Akhir-akhir ini, banyak orang mulai mempertanyakan kembali makna pertemanan. Bukan pertemanan dangkal yang hanya sebatas mengikuti di media sosial dan saling memberi “like”, melainkan hubungan yang sungguh berarti,tempat seseorang benar-benar tahu apa yang sedang terjadi dalam hidup kita.
Menariknya, ada pola yang sering muncul pada orang-orang yang kesulitan mempertahankan hubungan dekat di masa dewasa. Bukan karena mereka antisosial atau bermasalah secara emosional, melainkan karena sesuatu pernah terjadi di masa kecil, saat mereka masih belajar memahami bagaimana hubungan bekerja.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak memiliki teman dekat dua kali lebih berisiko mengalami kesulitan psikologis di usia dewasa muda dibandingkan mereka yang memiliki setidaknya satu sahabat. Pengalaman masa kecil memang tidak selalu dramatis, tapi hal-hal kecil yang tampak sepele dapat perlahan membentuk pola hubungan yang terbawa hingga dewasa.
Diadaptasi dari laman Geediting.com, berikut 8 pengalaman masa kecil yang kerap menyebabkan orang dewasa yang kesulitan membangun pertemanan yang erat.
1. Sering pindah tempat tinggal saat kecil
Anak yang kerap berpindah rumah atau sekolah harus terus-menerus menjadi “anak baru”. Mereka berulang kali memulai dari awal, mencoba masuk ke kelompok yang sudah terbentuk, dan sering merasa seperti orang luar.
Dalam situasi seperti itu, anak belajar untuk tidak terlalu terikat. Pola pikir seperti, “Untuk apa terlalu dekat kalau nanti harus berpisah?” bisa tumbuh sebagai mekanisme pertahanan diri. Saat kecil, itu mungkin melindungi mereka dari rasa kehilangan. Namun ketika dewasa, kebiasaan ini bisa menjadi tembok yang menghalangi kedekatan.
Mereka yang terbiasa menganggap hubungan bersifat sementara cenderung berhenti berinvestasi secara emosional. Mereka belajar untuk efisien dalam berhubungan, tidak mau membuang energi untuk koneksi yang terasa rapuh sejak awal.
2. Mengalami pengabaian emosional di rumah
Anak-anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang minim ekspresi emosi sering kali tidak belajar cara yang sehat untuk berkomunikasi perasaan. Mereka mungkin jarang melihat contoh kehangatan, kejujuran, atau dukungan emosional dari orang tua.
Ketika dewasa, hal ini dapat membuat seseorang kesulitan membuka diri. Mereka terbiasa memendam perasaan karena sejak kecil telah diajari bahwa emosi adalah urusan pribadi, bukan sesuatu yang dibagikan.
Akibatnya, membangun hubungan yang dekat bisa terasa seperti berbicara dalam bahasa asing—semua orang tampak mengerti cara mengekspresikan diri, sementara mereka hanya bisa menebak-nebak maknanya.
3. Pernah mengalami penolakan atau bullying
Masa sekolah bisa menjadi tempat yang keras. Anak yang sering mengalami penolakan, perundungan, atau pengucilan biasanya membawa luka itu hingga dewasa.
Penelitian menunjukkan bahwa trauma sosial di masa kecil bisa menimbulkan efek jangka panjang, termasuk rasa curiga berlebihan terhadap orang lain. Mereka menjadi terlalu waspada, selalu membaca tanda-tanda penolakan bahkan ketika sebenarnya tidak ada.
Ketakutan itu melelahkan, dan ironisnya justru membuat mereka tampak menjauh. Dalam hubungan sosial, kecemasan semacam ini sering menciptakan jarak yang tak disengaja antara seseorang dan orang-orang di sekitarnya.
4. Terlalu mengandalkan diri sendiri
Ada anak-anak yang tumbuh dengan tanggung jawab besar sejak dini, entah karena orang tua sibuk, kondisi keluarga sulit, atau mereka harus membantu mengurus adik-adik. Dari situ, mereka belajar bahwa bergantung pada orang lain tidak selalu aman.
Kemandirian memang hal baik, tapi jika berlebihan, bisa menjadi penghalang. Anak yang terbiasa mengurus segalanya sendiri tumbuh menjadi orang dewasa yang sulit meminta bantuan. Mereka akan selalu berkata, “Aku baik-baik saja,” bahkan ketika sedang tidak baik.
Masalahnya, pertemanan membutuhkan kejujuran dan kerentanan. Tanpa itu, hubungan sulit berkembang menjadi kedekatan yang sejati.
5. Kurang kesempatan melatih keterampilan sosial
Keterampilan sosial tidak datang begitu saja; ia dipelajari melalui interaksi sejak kecil. Anak yang jarang bergaul, karena homeschooling misalnya, terlalu pemalu, atau tidak diberi kesempatan bersosialisasi, kehilangan kesempatan berharga untuk belajar memahami dinamika sosial.
Tanpa pengalaman itu, seseorang mungkin paham “aturan sosial” secara teori, tetapi kaku dalam praktiknya. Mereka kesulitan membaca situasi, menyesuaikan diri, atau menyelesaikan konflik kecil.
Ibarat pemain bola yang hanya tahu strategi dari buku, tapi tak pernah benar-benar turun ke lapangan—mereka tahu apa yang seharusnya dilakukan, namun canggung melakukannya.
6. Menyaksikan hubungan yang tidak sehat
Anak-anak belajar banyak dengan mengamati. Jika mereka tumbuh di lingkungan rumah yang penuh pertengkaran, manipulasi, atau ketidakstabilan, pola hubungan itu bisa tertanam dalam diri mereka tanpa disadari.
Mereka mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa konflik adalah pertanda hubungan gagal, padahal perbedaan dan ketegangan adalah bagian alami dari kedekatan manusia.
Sebaliknya, ketakutan terhadap konflik bisa membuat mereka menghindari kedekatan sama sekali—lebih memilih hubungan yang dangkal daripada risiko tersakiti.
7. Mengalami kehilangan atau trauma sejak dini
Kehilangan orang tua, mengalami kekerasan, atau trauma lainnya dapat membentuk pandangan seseorang terhadap dunia. Jika masa kecil dipenuhi ketidakpastian dan rasa tidak aman, mereka akan lebih berhati-hati dalam mempercayai orang lain.
Trauma membuat seseorang membangun tembok perlindungan yang sulit ditembus. Respon itu dulunya menyelamatkan, tapi di masa dewasa sering kali justru menghalangi koneksi yang sebenarnya mereka butuhkan.
Mereka ingin dekat, tapi naluri bertahan membuat mereka mundur sebelum sempat benar-benar membuka diri.
8. Tumbuh di lingkungan yang meremehkan persahabatan
Ada keluarga yang menilai pertemanan sebagai hal remeh, bahkan menganggapnya gangguan dari hal-hal yang “lebih penting”, seperti prestasi atau pekerjaan.
Anak yang tumbuh dalam budaya semacam ini sering kali belajar bahwa nilai diri diukur dari pencapaian, bukan hubungan. Akibatnya, ketika dewasa, mereka kesulitan membangun hubungan tanpa tujuan tertentu.
Mereka mungkin hebat dalam berjejaring, tapi canggung dalam menjalin kedekatan tulus, karena sejak kecil, mereka tidak pernah diajari bahwa menjadi teman yang hadir tanpa pamrih juga adalah bentuk keberhasilan hidup.
Menutup Lingkaran
Kurangnya teman dekat di masa dewasa bukan tanda kegagalan pribadi. Itu hanya cerminan dari pola yang pernah dipelajari di masa kecil dan belum sempat diubah.
Penelitian menunjukkan bahwa hubungan sosial di masa kecil berperan penting dalam mengembangkan kemampuan kognitif, emosional, dan sosial yang bertahan seumur hidup. Tapi pola bukanlah takdir, ia bisa diubah dan dipelajari ulang.
Membangun pertemanan di usia dewasa memang tidak semudah dulu, ketika kedekatan tumbuh alami karena sering bertemu di sekolah. Kini, hubungan membutuhkan niat dan usaha. Namun justru di situlah keindahannya: orang memilih untuk tetap hadir, bukan karena kebetulan, tapi karena kesadaran.
Bagi siapa pun yang merasa sulit menjalin kedekatan, langkah kecil bisa menjadi awal. Membalas pesan dengan jujur, menerima ajakan meski terasa canggung, atau sekadar mengakui bahwa kita butuh orang lain, semua itu adalah bentuk keberanian.
Pengalaman masa lalu memang membentuk kita, tetapi tidak harus menentukan masa depan. Dengan kesadaran, setiap orang bisa menulis ulang polanya sendiri, membangun hubungan yang lebih hangat, lebih jujur, dan lebih manusiawi.
Editor:


