Jakarta, Arina.id— Lebih dari seratus warga Palestina tewas dalam serangan militer Israel di berbagai wilayah Gaza pada Sabtu, (12/72025). Salah satu insiden paling mematikan terjadi di daerah al-Shakoush, sebuah area padat di Rafah selatan, yang oleh badan internasional telah ditetapkan sebagai zona kemanusiaan.
Menurut keterangan sumber medis Palestina, dari total korban tewas, 34 orang di antaranya adalah warga sipil yang sedang mengantre bantuan makanan milik Gaza Humanitarian Foundation (GHF)—lembaga yang didukung secara logistik oleh Amerika Serikat.
Samir Shaat, warga Palestina yang kehilangan sahabatnya dalam serangan tersebut, menggambarkan suasana lokasi dengan suara bergetar.
“Mereka menembaki orang-orang secara membabi buta. Saat aku menggendong temanku di pundak, aku berjalan di antara para syuhada,” ujarnya kepada Aljazeera.
“Tas yang seharusnya diisi dengan makanan berubah menjadi kain kafan,” lanjut Samir Shaat.
Beberapa saksi mata lain mengklaim bahwa serangan yang dilakukan tentara Israel dilakukan dengan tembakan langsung tanpa peringatan, bahkan menggunakan penembak jitu yang membidik individu satu per satu.
“Mereka memperdaya kami—membiarkan kami datang untuk menerima bantuan. Mereka membiarkan kami membawa tas, lalu mulai menembaki kami seolah-olah kami bebek yang sedang diburu,” ungkap Mohammad Barbakh, seorang ayah yang juga lolos dari maut.
Laporan langsung dari Tareq Abu Azzoum, koresponden Al Jazeera di Deir el-Balah, mendukung kesaksian ini. Ia menyebutkan bahwa tidak ada peringatan sebelum tembakan dilepaskan oleh pasukan Israel yang berada di sekitar situs GHF.
GHF didirikan sebagai lembaga distribusi bantuan kemanusiaan yang beroperasi di wilayah Gaza dengan dukungan internasional. Dalam laporan terakhirnya, GHF menyatakan komitmen terhadap “netralitas dan keselamatan warga sipil.” Namun, pasukan Israel tampaknya mengabaikan status lembaga ini sebagai zona aman.
PBB dan sejumlah organisasi hak asasi manusia kini menyebut lokasi GHF sebagai “rumah jagal manusia” dan “jebakan maut”.
“Tidak ada yang lebih tragis dari sebuah tempat yang dijanjikan sebagai sumber hidup, justru menjadi lokasi kematian massal,” ujar seorang pejabat UNRWA yang enggan disebutkan namanya.
Laporan dari Al Jazeera menyebutkan bahwa pasukan Israel melepaskan tembakan langsung ke arah kerumunan tanpa peringatan. Sumber lapangan menduga bahwa strategi ini bukan sekadar kesalahan taktis, melainkan bagian dari tekanan psikologis untuk menghentikan konsentrasi warga sipil di satu tempat.
Menurut Analis Konflik Timur Tengah dari International Crisis Group, pola ini menunjukkan pergeseran dari serangan terhadap target militer menuju penargetan sarana-sarana sipil, termasuk distribusi bantuan, sebagai bagian dari strategi "tekanan total".
“Ini bukan sekadar pelanggaran hukum humaniter internasional. Ini adalah bentuk peringatan: tidak ada tempat yang aman,” katanya.
Insiden ini terjadi ketika perundingan gencatan senjata di Qatar mengalami kebuntuan. Sejumlah diplomat menyebut stagnasi itu sebagai hasil dari "kerasnya posisi Israel" dan "kebingungan diplomasi negara-negara besar".
Di sisi lain, pernyataan resmi dari Tel Aviv tetap pada narasi lama: bahwa militer Israel hanya menargetkan “elemen teroris” dan bahwa warga sipil “dijadikan tameng oleh Hamas.” Klaim ini ditolak keras oleh berbagai bukti lapangan dan rekaman video amatir yang menunjukkan tidak ada aktivitas militer di sekitar lokasi GHF saat serangan terjadi.
Editor:


