulama Sesepuh Tegal

Jalan Pengabdian Syamsul Falah di IBN: Lanjutkan Visi Ulama Sesepuh Tegal

Saya menemuinya di dalam ruangannya yang sederhana, di sana hanya ada satu meja dengan tiga kursi. Satu kursi tempat ia duduk, dua lagi kursi yang posisinya berhadap-hadapan dengannya, dipisah oleh meja kerja Pak Dosen.

Ia adalah Doktor Syamsul Falah, dosen muda yang dikenal sangat dekat dengan para mahasiswanya.

"Saya memang senang diskusi, Mas. Sering juga sambil ngopi bareng mereka," begitu katanya di awal obrolan kami.

Nama Syamsul Falah mungkin belum sepopuler tokoh-tokoh akademik di kampus besar negeri ini. Namun, di lingkaran kecil para pendidik Islam di Tegal dan sekitarnya, namanya kerap hadir dalam percakapan hangat tentang gagasan, etika, dan masa depan pendidikan Islam.

Ia adalah salah satu Dosen Ilmu Pendidikan Islam yang gaungnya konsisten bahwa salah satu produk pendidikan adalah kesadaran individu sebagai bagian integral lingkungan alam dan sosial yang melingkupinya. Kelestarian lingkungan alam harus menjadi ruh yang tak boleh binasa di hati seorang pendidik. Sementara empati wajib menjadi ruh kedua agar harmoni sosial berjalan damai.

Syamsul merasa prihatin melihat berbagai kerusakan alam yang disebabkan oleh manusia, penyebabnya adalah kerakusan yang bercokol di hati manusia yang kalap dengan urusan perut kenyang. Tak ada jalan kebajikan untuk menyelamatkan bumi selain melalui pendidikan yang berwawasan ramah lingkungan.

Syamsul menjadikan topik ini sebagai bahan diskusi arus utama dengan para mahasiswanya di kelas. Dengan harapan, tema lingkungan juga melekat di dalam mindset mahasiswanya yang kelak, apabila menjadi guru maka akan berhadapan langsung dengan anak murid di kelas masing-masing. 

"Pendidikan Islam harus punya kontribusi besar terhadap kelestarian lingkungan,” katanya.

Menurut dia, kerusakan alam bukan hanya soal ekologi, tetapi juga krisis spiritual. Ketika manusia kehilangan kesadaran ekologis, sesungguhnya ia sedang kehilangan tauhid, keterhubungan dengan Tuhan dan semesta.

Misi penyelamatan bumi harus membumi, para calon guru atau guru seharusnya mampu membuat pembelajaran yang mendekatkan anak-anak dengan alam sekitar.

Katanya, “Sekolah-sekolah kita itu eksis di tengah-tengah lingkungan masyarakat, namun kegiatan pembelajaranya hampir 90 persen berada di ruang kelas. Sekolah bahkan, membikin pagar yang kokoh. Anak murid yang semestinya dekat dengan lingkungan alam dan sosial di sekitarnya, justru tampak berjarak dengan itu semua”. 

Bagi Dosen Syamsul, jika sekolah atau guru tak mengambil langkah sungguh-sungguh menancapkan kesadaran merawat alam melalui tema-tema pembelajaran yang menggugah spirit kebijaksanaan, bukan mustahil, anak-anak kelak akan semakin jauh dari pemahaman bahwa ia hidup berkawan dengan makhluk lain yang sejatinya turut menjaga keberadaan manusia itu sendiri.

Syamsul menjelaskan bahwa jika semut binasa dari muka bumi, kepunahan manusia adalah niscaya. Semangat diskusi seperti ini yang membakar ruang-ruang kuliah yang diampunya. 

Dari Pesantren ke Jalan Ilmu 
Syamsul Falah muda belajar tentang disiplin, adab, dan cinta ilmu dalam tradisi pesantren. Jebolan SMPN 15 Kota Tegal ini, melanjutkan pengembaraan keilmuan agamanya ke Pondok Pesantren Futuhiyah, Mranggen, Demak. Di sana ia lulus sampai dengan Madrasah Aliyah.

Tak langsung menuju bangku perkuliahan, Syamsul kembali meresapi ilmu agama di Pondok Pesantren Al-Ishlah, Lasem, Rembang selama empat tahun. Dari perjalanan berguru dari Kyai ke Kyai, watak keadaban dan keilmuannya terasah, rendah hati tapi teguh, sederhana sekaligus mendalam. Barulah setelah itu ia menapaki dunia perkuliahan di Institut Agama Islam Bhakti Negara, Tegal atau yang sering dikenal oleh masyarakat sebagai kampus IBN Tegal.

"IBN merepresentasikan diri saya sebagai santri,” ujarnya dalam perbincangan yang berlangsung hangat.

IBN, kata dia, bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan ruang batin yang menyatukan nilai keagamaan dan nasionalisme. Dari histori kampusnya, ia membaca bahwa IBN lahir dari dari visi mulia ulama lokal Tegal yang ingin menghadirkan lembaga pendidikan tinggi yang inklusif dan terbuka.

Tak seperti umumnya kampus islam yang memilih nama dengan kosa kata islam, Nama “Bhakti Negara”, katanya, mencerminkan sikap egaliter para kiai pendirinya, Kiai Jamhari, Kiai Miftah Kajen, dan Kiai Abdul Malik Mufti Babakan. 

Syamsul lekat dengan dunia aktivis. Ia pernah menduduki kepengurusan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Tegal. Ketua KNPI Kabupaten Tegal juga pernah ia sandang. Saat ini, selain aktif mengajar dan meneliti, ia adalah wakil ketua KNPI Jawa Tengah. Di samping memegang peran penting dalam kepengurusan Gerakan Pemuda Ansor. Aktivitas kebudayaan juga tak ketinggalan, Syamsul adalah sekretaris Dewan Kebudayaan Kabupaten tegal. 

Dari pergulatan pergaulan yang luas itu, tumbuh di dalam jiwanya nilai-nilai yang mewarnai cara hidupnya dalam lingkup keluarga, kampus, aktivis kepemudaan, dan lingkungan masyarakat. Sejalan dengan sang idola, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Syamsul memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan (humanis) yang tercermin dalam sikapnya yang egaliter, plural, dan demokratis.

Ia adalah seorang suami yang enggan menjadi dominan, baginya, rumah tangga adalah seni hidup untuk saling berbagi dalam balutan kasih sayang. Sebagai ayah, ia tidak ingin menguasai anak. Independensi anak perlu mendapatkan penghormatan yang selayaknya.

Di kampus, Syamsul adalah teman bagi para mahasiswanya. Sementara dalam dunia aktivis, ia membaur dengan tangan dan pikiran yang terbuka. Syamsul merangkul semua golongan tanpa memandang latar belakang apapun.

IBN: Cinta yang Tumbuh dari Akar 
Syamsul Falah berkarier sebagai dosen IBN Tegal bukan karena kebetulan, melainkan karena keyakinan. Ia pernah belajar di kampus itu saat S1, dan kini kembali sebagai dosen. Ia seperti sedang membayar hutang moral pada lembaga yang telah membentuknya. 

IBN, dalam pandangannya, bukan hanya kampus lokal dengan sumber daya terbatas. Ia adalah laboratorium nilai. Tempat berpadunya buah ilmu, agama, dan nasionalisme yang bersentuhan dalam konteks lokal. 

“Saya ini putra daerah Kabupaten Tegal,” katanya. “Maka ketika saya memilih untuk berkarier di IBN, itu bagian dari cinta terhadap tanah kelahiran.”

Ia percaya, kemajuan daerah tidak selalu datang dari luar, tetapi bisa tumbuh dari dalam, dari orang-orang yang berani mencintai tanah kelahirannya dengan kerja nyata. 

Santri Akademis: Memadukan Antara Teks dan Konteks 
Syamsul Falah tumbuh dalam tradisi pesantren, lalu melanjutkan tradisi keilmuan itu ke dunia akademik modern. Inilah yang menjadikan dirinya sebagai “santri akademis”, figur yang mampu menjembatani dua dunia, teks keagamaan dan konteks sosial. 

Dalam keseharian mengajar, ia menolak sekadar mengutip teori. Ia lebih suka berdialog dengan mahasiswanya tentang kehidupan. “Pendidikan Islam itu seharusnya melahirkan manusia yang humanis dan inklusif,” tegasnya.

Ilmu, lanjut Syamsul, harus membawa manusia kepada kebijaksanaan, bukan sekadar kepintaran yang saklek pada ukuran rasionalitas. Pertimbangan rasa perlu hadir agar manusia tetap menjaga kemanusiaannya. 

Visi hidupnya sederhana, ia ingin menjadi manuisa yang bermanfaat bagi sesama manusia, bermanfaat bagi alam semesta, dan berkontribusi nyata merawat nilai-nilai keislaman dalam memberdayakan masyarakat. 

Langkah Menuju Guru Besar 
Kini, Syamsul Falah berada di ujung tahap penting dalam karier akademiknya. Ia pada posisi satu langkah terakhir menuju gelar guru besar. Penelitian-penelitiannya telah nongkrong dalam jurnal internasional, Sinta 2. Ia meneliti kehidupan keberagamaan di Desa Adiwerna, Tegal. Kehidupan plural yang diwarnai masyarakat berlatar belakang agama yang beragam.

Kemudian penelitiannya tentang pengelolaan sampah yang ramah lingkungan di Desa Bojong, Tegal, yang dimotori oleh ibu-ibu Muslimat NU yang mewadahi diri dalam jamiyah Nurul Hikmah. Penelitiannya yang paling penting dalam pendidikan islam adalah Bimbingan Konseling Islami berbasis Kecerdasan Buatan dan NLP. 

“Kalau Allah mengizinkan,” ucapnya merendah, “saya ingin menjadi Guru Besar yang lahir dari IBN Tegal." 

Bukan karena ambisi pribadi, tapi karena simbol harapan bahwa kampus daerah pun bisa melahirkan profesor, asal ada semangat dan integritas. Ia menyebutnya bukan sekadar prestasi akademik, tetapi “buah dari cinta panjang pada ilmu dan almamater. 

Pendidikan yang Membumi dan Menyembuhkan 
Berbicara dengan Syamsul Falah seperti mendengar seorang pendidik yang menolak menjadi elitis. Ia memaknai pendidikan sebagai laku membumi, bukan hanya ruang teoretis. Dalam pandangannya, dosen bukan menara gading, melainkan pelita kecil yang harus menyala di tengah masyarakat. 

Ia percaya, masa depan pendidikan Islam bergantung pada dua hal: humanisme dan kesadaran ekologis. Tanpa keduanya, pendidikan hanya akan mencetak intelektual kering, bukan manusia yang empatik.

Maka, setiap kali ia mengajar, Syamsul tak sekadar bicara tentang teori. Ia berbicara tentang kehidupan, tentang bumi yang lelah, manusia yang serakah, dan tanggung jawab moral kita sebagai khalifah di muka bumi.

Bagi Syamsul, pendidikan sejati adalah yang menyembuhkan, bukan sekadar mencerdaskan. 

Jalan Sunyi 
Syamsul Falah memilih jalan yang mungkin tidak glamor: menjadi dosen di kampus daerah, dengan idealisme yang kerap dianggap “tidak praktis.”

Namun justru di situlah makna sesungguhnya. Ia memilih setia pada akar, dan dari akar itulah tumbuh pohon-pohon pengetahuan yang rindang. 

Sebagaimana santri yang tak pernah lepas dari adab, Syamsul menjalani profesinya dengan kesabaran dan kesungguhan. Ia mengajarkan bahwa menjadi akademisi bukan tentang mengejar popularitas, tetapi tentang mendidik dengan hati, dan menanamkan nilai dengan cinta. Seorang santri yang menjadikan ilmu sebagai ibadah dan kampus sebagai ladang pengabdian.

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
 


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo