Tiap kali kaki kecilnya itu melangkah, orang pun menyapanya. Bahkan, saat hari vaksin polio – penyakit yang banyak menyerang anak-anak di Gaza, supir ambulans pun memanggilnya. Wajahnya sudah teramat terkenal bagi orang-orang di sana.
“Hai, koki Renad,” salah satu dari mereka memanggilnya. Ada juga yang tidak sekadar menyebut namanya tapi juga dengan pertanyaan yang tak bisa lekas dijawabnya dengan seketika. “Renad, apa yang akan kamu masak untuk kami?” sapa mereka.
Gadis berusia sepuluh tahun itu tak lantas menjawab. Dia hanya tersenyum. “Aku jadi terkenal secara tidak sengaja,” katanya pada Aljazeera.
Renad Ataullah adalah nama gadis dari Deir el-Balah, Gaza tengah. Dia memang bukan bocah biasa. Di Instagram, namanya cukup terkenal. Akunnya, www.instagram.com/renadfromgaza memiliki hampir 800 ribu pengikut. Mereka jatuh hati dengan unggahannya tentang memasak.
Bagi pengikutnya, Renad menampilkan sosok lain dari anak-anak Gaza yang dihajar banyak penderitaan yang tak berkesudahan akibat gempuran bom dan peluru tentara Israel. Senyum Renad seolah menampilkan ketangguhan dari sebuah generasi yang terjebak dalam kekacauan yang brutal.
Namun bila pun dia bisa tampil di Instagram dengan ceria toh bukan begitu pula yang dialaminya. Sama seperti bocah di Gaza lainnya, dia pun mengalami nasib yang tidak menyenangkan.
Semestinya, dia berada di bangku sekolah. Menyimak penjelasan guru, membagi bekal dengan teman sekelasnya, atau berlarian riang di sekolahnya. Namun, Renad, yang seharusnya sekarang duduk di kelas lima, harus berhenti sekolah sejak serangan Israel setahun silam.
Kini, dia tinggal di daerah pengungsian. Rumahnya hancur berkeping-keping akibat bom Israel. Dia bersama ibu dan saudara perempuannya Nourhan, 25 tahun, mereka hidup berdesakan dengan beberapa keluarga lain dalam satu rumah di Deir el-Balah.
Namun, semua itu tak lantas membuatnya murung. Dia memiliki kesukaan yang luar biasa dalam soal memasak. Sebelum Israel menghancurkan hidup mereka, dia selalu senang menonton video memasak.
Hobi memasaknya pun diteruskan. Namun tentu saja keadaan sudah berbeda jauh. Mereka tak mungkin lagi menemukan bahan-bahan masakan yang sesuai dengan resep yang akan dibuat.
Makanan yang diolah bukan lagi dari daging segar melainkan dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar mereka. Bisa apa saja. Namun sering kali memasak yang berasal dari kotak bantuan yang sebagian besar berisi makanan kering dan yang dikemas dalam kaleng. Tak pelak, kedatangan kotak bantuan makanan bak “harta karun”.
Kegiatan inilah yang kemudian direkam oleh sang kakak dan diunggah ke akun media sosialnya. Sebuah video saat Renad membongkar kotak bantuan yang berisi gula, kemudian menjadi viral. Di video itu tampak reaksinya yang sangat gembira saat membuka kotak-kotak bantuan itu.
Tujuannya tentu bisa menjadi ide bagi penduduk Gaza lainnya yang memiliki bahan makanan yang terbatas. Sehingga mereka bisa mencoba menggunakan resep diberikan Renad dalam videonya.
Meski banyak ditonton pengikutnya, Renad sendiri seringkali merasa bersalah. “Sebab banyak dari kami bahkan tidak dapat minum air," katanya.
Nourhan, sang kakak, pada akhirnya bertindak sebagai pengelola akun Renad harus ekstra hati-hati. Dia harus memastikan bahwa konten adiknya itu tidak mengganggu orang-orang yang memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki akses ke makanan dan air – terutama mereka yang berada di utara Gaza yang sebagian besar telah terputus dari wilayah kantong lainnya oleh pasukan Israel.
Keadaan mereka di sana tak ubahnya dengan yang pernah dialami Nourhan dan keluarganya. Pada awal serangan Israel di Gaza, yang membuat mereka kehabisan tepung, makanan kaleng, dan sayuran, dan semua toko roti telah dibom, mereka terpaksa mengolah bahan yang terisa, yakni tepung bahan pembuat roti.
“Kami adalah keluarga beranggotakan 10 orang. Jika ada 20 potong roti, setiap orang akan mendapat dua roti dan untuk hari itu Anda bisa menghabiskan semuanya sekaligus atau menghabiskannya sepanjang hari,” kata Nourhan.
Kehati-hatian dalam membuat konten juga menerbitkan ide yang lain untuk unggahan sang adik. Walhasil, video yang diunggah di akunnya itu tak melulu tentang memasak. Banyak video Renad membahas masalah yang dihadapi orang-orang terlantar di Gaza – seperti kekurangan air dan bahan makanan pokok.
“Misalnya, dalam salah satu video tentang topik air bersih, sangat sulit untuk mendapatkannya. Ketika ada suatu kejadian, Renad mencoba menyampaikan dalam videonya,” jelas Nourhan.
Video Renad pada akhirnya menjadi sangat penting. Akun Renad tak lagi hanya tentang anak yang senang memasak tapi juga pesan yang harus diketahui khalayak di luar Gaza. Nourhan menyatakan mereka memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan pesan itu dalam video-video Renad.
“Misalnya, ketika tak bisa memasak sebuah makanan karena bahan-bahannya tidak tersedia, hal itu mencerminkan kenyataan yang kami alami,” kata Nourhan.
Memasak menjadi hiburan bagi Renad. Baginya, kesibukannya membuat konten sedikit bisa mengurangi kerinduannya untuk kembali bersekolah. “Kami terus menghibur diri dengan perasaan ini. Saya berharap perang berakhir dan kami kembali belajar, sungguh. Saya merindukannya,” kata Renad.
Saat negerinya kembali aman, dia berharap bisa mewujudkan mimpinya memiliki restoran sendiri. “Saat dewasa nanti, saya ingin memiliki restoran kecil. Saya ingin meletakkan semua hidangan di sana.”
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor:


