Israel Bunuh 300 Warga Palestina dalam 48 Jam dan Lakukan 26 Pembantaian

Israel Bunuh 300 Warga Palestina dalam 48 Jam dan Lakukan 26 Pembantaian

Jakarta, Arina.id— Di tengah wacana genjatan senjata selama 60 hari, Israel kembali melakukan serangan ke Wilayah Gaza. Lebih dari 300 warga Gaza dilaporkan tewas dalam kurun 48 jam terakhir akibat rentetan serangan brutal pasukan Zionis. Dalam dua hari itu saja, tercatat setidaknya 26 aksi pembantaian.

Dalam pernyataannya, Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan bahwa sebanyak 138 jenazah telah dibawa ke rumah sakit dalam 24 jam terakhir, sementara 625 orang lainnya terluka. Dengan demikian, total korban luka dalam serangan Israel tersebut telah mencapai 135.173 orang.

“Masih banyak korban yang terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan-jalan, dan para penyelamat tidak dapat menjangkau mereka,” tambah pernyataan tersebut.

Kantor Media Pemerintah Gaza menambahkan sejak Rabu (2/7/2025) hingga Kamis (3/7/2025), militer Israel menggempur wilayah padat penduduk, termasuk sekolah Mustafa Hafez di Kota Gaza yang menjadi tempat berlindung para pengungsi.

Tak hanya sekolah, serangan juga menghantam kamp pengungsian, pemukiman sipil, pasar tradisional, infrastruktur publik, dan sejumlah titik distribusi bantuan bagi warga yang mengalami kelaparan ekstrem. Serangan juga menyasar kawasan distribusi Bantuan Kemanusiaan Gaza (GHF) lembaga yang dikelola  Israel dan Amerika Serikat. 

Jurnalis Tareq Abu Azzoum dalam laporannya menyampaikan kesaksian para penyintas di lokasi GHF. Mereka mengaku ditembaki tanpa adanya peringatan ataupun provokasi. 

"Layanan darurat tak bisa menembus lokasi karena tembakan terus-menerus. Ini memperlihatkan betapa parahnya kehancuran kondisi kemanusiaan di Gaza,” kata Tareq dilansir Aljazeera. 

Sebelumnya, sebanyak 130 organisasi internasional menyerukan agar operasi GHF di Gaza dihentikan. Mereka menilai lembaga itu bukan hanya gagal menyalurkan bantuan secara memadai, tetapi juga dituding telah memfasilitasi pasukan Israel dalam menyerang pengungsi yang tengah mengantri makanan.

Dokter asal Norwegia yang bertugas di Gaza, Mads Gilbert menegaskan bahwa operasi GHF merupakan bagian dari strategi Israel dalam menjalankan pembersihan etnis dan genosida secara sistematis.

Skema bantuan baru yang didukung Israel ini menuai kecaman dari para pejabat Palestina dan pengamat internasional, yang menyebutnya sebagai “jebakan maut.”

"Mereka menggunakan makanan sebagai umpan untuk menarik warga kelaparan, lalu menembaki mereka. Itu adalah kejahatan perang,” tegas Gilbert.

Pasukan Israel kembali melancarkan serangan di Jalur Gaza sejak 18 Maret, dan sejak saat itu telah menewaskan 6.710 orang serta melukai 23.584 lainnya, sekaligus menghancurkan kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang sempat berlaku pada Januari lalu.

Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga sedang menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait perang yang mereka lancarkan di wilayah tersebut.
 


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo