Jakarta, Arina.id –Sejak digulirkan pada 2023, Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) telah melakukan gebrakan besar dalam melayani kebutuhan masyarakat, khususnya dalam hal pembinaan keluarga. GKMNU, merupakan hasil kerja sama antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Kementerian Agama dengan tujuan utama memberikan layanan yang berfokus pada peningkatan kualitas kehidupan keluarga di seluruh Indonesia.
Wakil Satuan Tugas Nasional (Satgasnas) GKMNU, Hj Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid (Alissa Wahid) mengatakan saat ini GKMNU telah berhasil membina lebih dari 1,5 juta keluarga sampai ke tingkat desa di seluruh Indonesia yang bekerja sama dengan seluruh mitra mengenai edukasi keluarga Indonesia mulai dari keluarga maslahat, pencegahan stunting, bimbingan pernikahan kepada calon pengantin, dan edukasi seksual bagi remaja.
"Saat ini sudah lebih dari 1,5 juta keluarga kami bina, lebih dari 5 ribu calon pengantin untuk bimbingan calon pengantin bersama Kemenag dan Kemenkes,” katanya membuka acara Pembukaan Kongres Keluarga Maslahat NU di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan pada Jumat (31/1/2025).
Dalam dua tahun terakhir beberapa program GKMNU telah menjangkau ke 10 provinsi meliputi Jawab Timur, Jawab Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, Banten, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Barat.
Dalam kurun waktu tersebut, GKMNU telah mengimplementasikan program bimbingan keluarga telah dilaksanakan di 891 desa di lima provinsi dan mencapai 1.023.680 keluarga. Program bimbingan perkawinan pra nikah telah menjangkau lebih dari 3.100 calon pengantin yang dilaksanakan di 62 Kabupaten/Kota. Kemudian program keuangan keluarga telah menjangkau 15.510 keluarga di 16 Kabupaten/Kota.
Sementara itu percontohan workshop keluarga maslahat santri senior menjangkau 62 santri, 37 Kabupaten/Kota se Jawab Timur. Kemudian program perhutanan sosial telah membagikan sertifikat lahan seluas 41.525,29 ha dan menjangkau 26.000 KK.
Program pendidikan pengelolaan sampah 2.348 Keluarga di 3 Kabupaten/Kota. Di sisi lain pembekalan pelajar IPNU IPPNU di 19 Kabupaten/Kota. Program pendampingan Anak dan Remaja telah dilakukan 7.023 anak dan remaja.
Penguatan Nilai-Nilai Etos Kerja, Gotong Royong, dan Integritas (EGI) di sekolah dilakukan di tiga provinsi berbeda menjangkau 571 stakeholder di lingkungan sekolah. Program upaya gizi anak Indonesia juga telah diimplementasikan di 3 kota berbeda yakni Surabaya, Solo, dan Jakarta. Dan menjangkau 84 usia Baduta melibatkan 12 tenaga kesehatan (dokter, ahli gizi, perawat, bidan).
Percontohan makan bergizi gratis telah menjangkau 247 siswa/siswi. Sementara itu cegah stunting perspektif agama (CSPA) telah diimplementasikan di 39 Desa, 19 Kabupaten/Kota Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten.
Program ini telah memberi pelatihan kepada 1.581 kader Desa, 200 kelompok Posyandu, 380 stakeholder Kelembagaan Posyandu, dan 1.1445 kader Posyandu, 637 Kepala Sekolah, Guru, dan Tendik, 4.130 Bimbingan Remaja Usia Sekolah, 873 siswa penggerak, 242 sekolah madrasah terlibat dalam pencegahan stunting, dan 1.355 calon pengaantin dan remaja usia di atas 19 tahun.
Selain itu CSPA melakukan pendampingan keluarga 5.100 KK, menyediakan makanan tambahan 29.880 Balita, 114 kelompok terlibat lomba drama promosi cegah stunting, 710 orang terlibat lomba drama promosi cegah stunting, 2.400 penonton lomba drama edukasi cegah stunting.
GKMNU melakukan program pendampingan masyarakat berhasil melakukan bimbingan keluarga menjangkau 4.250 keluarga, pendampingan anak/remaja pembekalan IPNU/IPPNU di 20 Kabupaten/Kota dan 7.023 Anak/remaja, pendidikan pengelolaan sampah kepada 230 keluarga berbasis moderasi.
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mengatakan gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) adalah wujud pengabdian NU kepada masyarakat melalui pelayanan pengasuhan pembinaan keluarga.
"Khidmah semacam itulah yang dilakukan oleh para kiai kita di dalam perannya di tengah-tengah jamaah. Maka keseluruhan design dari GKMNU ini secara keseluruhan menyangkut wawasan keagamaan, wawasan strategis, sampai pada sasaran yang bisa dicapai melalui gerakan ini," ungkap Gus Yahya.
Perkembangan pergaulan di era digital saat ini semakin intens dipengaruhi oleh berbagai platform teknologi, yang berpotensi menyebabkan dehumanisasi dalam hubungan sosial. Banyak orang kini berinteraksi hanya melalui perangkat digital, yang mengurangi kehangatan pergaulan secara langsung dan penuh perhatian antar sesama.
Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) hadir untuk menjaga agar pergaulan dalam masyarakat tetap hangat dan penuh kemanusiaan, tanpa menyerah pada kemudahan teknologi yang bisa mengurangi kedalaman hubungan antarmanusia.
"Ini semua adalah ikhtiar dari jamiah NU untuk menjadikan kehadirannya semakin nyata dirasakan oleh masyarakat, warga, bangsa, dan kemanusiaan. Hadir dengan pekerjaan-pekerjaan nyata, manfaat nyata, dan barokah nyata untuk kemaslahatan keluarga, kemaslahatan Indonesia, dan kemaslahatan umat manusia," ujarnya.
Ketua Satgas Nasional Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) menjelaskan, GKMNU merupakan langkah yang besar PBNU dalam membangun peradaban yang lebih baik. Bermakna bagi peradaban manusia harus dimulai dari membangun keluarga. Sehingga muncul Gerakan Keluarga Maslahat ini.
Oleh karena itu, lanjutnya, Satgas GKMNU membentuk kepengurusan dan struktur dari level provinsi, kota/kabupaten, kecamatan, hingga kader di tingkat desa untuk memastikan perjalanan kegiatan.
Keberadaan struktur GKMNU ini penting untuk menjalankan kegiatan-kegiatan ini, sebab walaupun NU memiliki struktur yang sudah ada dari pusat hingga desa yakni PBNU, PWNU, PCNU MWCNU hingga Ranting, namun belum pernah terbukti berhasil mengerjakan pekerjaan secara sistematis dalam level nasional. Satgas GKMNU juga memiliki tugas penting untuk menjadi elemen kinetik yang menjalankan organisasi.
Peluncuran Aplikasi
Untuk mendukung layanan keluarga lebih mudah dijangkau khalayak luas, PBNU meluncurkan aplikasi Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) yang memuat beragam fitur layanan berbasis teknologi termasuk fitur konsultasi keluarga dengan kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, aplikasi ini juga menyediakan Materi Edukasi Tanpa Batas untuk mengakses kapan saja artikel, video, dan panduan seputar parenting, pendidikan, keuangan keluarga, kesehatan hingga cinta alam.
Penelitian yang dilakukan Rindriani Hana dalam jurnal Ekfektivitas Program Bimbingan Keluarga Maslahah NU dalam Mewujudkan Keluarga Maslahah studi kasus di Tulungagung menunjukkan bahwa Program bimbingan keluarga yang diselenggarakan Kementerian Agama bersama GKMNU (Gerakan Maslahah Nahdlatul Ulama Keluarga) dinilai cukup efektif karena dilakukan secara rutin. Hal ini berdampak besar karena tidak semua orang memahami maslahah keluarga.
Melalui gerakan ini banyak mengedukasi kepada calon pengantin dan masyarakat bahwa untuk mewujudkan keluarga yang maslahah berpartisipasi dalam menyelesaikan permasalahan perceraian dan juga mengurangi angka perceraian.
Editor:


